Belajar Bersyukur Setiap Hari

Berbicara tentang penyakit mental tidak pernah mudah bagiku. Terutama, dengan banyaknya stigma di masyarakat. Kerap kali saat bercanda dengan teman-teman, salah satu dari mereka menyebut orang lain “stress” atau “gila” dan itu menambah deretan panjang dari alasanku untuk tidak menceritakan kepada orang lain tentang kondisiku. Alasan-alasan itulah yang mengantarkanku pada titik terendah dalam hidupku.

Tiga bulan lalu, psikiater menjelaskan bahwa kondisi yang kualami adalah Bipolar Disorder. Sejak itu, hidupku bergantung pada berbagai obat anti-epressant dan mood stabilizer.

Hidupku tidak akan pernah sama lagi.

 

Ilustrasi oleh tim ceritaperempuan.id

 

Sebelum menempuh jalur medis, aku sering sedih berlebihan tanpa alasan yang jelas. Aku menarik diri dari kehidupan sosial dan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar berhari-hari. Aku tidak ingin berbicara atau menemui siapa pun, tidak ingin melakukan apa pun: aku bahkan tidak makan atau pun tidur. Tanpa kusadari aku menjadi orang yang paling berbahaya bagi diriku sendiri, aku mulai menyakiti diri dan beberapa kali mencoba bunuh diri. Saat depresiku mereda, aku mulai membalut lukaku dengan perban dan mulai berpikir tentang bagaimana menghadapi pertanyaan orang-orang saat mereka melihat bekas lukaku. Mungkin, mereka tidak akan repot-repot bertanya. Hanya dengan melihatnya saja mereka akan tahu kalau aku “gila”.

Lalu pikiran itu mulai membuatku tidak nyaman, aku mulai depresi lagi, menyakiti diri lagi, berusaha bunuh diri lagi, begitu seterusnya, aku terjebak di dalam spiral di pikiranku. Pada saat aku berada pada fase manik, aku akan menjadi sangat bahagia. Tiba-tiba, aku menyadari betapa indahnya dunia ini dengan warna-warninya. Aku menjadi terlalu percaya diri. Aku membelanjakan uangku untuk kebutuhan-kebutuhan yang tidak penting, dan terus menemukan alasan untuk memberikan uang kepada orang lain. Saat itu mereda, aku kembali depresi karena kehabisan uang dan meyalahkan diriku sendiri. Begitu seterusnya.

Aku bangga mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku adalah satu di antara orang-orang spesial yang dapat menjalani hidupnya dengan normal. Bahkan, aku dapat mencapai banyak prestasi, walaupun mengalami gangguan jiwa. Saking bangganya, aku ingin terus menyandang predikat itu. Aku tidak ingin orang melihatku saat aku berjuang melawan depresi atau manik. Aku tidak pergi ke psikiater ataupun psikolog selama berbulan-bulan. Aku selalu mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak apa-apa dan semuanya akan baik-baik saja. Bahwa, aku bisa melewati semuanya sendirian. Bahwa, semua orang memiliki masalah mereka masing-masing dan aku tidak perlu membebani mereka dengan masalahku.

Namun, aku salah.

Saat pasanganku berlutut di hadapanku dan berkata dengan mata berkaca-kaca, “Biarkan aku membantumu”, aku sadar aku salah. Semuanya tidak akan sampai seperti ini jika saja aku berani mengakui kepada diriku sendiri bahwa benar aku mengidap penyakit mental dan benar aku membutuhkan bantuan orang lain untuk melewatinya, bahwa kita tidak harus selalu kuat.

Sampai saat ini, aku masih rutin menjalani berbagai pengobatan dan terapi mental. Aku mengambil cuti dari pekerjaanku selama 2 minggu untuk menenangkan diri dan mulai mengerjakan proyek sosialku untuk membantu digitalisasi usaha kecil dan menengah di daerah tertinggal. Aku menciptakan wadah bernama Code for Good (@codeforgood.id). Rasanya menyenangkan dapat membantu orang lain dengan melakukan hal yang paling aku sukai, yaitu mendesain website dan mengajar ilmu teknologi informasi. Selain itu aku juga memperbanyak membaca, meditasi, olahraga, memasak, melukis. Aku jauh lebih sibuk dari pekerja kantoran tapi pikiranku jauh lebih tenang.

Ada dua hal yang paling membantuku menjadi lebih baik selain obat-obatan dan terapi, yaitu keberadaan teman-teman yang selalu mendukungku. Mereka tidak pernah menghakimiku dengan stigma-stigma apa pun. Aku juga menulis catatan syukur setiap malam, untuk tidak melupakan hal-hal kecil yang membuat hidup kita lebih mudah setiap harinya. Hal sepele seperti “kebetulan jeruk favoritku sedang diskon waktu aku pergi ke supermarket” atau “klinik psikiater sepi waktu aku datang jadi tidak usah menunggu lama”. Aku menuangkan semua hal-hal kecil tersebut dalam catatan syukurku setiap malam. Saat aku melihat catatanku, aku menyadari bahwa ternyata banyak hal yang harus aku syukuri setiap harinya.

Masalah dalam hidupku terasa kecil jika dibandingkan dengan karunia yang aku terima, dan setelah itu hari demi hari terasa lebih mudah untuk dilewati.

Untuk sesama pejuang penyakit mental di luar sana, kalian tidak sendirian. Carilah teman yang bisa kalian percaya dan ceritakan semua keluh kesah kalian kepadanya. Menangislah; kalian tidak harus selalu kuat. Tenangkan diri dengan melakukan hal-hal yang kalian sukai, membuat catatan syukur setiap malam, dan mintalah bantuan kepada tenaga medis, baik psikiater maupun psikolog. Perjuangan melawan penyakit mental memang tidak mudah dan tidak sebentar, tapi kita pasti bisa melewatinya.

 

Penulis: Sekar Langit

 

Catatan Editor:

Bipolar merupakan salah satu mental illness di mana penderitanya memiliki mood yang tidak menetap, atau mood yang terus berubah dalam rentan waktu tertentu. Terdapat dua episode dalam Bipolar Disorder. Pertama, manik (banyak tenaga, sedikit tidur, bahagia sekali, impulsif, berbicara sangat cepat tapi melompat dari satu topik ke topik lain). Kedua, depresi (sedih, kecewa, merasa tidak berarti, menyendiri, tidak banyak bicara, tidak ada energi untuk melakukan aktivitas). Bipolar memiliki 3 tipe, yaitu tipe I, II, dan chyclotimic. Tipe I dominan manik dan sedikit depresi; tipe II dominan depresi sedikit manik, dan chyclotimic itu di mana episode manik dan depresi tidak terlalu dominan. Tipe ini merupakan tipe Bipolar yang paling ringan setelah tipe I dan II.

Seandainya teman-teman ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai Bipolar, mungkin bisa bergabung di salah satu komunitas peduli Bipolar seperti Bipolar Care Indonesia yang juga mempunyai cabang nyata dan komunitas di berbagai tempat di Indonesia. Beberapa Sahabat ceritaperempuan.id yang lain juga pernah menuliskan pengalamannya dengan Bipolar di sini dan di sini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *