What Would You Do If You Weren’t Afraid?

Jika orang-orang melihat saya, mereka mungkin akan menilai bahwa saya normal dan sehat, seperti pada umumnya. Namun siapa yang tahu, jika dibalik badan ini ada bagian kecil dari otak saya yang sudah tidak berfungsi normal dan bisa tiba-tiba saja shut down?

Saya tidak lahir dengan epilepsy. Penyakit itu muncul saat saya berusia 7 tahun, tak lama setelah abang saya meninggal karena Kanker Otak. Karena penyakit ini, semua yang orang lain mampu kerjakan normal, saya kerjakan dua-tiga kali extra. Bukan, bukan karena tidak mampu. Namun karena otak ini tidak bekerja normal untuk mengingat secara lama. Semua yang saya pelajari dan kerjakan akan hilang lagi karena kejang yang muncul. Supaya pelajaran, pekerjaan, dan rutinitas bisa menempel di kepala, semua harus saya ulang-ulang sampai menjadi kebiasaan.

“What would you do if today is the last day you live in this world?”

Kira-kira itulah yang terngiang-ngiang di kepala saya begitu keluar dari ruang praktek dokter syaraf, sekitar 6 tahun yang lalu. Karena stress kehidupan dewasa (mulai dari pekerjaan, kehidupan personal, dan hal-hal lainnya), epilepsy, penyakit yang saya alami selama lebih dari 20 tahun, menjadi cukup parah. Hampir seperempat dari jutaan syaraf di kepala saya rusak permanen, yang dimana jika saya black out dan kambuh, dokter memvonis resiko brain dead yang sangat mungkin terjadi. Cara untuk bisa untuk tetap hidup adalah dengan meminimalisir stress, banyak pikiran, dan juga physical fatigue.

Saya menangis saat keluar dari ruangan praktek, begitu pula saat sampai di rumah. Di usia yang masih muda—saat itu baru 25 tahun—banyak hal yang masih ingin saya raih. Karir, rumah tangga, travel dengan sahabat, dan impian-impian lainnya. Dengan vonis seperti itu, saya kemudian menyusun bucket list. “Jika hari ini adalah hari terakhir saya di dunia, setidaknya ada satu atau beberapa di bucket list ini yang sudah tercapai. Dengan demikian at least saya sudah mencapai sesuatu,” batin saya.

Hari-hari kembali berjalan normal setelah pertemuan dengan dokter. Masuk kembali ke dunia kerja setelah menyelesaikan S2 di UI, rekan kerja kemudian mengenalkan akan dunia lari. Excited dan takut, saya mencoba ikut. Hanya 5K, pikir saya menyemangati diri. Akan ada banyak orang dan juga panitia, jadi tidak usah khawatir.

Untuk mempersiapkan diri, saya mencoba latihan lari di treadmill dua kali seminggu selama satu setengah bulan. Tidak gampang, namun segalanya mungkin. Sampai harinya tiba, saya begitu gugup, hingga saat lari pun saya menangis. “What if today is the last day? What if I die? What if I finish?”

Saya menyelesaikan 5K pertama saya dengan waktu 40 menit.  Waktu itu bulan September 2012, cuaca hangat dan bersahabat. Saya mencapai garis finish dengan kondisi fit, dan teman-teman sudah menunggu di garish finish. Saya menangis. “I DID IT! I CAN DO IT!!”. Begitu banyak dopamine dan serotonin yang dihasilkan, perasaan bahagia yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Race pertama di September 2012

Saat itu saya mulai berpikir, jika saya bisa lari sejauh 5K dan merasa bahagia saat menyelesaikannya, maka jika saya melakukan lebih semestinya perasaan yang sama juga akan muncul. Sejak itu, saya kemudian menambah porsi latihan. Di tahun yang sama, saya kemudian menyelesaikan 10K dan “naik kelas” ke Half Marathon (21K) dan akhirnya Full Marathon (42K) di tahun 2013. Banyak kupu-kupu di perut saat menyelesaikannya, perasaan yang selalu saya tunggu-tunggu setelah race selesai.

Full marathon pertama di Desember 2013

“What would you do if you aren’t afraid?”

Mulai jenuh dengan lari, seorang teman kemudian menawarkan ikut Triathlon—cabang olahraga renang, sepeda, dan lari—di tahun 2015, beberapa saat setelah saya selesai mengikuti Half Marathon di Bali. Saat itu langsung iyakan—meski sangat minim persiapan. Namun semesta ternyata mendukung. Seorang teman meminjamkan sepedanya, yang lain mengajarkan renang, dan saya mendapatkan pinjaman helm di hari H! Such blessings in disguise…

Keluar paling akhir dari kolam renang, kaki jelly saat lari, ternyata tidak jadi alasan untuk tidak melanjutkan Triathlon. Rasa senang yang begitu meluap-luap membuat saya ingin mencoba memperbaiki lagi performance di Triathlon. Akhirnya teman-teman lari dari grup alumni ITB—G10 Runners—kemudian mengajak latihan bersama untuk race berikutnya di 2016. Berkat komunitas ini pulalah akhirnya saya memberanikan diri mengikuti long distance triathlon: IRONMAN 70.3 di Bintan—satu mimpi yang saya tulis di bucket list 6 tahun yang lalu.

Triathlon pertama di September 2015

“The race always hurts. Expect it to hurt. You don’t train so it doesn’t hurt. You train so you can tolerate it.”

Persiapan menuju IRONMAN 70.3 bukanlah hal yang gampang. Untuk bisa menyelesaikan renang di laut sejauh 1,9K, sepeda sejauh 90K, dan berlari sejauh 21K, butuh latihan persiapan minimum 5 bulan. Porsi latihan yang terbagi empat (renang, sepeda, dan lari, ditambah strength training agar core, kaki, dan tangan tetap kuat saat berolahraga lama) selama minimum 10 jam seminggu membuat badan harus tetap fit. Asupan makanan dan jam istirahat menjadi sama pentingnya dengan porsi latihan 10 jam. Momen saat saya keluar dari ruang praktek dokter 6 tahun yang lalu muncul lagi di benak saya. “Bagaimana jika saya fatig dan jatuh saat latihan? Bagaimana jika saya black out dan kambuh?” dan semua pertanyaan-pertanyaan negatif muncul. Tangisan dan ketakutan 6 tahun lalu muncul kembali.

Group training banyak membantu saya tidak hanya dalam latihan, namun juga menjadi support group saat ada yang tertinggal karena kesibukan baik di pekerjaan maupun masalah pribadi. Tidak setiap hari adalah hari baik untuk latihan, karena bagaimanapun saya berusaha agar badan fit, sakit ini kerap kambuh. Ada saat-saat dimana saya harus skip dari sesi latihan karena terlalu capai ataupun black out sempat menghampiri. Namun berkat group training pula lah saya bisa jadi meminimalisir hal tersebut. Mental support, sharing nutrisi, dan juga latihan bersama sangat membantu dalam persiapan diri.

IRONMAN 70.3, dimana peserta berenang 1.9K, bersepeda 90K dan lari 21.1K 

“I can do all things through Christ who strengthens me. (Phil 4:13)”

20 Agustus 2017 jadi tanggal untuk pertama kalinya saya menuntaskan IRONMAN 70.3. Dengan peta yang cukup berat—berenang di pinggir Teluk Lagoi, rute sepeda yang penuh dengan tanjakan tinggi dan angin laut yang kencang, dan berlari pada saat matahari sudah di atas kepala—saya mencoba menyelesaikan tiga cabang olahraga ini. Semua ketakutan dan pikiran negatif lainnya pelan-pelan hilang saat akhirnya saya menceburkan diri di laut untuk memulai race.

Saya menyelesaikan IRONMAN 70.3 dalam 8:31 jam. Semua perasaan—bahagia, terharu, gugup, sedih—campur aduk menjadi satu saat mencapai garis finish. Rasa lelah dan pegal selama 8 jam tiba-tiba hilang, fatigue pun tidak muncul sama sekali setelah race selesai. Saya berhambur dalam kebahagiaan finish line bersama teman-teman. Dopamin dan serotonin tidak henti-hentinya meluap hingga beberapa hari kemudian.

Christine berhasil menyelesaikan IRONMAN 70.3 pertama di Agustus 2017

Namun tidak sedikit orang-orang yang mencibir dan menyanggah kepada penderita epilepsy seperti saya untuk mengikuti endurance sport seperti ini. Hal ini justru semakin membuat saya kuat dan semangat, bahwa semua keraguan akan kekuatan fisik itu bisa saya tepis.

Endurance sport seperti IRONMAN 70.3 sebenarnya tidak melulu mengenai kekuatan fisik. Dengan jarak yang jauh (total 70.3 mile = 113K) dan waktu yang panjang (maksimum 9 jam), peserta juga sangat diuji mentalnya. Banyak yang memulai, tidak sedikit yang tidak mampu menyelesaikan. Rasa takut, tidak percaya diri, dan kekhawatiran yang lain kadang lebih menguasai diri dibanding kemampuan badan. Selama training pula lah, hati dan pikiran harus dilatih supaya positif dan keep mindful sampai race day. Cara paling mudah untuk melatih soft skill ini adalah finding your inner circle and creating positive vibes within you.

Lewat IRONMAN 70.3 saya juga belajar banyak soal humility. Masalah yang dihadapi selama persiapan menuju race tidak hanya saya, namun juga teman-teman yang lain. Kewalahan dalam membagi waktu antara pekerjaan, rumah tangga, dan latihan; kesusahan untuk memulai kembali latihan setelah sakit parah dan cidera karena kecelakaan, dan hal-hal lainnya membuat saya lebih memahami kondisi teman-teman yang lain dan tidak menilai tanpa mengetahui cerita di belakangnya.

Saya juga belajar untuk mencintai badan sendiri. Epilepsy hanya kerikil kecil dalam perjalanan kehidupan, yang seharusnya bukan jadi kekhawatiran utama saya. Bagaimana menjaga badan ini supaya terus mampu memberikan apa yang saya mimpikan—lewat olahraga, travelling, atau bahkan kemampuan untuk kerja keras—itulah yang harus saya utamakan.

Jika lewat endurance sport saya tidak belajar apa-apa, mungkin saya harus punya satu kehidupan lagi untuk belajar segalanya.

“People fighting old age, illness and disability, those recovering from horrific injury, others simply wrestling with the demands of a day job—those are the heroes of IRONMAN.” (Chrissie Wellington, from the book A Life Without Limits: A World Champion’s Journey)

Penulis: Christine Siagian
Editor : Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *