The Strongest Smile

Hidup selalu punya kuasa untuk memaksa kita menjalaninya. Tidak peduli berapa rencana utama dan mungkin puluhan tambahan rencana cadangan lainnya yang telah kita susun, hidup selalu punya cara untuk memaksa kita menjalani apa yang telah digariskan. Bagi saya, cara masing-masing orang menerima dan menghadapinya adalah bagian dari pembelajaran itu sendiri. Mungkin, di saat kita memilih untuk menerima dan menjalaninya sebaik yang kita bisa, di titik itulah kita menjadi pribadi yang kuat. Tapi menerima bukanlah hal yang mudah. Di balik semua kekuatan dari orang yang kita nilai sebagai seorang pribadi yang super, ada banyak tangis tak terdengar, luka yang tersembunyi, harapan yang hancur, hati yang patah, dan sahabat-sahabat yang hebat.

Saya biasa dipanggil Lita oleh teman-teman dan biasa dipanggil Ade oleh keluarga di rumah. Bisa ditebak saya punya kakak, satu orang perempuan, dan tidak punya adik. Masa kecil saya normal seperti anak lainnya, sampai saya berumur sekitar 4-5 tahun. Mungkin bagi kebanyakan anak era 90-an, tahun 1997 akan diasosiasikan dengan berita-berita yang isinya penuh dengan demo, meski saat itu kita belum paham. Bagi saya, tahun 1997 adalah tahun saya berkenalan dengan penyakit Ibu. Ibu didiagnosa mengidap tumor otak dengan jenis Oligodendroglioma.

Kasus Ibu tergolong menarik, bahkan bagi dunia kedokteran, karena tumor Ibu menempel persis di bagian tengah otak meski agak lebih condong ke arah sebelah kiri. Hal ini menyebabkan Ibu bisa tiba-tiba mengalami kejang-kejang (seperti orang Epilepsi). Seringnya, saat sadar, ia akan sedikit linglung untuk beberapa menit. Bisa dimulai dari tiba-tiba ngomong Bahasa Sunda yang sangat halus, bisa lupa ada di mana, bisa ingat sama orang yang sebenarnya sudah tidak ada, atau hal lainnya. Penyakit Ibu membuatnya harus mundur dari pekerjaannya dan mulai keluar masuk Rumah Sakit, Ibu juga harus terus menemui berbagai dokter dan melalui serangkaian tes yang seakan tidak pernah berakhir, hanya untuk mencapai pada kesimpulan bahwa tidak ada tindakan medis yang dapat dilakukan untuk kondisinya pada saat itu. Bahkan, hasil MRI Ibu pernah dibawa ke beberapa konferensi kedokteran internasional. Satu yang pasti saat itu adalah keadaan Ibu masih bisa terlihat seperti orang sehat jika dilihat dari luar. Hal itu sudah merupakan keajaiban tersendiri, mengingat menurut pendapat ahli medis, Ibu seharusnya sudah berada di tahap vegetative.

Dari tahun 1997-2007, saya tumbuh besar melihat Ibu saya berjuang untuk menerima penyakitnya, berjuang untuk menerima kondisinya yang tidak lagi sama seperti dirinya yang dulu. Saya juga harus melihat Ibu berpindah dari satu tempat pengobatan alternative ke tempat lainnya, belajar bagaimana harus bersikap saat Ibu sedang kejang di rumah saat Bapak tidak ada di rumah, dan juga saya belajar menemani Ibu saya keluar masuk rumah sakit untuk melakukan MRI serta treatment-treatment yang bahkan tidak saya pahami. Yang belakangan ini membuat rumah sakit sudah seperti taman bermain bagi saya.

Bab pengantar mengenai belajar menerima itu saya tutup di tahun 2007. Ibu akhirnya pasrah dan menerima bahwa ia memang sakit dan kondisinya tidak akan lagi sama, dan ia memilih untuk menjalani hidupnya yang sekarang dengan sebaik-baiknya. Di tahun itu pula dokter spesialis bedah syaraf yang menangani Ibu dari tahun 1997, Dr. Benny, menghentikan semua obat yang selama ini Ibu minum. Hasil MRI terakhir menunjukkan tidak adanya pembesaran ukuran tumor, malah ada kecenderungan mengecil. Di detik itu, saya tahu bahwa hidup terkadang hanya meminta untuk diterima apa adanya.

***

Bab selanjutnya dibuka pada tahun 2014. Tujuh belas tahun setelah diagnosa pertama Ibu, ukuran tumor Ibu membesar dan menekan otaknya hingga Ibu harus menjalani operasi pengangkatan tumor. Karena letaknya yang unik, tumor tersebut hanya dapat diangkat sekitar 50%. Walau begitu, tidak usah membayangkan hal yang menakutkan, karena bahkan sehari sebelum operasi saat beberapa saudara Ibu datang dan menangis mendengar kondisi ibu, Ibu malah tertawa menenangkan beliau-beliau dan menjelaskan dengan semangat mengenai rencana operasinya. 7 hari setelah operasi, kesehatan Ibu pulih hampir 100% dan Ibu bisa pulang ke rumah dengan penuh tawa. Dr. Benny hanya pernah menepuk punggungku dan berkata, “Semangat Ibumu, dan senyumnya, mengalahkan semua kasus yang pernah saya tangani.”

Jika saat itu saya pikir saya telah belajar bahwa menerima itu seperti apa, ternyata bab untuk saya baru saja disiapkan.

Di tahun 2016, sudah waktunya saya untuk serius mewujudkan salah satu mimpi saya; sekolah di luar negeri. Mimpi yang ternyata juga adalah mimpi Ibu. Ibu bukan orang yang senang menuntut, dan ia baru bicara bahwa salah satu mimpinya adalah punya anak yang menjadi lulusan sekolah luar negeri setelah saya mendapat sekolah dan beasiswa.

“De, makasih ya, sayang, Ibu dari dulu selalu berdoa kalo salat, supaya punya anak yang bisa kuliah di luar negeri, jadi lulusan luar negeri. Soalnya dulu Ibu nggak sempet wujudin mimpi Ibu. Alhamdulillah sama Allah dikabul, makasih ya, Dek.”

Di detik itu, saya hanya tersenyum dan melanjutkan makan siang. Menyesal. Mengapa waktu itu tidak saya hampiri dan peluk Ibu. Setidaknya berterima kasih atas doa beliau yang tidak pernah putus hingga saya bisa mengetik cerita ini di Melbourne, tepat setelah saya menyelesaikan materi untuk kelas besok. Iya, di Melbourne. Melalui doa Ibu, saya sekarang ada di kota ini untuk mendapatkan gelar Master of Laws.

Lita dan Ibunya saat Solat Ied

Pada akhir tahun 2016, tidak berapa lama setelah saya lolos seleksi beasiswa, saya mengundurkan diri dari tempat kerja saya atas permitan Ibu agar saya bisa menghabiskan sisa beberapa bulan sebelum keberangkatan pada bulan Februari berama keluarga. Dua hari sebelum Natal, Ibu masuk rumah sakit. Hasil MRI menunjukkan bahwa tumor Ibu kembali membesar dan kini sudah menutupi lebih dari setengah otak kirinya. Operasi adalah satu-satunya cara untuk kembali mengangkat tumor Ibu  dicurigai mengganas. Karena satu dan lain hal, rencananya operasi akan dilakukan beberapa hari setelah tahun baru. Keputusan itu datang bersamaan dengan kabar bahwa Student Visa saya yang semestinya untuk keberangkatan Februari, tertunda, sehingga keberangkataan saya digeser sampai bulan Maret. Konsekuensinya? Saya harus mundurkan jadwal kuliah ke bulan Juli 2017. Rasanya? Mimpi dan berbagai ekspektasi saya hancur, patah hati pun sepertinya tidak cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya saya rasakan saat itu. Yang saya lakukan? Menelan semuanya lalu kembali tersenyum dan menyemangati Ibu.

Pergantian tahun ke tahun 2017 saya habiskan berdua bersama Ibu. Kami menyaksikan kembang api yang berkilau meriah melalui jendela rumah sakit. If only I knew it would be our last fireworks, I’d buy all the fireworks in the city, just because.

Dikarenakan adanya komplikasi di paru-paru, sekitar tanggal 3 Januari 2017 Ibu pulang ke rumah dan diharuskan untuk terapi dengan obat selama 12-14 hari sebelum kembali ke rumah sakit dan melakukan persiapan operasi. Pertengahan Januari 2017, Ibu masuk ke rumah sakit untuk persiapan operasi dengan kondisi yang tidak terlalu baik. Motorik kanannya sudah lumpuh, seperti orang stroke kalau ada yang ingin mencoba membayangkan. Hanya, kemampuan verbalnya masih berfungsi 100%. Senyumnya masih selalu ada, meski lebih banyak dalam diam dan tanpa canda yang biasa ia lontarkan. Total hari Ibu ada di rumah sakit adalah 38 hari, sesuai dengan total hari yang saya habiskan di kamar yang sama dengan Ibu, tanpa kami berdua menginjakkan kaki pulang. Kami hanya berpisah selama 13 hari saat Ibu berada di ICU dan saya tidur di ruang tunggu ICU. Total malam yang saya habiskan tanpa tidur adalah sekitar 37 malam.

Saya selalu baru bisa tidur setelah salat Subuh. Kemudian, rutinitas pun saya lakukan; bangun sekitar pukul 6, menerima tamu, menjelaskan kronologis penyakit Ibu dan di tahap apa ia sekarang, tersenyum, menguatkan mereka serta bersosialisasi hingga mendekati jam makan malam, membeli makan malam, mencium tangan Bapak saat beliau akan pulang, kemudian diakhiri dengan menghabiskan waktu hingga Adzan Subuh keesokan harinya dalam ribuan kata melalui platform chat dengan beberapa sahabat saya, dalam barisan kalimat yang saya kirimkan ke orang yang saya percayai, dalam banyak kata yang terucap melalui bisik saat sahabat saya memilih untuk menelpon dan menemani saya hingga subuh, dalam helaan napas meski dibentang jarak di malam pertama ibu dinyatakan koma, dan dalam senyum yang hanya bisa saya lemparkan ke Bapak saat mengejek saya yang baru jam 10 pagi tapi sudah mengantuk.

Di tengah keadaan Ibu yang sedang ada di ICU, kakak saya memilih untuk pindah bersama anaknya, mengikuti suaminya yang sudah terlebih dahulu tinggal di Jakarta. Meninggalkan saya dan Bapak di Bandung. Pertanyaan pun semakin banyak terlontar. Kejadian ini mengajarkan saya bahwa seringkali di balik senyum yang terlihat ringan, tersembunyi banyak air mata yang tertahan. Di selipan rangkulan Dr. Benny yang mengajak saya masuk bersamanya ke ICU meski diluar jam jenguk, ada keinginan untuk memeluk beliau dan menangis saja disana sekencang-kencangnya. Untungnya, tidak ada satupun yang saya lakukan kecuali kembali tersenyum; hal yang paling Ibu sukai, hal yang masih ia lakukan bahkan saat terbaring di kasur rumah sakit di rumah kami, saat sedang disuapi masakan saya dan Bapak, dan saat saya menggenggam tangannya sembari membacakan Al-Quran disampingnya.

Senyum yang masih bisa ia berikan pada kami saat ia meninggalkan kami semua dalam hening di suatu pagi, di hari ke-13 sejak ia kembali ke rumah. Ia pergi meninggalkan pelajaran “menerima” yang paling berat, yang hanya bisa saya amini di penghujung hari saat saya memeluk Bapak dengan erat di pusara Ibu.

Di sini, dalam perjalanan mewujudkan mimpi Ibu dan mimpi saya, satu penerimaan lagi yang harus saya amini. Bahwa raga Ibu tidak lagi bisa dipeluk di penghujung masa akademik saya nanti. Bahwa saya tidak bisa lagi berlari lalu berteriak padanya dalam balutan toga, “Mom, mission accomplished!”. Bahwa hidup di titik ini… hanya menuntut untuk kembali dijalani. Bahwa masih ada Bapak yang bisa saya peluk dengan erat, 10 bulan lagi saat program pendidikan ini selesai. Masih ada Bapak yang harus saya buat bangga telah membesarkan saya. Masih ada Bapak yang sedang sama-sama belajar untuk menerima bahwa jarak kami dan Ibu saat ini, hanya sejauh kalimat dalam doa.

Penulis: Nurulita R. Tyas
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *