Arti Sebuah Kolaborasi

Tara dari Woop.id, Asih dari ceritaperempuan.id dan Ria dari Googaga

 

Banyak sekali alasan mengapa saya ingin sekali woop.id melakukan kolaborasi bersama ceritaperempuan.id yang bersama juga dengan Googaga untuk mengadakan Sesi Berbagi “Bicara Jujur Mengenai Post Partum Depression” di Bandung dan Jakarta lalu. Saya akan mencoba menjelaskan sedikit demi sedikit, tapi dengan singkat.

***

We acknowledge that great progress has been made when it comes to the emancipation of the Indonesian women and women across the globe. In most parts of the world, women are free to obtain higher education, aspire to become top leaders in business, and become political figures in our society. Throughout the years, our mindsets have undeniably taken progressive steps toward the right direction, but WE STILL HAVE A LONG WAY TO GO.”

Becoming Unstoppable (Maria Rahajeng & Elizabeth Rahajeng)

***

Sebagai perempuan, saya sudah pernah mengalami yang namanya catcalling, pelecehan seksual, diskriminasi gender, body shaming, stress karena berbagai masalah dalam pernikahan, tekanan-tekanan internal maupun eksternal dalam menjadi seorang ibu, dan sebagainya. Pada masa-masa tersebut, saya semakin menyadari, ternyata ada yang salah dengan cara dunia memperlakukan perempuan maupun laki-laki. Ini pula yang membuat sebagian besar laki-laki di dunia ‘cacat’—anti mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak karena selama ini diajarkan bahwa hal-hal tersebut adalah tugas seorang perempuan.

Mengutip beberapa kalimat dari buku Becoming Unstoppable yang baru saja diluncurkan Maria Rahajeng dan Elizabeth Rahajeng di atas, masih panjang perjalanan kita dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia maupun di dunia. 

Perjalanan saya memperjuangkan pemberdayaan perempuan dimulai sejak saya diterima bekerja di sebuah majalah remaja perempuan. Walaupun awalnya saya mendapatkan pekerjaan sebagai penulis artikel kecantikan dan mode, sifat saya yang kritis terhadap pemberdayaan perempuan membuat saya ditugaskan untuk juga menulis artikel seputar topik tersebut. Akhirnya, saya pun menjadi Wakil Pemimpin Redaksi—di saat tidak ada yang menjabat posisi Pemimpin Redaksi.

Karena satu dan lain hal saya kemudian memutuskan untuk menjalani profesi sebagai pembuat konten untuk media pribadi saya yang berupa blog dan akun media sosial. Sejak tahun 2013 hingga sekarang, saya aktif di media sosial. Saya merasakan sekali bahwa sebagian besar aspek kehidupan perempuan yang diangkat dan digemari di sana—media cetak ataupun online—masih lebih banyak mengenai kecantikan dan mode. Sementara, bahkan ibu dan nenek saya tidak pernah menceritakan kepada saya berbagai ujian yang akan saya hadapi ketika saya menjadi seorang wanita karir, istri, dan ibu di dunia ini. Saya tidak menyalahkan mereka, tetapi saya merasa harus ada seseorang yang mulai menceritakan hal ini; mengedukasi wanita mengenai hal ini.

Bagaimana nasib anak perempuan saya di masa depannya nanti jika tidak ada yang memikirkan ini?

Pertemuan dengan tim ceritaperempuan.id ketika saya menjadi nara sumber acara berbagi dengan tema “Finding Self Worth in Hyperconnected Social Media World” di Jakarta menjadi titik terang untuk saya. Saya menemukan perempuan-perempuan yang juga memperjuangkan hal yang sama dengan saya: pemberdayaan perempuan, dengan sentuhan perasaan yang luar biasa indahnya.

Sebuah perasaan yang selama ini saya tahan karena kerasnya hidup di kota besar dengan berbagai masalah yang menghadang sementara tagihan bulanan tetap harus dibayar.

Bersama Googaga, yang pendirinya juga merupakan perempuan-perempuan hebat, Annisa Sofyan Kuntadi dan Maria Tambunan, yang memperjuangkan kesejahteraan keluarga, saya pun menggandeng tim ceritaperempuan.id untuk berjalan bersama. 

Kolaborasi pertama kami yang merupakan acara berbagi bertema “Bicara Jujur Mengenai Post Partum Depression” telah terlaksana di Bandung dan di Jakarta dua bulan terakhir, dan saya semakin yakin dan berharap untuk dapat terus berkolaborasi dengan ceritaperempuan.id maupun Googaga. Dan, kolaborasi ini tidak berhenti di topik depresi pasca persalinan, tapi topik-topik yang perlu lebih banyak diekspos kepada perempuan untuk membekali mereka, memperkuat mereka dan membantu mereka dalam menjalani kehidupan sebagai perempuan di di dunia. Sehingga, perempuan tidak hanya sekadar menjadi makhluk yang menarik untuk dipandang.

Ini adalah arti kolaborasi kami bagi saya.

 

Penulis: Cinta Ruhama Amelz , COO dari woop.id
Catatan editor:
Tim ceritaperempuan.id sangat berterima kasih dan mengapresiasi para pihak yang selama ini mendukung kami. Bagi ceritaperempuan.id, kolaborasi adalah salah satu cara  dengan banyak pihak yang berbagi semangat untuk mengangkat isu yang jarang didiskusikan dalam masyarakat. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *