Go Big or Go Home?

Semua berawal dari keputusanku yang cukup impulsif untuk melanjutkan studi keluar negeri. Kenapa harus keluar negeri? Karena saat itu, aku sangat pusing menghadapi sekian masalah di hadapanku, dan aku pikir, melarikan diri keluar negeri bisa menjadi fresh start untukku. Saat itu aku jobless.  Pada akhir tahun 2014, kondisi oil and gas mulai menurun, dan aku yang bekerja sebagai karyawan outsourcing di salah satu perusahaan gas milik negara harus di-release karena perusahaan sedang menghemat pengeluaran sehingga kontrak aku tidak bisa diperpanjang. Dan lagi karena aku cukup picky dalam memilih pekerjaan, alhasil, hampir setengah tahun aku menganggur.

Dengan kondisi seperti itu, pada tahun awal tahun 2015, aku memantapkan diri untuk mulai aplikasi Sekolah S2 beserta beasiswanya. Untuk dapat beasiswa, diperlukan IPK yang bagus, tetapi karena IPK-ku kurang, aku berstrategi untuk terlebih dahulu mendapatkan surat penerimaan dari Universitas yang kuinginkan, sebelum mendaftar beasiswa. Alhamdulillah,  aku diterima di University of Leed, UK, dan setelah proses maju-mundur, pada akhir tahun itu akhirnya aku mendapatkan beasiswa dan resmi bisa melanjutkan studi pada September 2016.

Saat aku memberitahu keluargaku tentang berita ini, aku mendapatkan reaksi yang berbeda-beda. Dibalik suka cita mereka atas keberhasilanku ini, mereka menyimpan rasa khawatir akan rencana studiku selama satu tahun di UK. Aku ini adalah anak paling kecil di rumah. Aku hanya pernah pergi jauh dari rumah untuk waktu yang cukup lama saat aku kuliah S1 di Bandung, itu pun dengan beberapa kasus bolak-balik opname karena typhoid. Mama sangat khawatir dan takut aku tidak bisa survive hidup sendirian di UK. Ya wajar saja sih beliau bisa berpikiran seperti itu, karena aku memang bisa dibilang manja, anak mami, dan satu-satunya skill urusan rumah tangga yang bisa aku lakukan hanyalah membersihkan kamar.

Sebenarnya aku juga punya kekhawatiran untuk meninggalkan Mama. Mama punya penyakit Diabetes Mellitus Tipe II dan Hepatitis C, sehingga sejak tahun 2008, Mama harus menyuntikkan insulin setiap sebelum makan, tiga kali sehari. Hari-hari terakhir aku di Jakarta sebelum berangkat ke UK pun dipenuhi dengan antar-jemput Mama ke RSCM, cek lab, kontrol, dan lain sebagainya. Namun, hasil lab Mama yang terakhir sebelum aku berangkat menunjukkan bahwa gula darah Mama saat itu, sehingga akupun merasa lebih lega meninggalkan mama.

Nadia dengan kedua orang tuanya di Bandara sebelum keberangkatan ke UK

Hari-hari pertamaku di UK menyenangkan, namun ini tidak berlangsung lama. Pada senin pagi, dua minggu setelah perkuliahan mulai, aku mendapati banyak notifikasi groupchat keluarga di handphone ku—isinya, mengabarkan Mama sakit dan dirawat di IGD. Walau begitu, saat itu aku belum khawatir, karena memang kami semua sudah terlatih dan terbiasa dengan riwayat Mama yang tiap sebentar keluar-masuk IGD RSCM. Sehingga pada pagi itu aku melanjutkan kegiatan perkuliahan seperti biasa, dimana aku sedang ada jadwal presentasi untuk kelas. Namun saat aku sedang sibuk mempersiapkan presentasi, aku mendapat telepon dari kakakku, bahwa Mama terkena stroke dan ada pendarahan di otaknya, sehingga harus secepetnya dioperasi.

Di depan ruang kelas, air mata terus bercucuran membanjiri kedua pipiku. Namun aku tidak punya pilihan selain tetap kuat dan menyelesaikan presentasi. Segera setelah giliran presentasiku selesai, aku izin keluar kelas untuk video call dengan keluargaku di Jakarta. Melalui video aku melihat tubuh Mama terbaring tak berdaya di atas kasur IGD, masih mengenakan seragam mengajarnya hari itu. Ternyata pagi itu, Mamaku yang seorang Guru Fisika di salah satu SMA Negeri di Jakarta, kejang kemudian pingsan setelah upacara. Melihat sosok Mama yang  pucat dan tanpa sehelai rambut di kepalanya, hatiku hancur.

Pada hari berikutnya, Mama dioperasi untuk mengobati pendarahan di otaknya. Namun setelah tindakan, keadaan Mama terus memburuk. Selama 18 hari, Mama tidak sadarkan diri dan terbaring di ruang ICU. Dan selama masa itu aku sungguh ingin pulang ke rumah, untuk ada bersama keluargaku untuk menjaga Mama. Atau hanya untuk sekedar mengusap tangan Papa, menenangkan hati beliau. Atau memeluk kedua kakakku erat-erat.

Satu bulan berlalu, dan tidak ada progress yang cukup signifkan dengan kondisi kesehatan Mama. Bahkan, pihak rumah sakit sudah menyiapkan pertemuan antara tim paliatif dengan keluarga kami. Dari penjelasan kakakku, yang aku pahami adalah saat itu pihak rumah sakit sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan keluarga disarankan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien karena penyakit yang diderita bersifat tidak bisa disembuhkan. Tim paliatif ini bertujuan untuk mempersiapkan keluarga pasien akan kemungkinan yang terburuk.

Aku menelepon Papa sambil menangis, Aku ingin pulang, aku ingin bertemu Mama. Yang kemudian dijawab, “Kamu belajar yang benar di sana, nak, kamu bantu doakan Mama saja ya. Kita semua disini jagain Mama. Kalau nanti sudah libur semester kamu baru boleh pulang. Pantang pulang sebelum menang, Nak.”

Itu lah yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tuaku sedari kecil. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Apapun konsekuensinya, tanggung jawab yang sudah diemban harus tetap dijalani dan dituntaskan.

***

Dalam masa-masa itu, hariku dipenuhi dengan lamunan. Walau aku berada di Leeds, pikiranku tak tenang dan sering mengembara ke Mama dan rumah di Indonesia. Namun pada suatu sore, saat aku sedang berdiri di bus stop untuk pergi ke pusat kota Leeds, dalam lamunan mataku menangkap sebuah papan reklame dengan tulisan besar-besar, Go Big or Go Home? Tulisan itu rasanya seperti tamparan buatku. Sejak mendapatkan berita bahwa Mama jatuh sakit, aku sudah menimbang-nimbang untuk menunda studiku dan untuk mengemas barang-barangku, pulang. Namun kalimat sederhana itu menyadarkan aku to keep going, to have a little faith, that this too shall pass because God will never place a burden on those who can’t carry its weight.

Aku pun mulai mengumpulkan kembali sisa-sisa semangatku untuk melanjutkan Semester 1 dengan lebih baik. Kalau awalnya aku sangat menutup diri dari teman-teman di UK, aku akhirnya mulai membuka diri perlahan sampai akhirnya aku memiliki inner circle—teman-teman dari Indonesia yang membuat Leeds terasa a bit like home. Di kelas, aku juga mulai bisa fokus dan konsentrasi mengikuti pelajaranku. Entah bagaimana aku berhasil menyelesaikan laporan, esai, dan tugas besar yang tadinya rasanya sangat mustahil untuk aku selesaikan. Setelah semester berakhir, Desember itu aku pulang ke Indonesia.

 Nadia dengan teman-teman dekatnya

***

Di rumah, kamar Mama dan Papa yang kukenal telah menghilang, berganti kamar yang sudah disulap layaknya kamar rawat di rumah sakit. Tempat tidur king size yang biasa menjadi tempat kami bersenda gurau digantikan oleh kasur rumah sakit. Di sekitar kasur ada tabung oksigen, dan juga beberapa peralatan kedokteran yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa namanya. Mamaku terbaring di sana, tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya saat berangkat di bandara, dan hidungnya terhubungkan dengan selang untuk makan karena Mama masih tidak bisa makan lewat mulut seperti orang sehat lainnya. Aku membelai tangan kanannya dengan lembut, mencium keningnya, dan tangisku pecah sejadi-jadinya. Mama tidak merasakan kehadiranku di sisinya. Saat itu, kondisi Mama setengah sadar. Ada hari-hari dimana Mama dapat mengenali wajahku dan sebuah senyum merekah di wajahnya. Namun, di hari-hari lain, untuk bisa membuat pandangannya fokus padaku dan berkomunikasi dengannya saja terasa sangat sulit.

Setelah menghabiskan waktu dua minggu di rumah dan melihat kondisi Mama yang masih belum stabil, kembali ke UK untuk melanjutkan Semester 2 terasa jauh lebih berat. Namun lagi-lagi, aku meyakinkan diriku untuk tidak menyerah di tengah jalan. Aku harus menyelesaikan studiku. Tinggal setengah jalan lagi.

***

Aku kembali ke Leeds dengan determinasi yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku mencoba menata hidup akademik dan non-akademik dengan seimbang. Aku mencoba menyisihkan waktu untuk bergaul dengan teman-teman dan juga aktif berorganisasi. Nilaiku menjadi memuaskan. Namun masih ada satu langkah lagi yang tersisa untuk mendapatkan gelar master, yaitu disertasi.

Proses pengerjaan disertasi ini rasanya adalah fase terberat selama perkuliahan masterku. Pada awalnya, aku sangat senang dan excited karena mendapatkan tema disertasi yang sesuai dengan passion-ku, terlebih lagi, dosen pembimbingku pun juga sangat ahli dalam bidangnya. Namun ternyata, keberjalanannya tidak semulus itu. Setiap kali selesai bimbingan, aku rasanya seperti babak belur, selalu dijatuhkan, dan dikritik habis-habisan oleh supervisor-ku yang perfeksionis.

Nadia, dengan jilbab putih bersama teman-temannya di Leeds 

Aku merasa usahaku selama ini sia-sia. Kerja kerasku untuk mendapatkan nilai bagus di modul-modul lainnya terasa tidak ada artinya. Namun akhirnya,aku mencoba mencari bantuan. Aku menghubungi co-supervisor-ku, menghubungi sahabatku di Jakarta yang juga bekerja sebagai dosen untuk membantuku, baik itu untuk diskusi ataupun teknis pengerjaan disertasi. Memang kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Setelah usaha mati-matian, akhirnya, pada saat aku memberikan draft kepada supervisor, beliau tersenyum.  All those sleepless nights dan hari-hari yang kuhabiskan di perpustakaan rasanya terbayar sudah. Hal ini pun semacam menjadi turning point dalam penulisan disertasiku, and it is all uphill from here. Pengumpulan disertasiku di hari menjelang deadline adalah chapter penutup yang sangat menyenangkan dalam perjalanan studi masterku.

***

Mungkin saat ini, I may not as big as Taylor Swift, penyanyi favouritku yang juga seusia denganku. Di usia yang sama, dia sudah mendapatkan banyak penghargaan atas karier musiknya. Sementara aku, hidupku begini-begini saja. Tanpa pencapaian yang berarti. Aku hanya kuliah di Teknik Lingungan ITB, yang bagi sebagian orang mungkin dianggap kurang populer.  Namun jurusan ini merupakan pilihan pertamaku dan jurusan ini jugalah yang merupakan batu loncatan awal dalam meraih mimpiku, dari mulai bekerja di organisasi internasional hingga mengecap pendidikan pasca-sarjana di Inggris Raya. Mungkin juga, bagi sebagian orang berkuliah di luar negri, merupakan hal yang biasa saja. Namun, bagiku ada rasa kebanggaan tersendiri untuk bisa berangkat dengan beasiswa—hal yang bisa membuat orang tuaku bangga,  karena ini adalah yang pertama kalinya dalam keluarga kami.

Bagiku, pencapaian bukan mengenai perbandingan apa yang telah aku dapatkan dengan apa yang orang lain punya, namun yang penting bagiku adalah aku harus bisa menjadi diri yang jauh lebih baik dari versi diri yang sebelumnya. Mungkin memang aku manja, but my Mama didn’t raise a quitter, that I have come a long way to win the battle to get an Master Degree.

Aku pulang ke rumah mendapati kondisi Mama yang kian membaik. Aku pulang ke rumah berhasil menyelesaikan studi masterku dan sekarang tinggal menunggu jadwal wisuda. Aku pulang ke rumah dengan kondisi bisa mengurus diri sendiri. Menurutku, kata-kata di papan reklame di sudut Kota Leeds itu seharusnya bisa direvisi, because its not either go big or go home, its go big and go home.

I am home, and I am bigger than I was before.

Penulis: Ashri Nadia
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *