Menjadi Sahabat Anak

“Kak, sekarang malem ya?”

“Hah? Nggak kok, sekarang siang, kan lagi makan siang”

“Nggak gitu kak, kalo di Kidzania waktunya malem terus”

“Loh, kenapa gitu?”

“Di sini itu malem terus karena ini kan tempatnya mimpi-mimpi kita. Bisa jadi dokter, jadi pembalap, dan lain-lain…”

“Emang kamu mimpinya jadi apa?”

“Jadi dokter!”

“Jadi guru!”

“Kalau kamu?”

“Hmm,” sambil mikir, “Jadi apa aja deh kak!”

 

Percakapan di atas terjadi sekitar satu tahun lalu ketika saya mendampingi adik-adik Sahabat Anak Manggarai (SAM) dalam acara Wisata Edukasi di Kidzania Pacific Place. Tidak terasa sudah setahun lebih saya bergabung menjadi sukarelawan di SAM. Kedatangan perdana saya yaitu saat acara Buka Puasa bersama adik-adik di Karang Taruna Manggarai. Kesan pertama? Ya ampun banyak banget adiknya! Ricuh!

Apa sih sebetulnya Sahabat Anak? Menurut website resminya, Sahabat Anak adalah sebuah yayasan perlindungan anak yang digerakkan para sukarelawan dalam memperjuangkan terpenuhinya hak anak, khususnya anak marjinal (on the street, off the street, and vulnerable to be on the street) dengan memberikan akses pendidikan gratis, beasiswa, TK/PAUD, sekolah non-formal, perpustakaan, pemberian makanan sehat, penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan, serta advokasi.

Menurut saya, Sahabat Anak adalah tempat saya mencari sahabat baru: adik-adik yang lucu maupun kakak-kakak pengajar yang baik hati di sebuah ruang kelas kecil di seberang Stasiun Manggarai. Adik-adik yang bergabung di SAM pun sangat beragam, mulai dari pra-sekolah hingga SMA. Mereka tinggal di pemukiman padat penduduk di sekitar Stasiun Manggarai

Kali pertama saya mengetahui tentang kegiatan-kegiatan SAM adalah melalui foto-foto yang dibagikan kedua teman di akun Facebook-nya. Mereka telah lebih dulu bergabung sebagai kakak pengajar di kelas Minggu beberapa tahun silam. Sedangkan saya lebih memilih untuk berkomitmen mengajar di kelas Jumat sejak tahun lalu. Ya, SAM memiliki dua kelas reguler yang diadakan setiap minggunya, yaitu pada hari Jumat malam dan Minggu siang.

Kenapa saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam dunia pendidikan anak marjinal?

Menulis dan seni adalah dua hal yang menarik perhatian saya semenjak SMP. Saya pernah bergabung dalam organisasi pers ketika SMP dan kuliah. Pun sudah mencoba bergabung dalam berbagai tim kesenian: paduan suara, vocal group, teater, dan tari tradisional, sejak saya SMP hingga menyelesaikan studi pascasarjana. Semua saya lakukan untuk mengekspresikan dan memberikan pembuktian bagi diri saya sendiri. Namun, banyak momen kontemplasi yang saya lakukan ketika saya merantau di Melbourne dan membuat saya berpikir ‘I’ve done enough for myself, I need to do something for others.

Mengajar, yang juga merupakan kegemaran terpendam saya, membuat saya untuk memilih isu pendidikan anak. Selain itu, pertimbangan lokasi yang cukup dekat dengan rumah dan familiarity karena ada teman yang lebih dulu bergabung membuat saya memantapkan hati untuk memilih SAM.

Seluruh adik di SAM selalu menyambut kedatangan setiap kakak dengan tangan terbuka. Yap, literally tangan terbuka, karena adik-adik yang lebih kecil terkadang menyambut kamu dengan pelukan. Kalau kamu beruntung, akan ada adik yang berbisik di telinga kamu ”Kakak cantik deh hari ini. Aku mau belajar sama kakak ya,” sambil kemudian berusaha duduk di pangkuan kita. Adik-adik yang sudah lebih besar menyambut kakaknya dengan mencium tangan, dan seringkali diiringi dengan curhat “Kak, kak, si ini masa kemarin gini…”

Open hearts, simple talks. Sometimes that’s all we need to end the week.

 

 

Sebuah Pembelajaran

Bergabung dengan SAM tentunya berarti bahwa kita harus menyiapkan sebuah kegiatan belajar yang bermanfaat untuk adik-adik. Namun, berdasarkan pengalaman saya, pembelajaran tidak hanya terjadi satu arah. Bukan hanya adik-adik yang belajar dari kakak pengajar SAM, saya pun turut belajar dari mereka.

Belajar tentang berbagi dan ketulusan.Kita sering diajari bahwa kasih orangtua kepada anaknya tak berbatas. Namun, adik-adik SAM mengajarkan saya bahwa kasih sayang tersebut tak berlaku satu arah. Seringkali, SAM mengadakan acara dan memberikan konsumsi untuk adik-adik, misalnya pada buka puasa bersama, wisata edukasi, maupun kegiatan belajar memasak. Beberapa adik dengan lahap menghabiskan makanan dalam dus yang diberikan kepada mereka. Namun, banyak dari mereka yang hanya memakan sedikit bagiannya. “Kenapa tak dihabiskan?” Begitu biasanya kami bertanya. “Mau makan di rumah saja, bareng emak,” jawab mereka sederhana.

Belajar tentang semangat dan perjuangan. Desember tahun lalu, Jakarta kerap diterpa hujan deras ketika malam hari. Sepulang kerja, sempat surut niat saya untuk datang ke kelas Jumat karena hujan telah rintik dan bertambah deras ketika saya masih di ojek dalam perjalanan ke Manggarai. Sesampainya saya di dekat lokasi mengajar, saya disambut oleh seorang adik yang mengulurkan payung kepada saya. “Kak, ini pake payungnya,” ujarnya bersemangat sambail mengantar saya ke depan ruangan kelas. Bajunya basah kuyup, tapi mukanya begitu bahagia menyambut saya. “Abis ngojekpayung nih kak, sebentar ya saya ganti baju dulu.” Deg. Apalah saya yang seharian hanya bekerja duduk di ruangan ber-AC dilindungi oleh atap gedung tetapi masih sering mengeluh.

Belajar bahwa uang bukanlah kunci semua masalah. Dalam program orientasi yang diselenggarakan untuk seluruh sukarelawan baru, Sahabat Anak mengajarkan saya bahwa memberi uang bagi anak-anak di jalan adalah sesuatu yang tidak baik. Memberi uang kepada mereka berarti membuka lapangan pekerjaan bagi anak di jalan dan menjadi pembenaran bagi orangtua untuk mengirim anaknya ke jalan. Semakin besar jumlah uang yang beredar di jalanan, semakin besarlah kemungkinan seorang anak untuk dipekerjakan di jalan.

Selain itu, saya juga belajar bahwa untuk mendidik, tidak hanya dibutuhkan kasih sayang, tapi juga ketegasan dan konsistensi. Bahwa untuk berharap mereka menjadi pribadi yang lebih baik, kita pun yang pertama-tama harus terus berubah menjadi yang lebih baik. Bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, bakat yang berbeda, yang harus tetap kita hargai. Bahwa untuk menarik perhatian adik tidak perlu dengan berteriak di depan kelas, tapi bisa juga dengan suara lembut dan sebuah gestur yang bersahabat (nah, ini yang saya masih perlu terus belajar, haha).

 

 

Jadi Sukarelawan, kenapa tidak?

Pernah bosen, nggak? Pernah malas mengajar?

Tentu saja. Kelas Jumat SAM diadakan setiap minggu pukul 19.00-21.00. Jam tersebut tentunya merupakan waktu terpadat di mall-mall di Jakarta pada periode weekdays. Banyak sekali godaan untuk pergi bersama teman sekadar untuk makan, nonton bioskop, atau mengobrol dan catch up kehidupan masing-masing. Bahkan, bagi saya terkadang godaannya cukup sederhana: saya hanya ingin tidur di rumah lebih cepat karena seminggu kemarin sudah lembur dan pulang malam terus.

Pernah kesel?

Jelas. Terlahir sebagai anak tunggal membuat saya tidak perlu berteriak atau beradu suara dengan anak lain di rumah untuk mendapatkan perhatian orang yang lebih tua. Namun, di SAM, hampir semua anak terbiasa berteriak, bahkan sekedar untuk mengobrol atau untuk berebut perhatian kakak pengajar. Kalau saya harus beradu suara dengan mereka, jelas saya kalah. Jadi kalau moodsaya sedang bagus, biasanya saya akan diam duduk di depan papan tulis sambil menunggu suara adik-adik sedikit mengecil dan saya bisa berbicara. Kalau moodsedang tidak terlalu bagus? Saya biasanya bersuara agak tinggi sambil bertanya “Mau belajar nggakhari ini? Kalau masih bersuara, kakak persilakan keluar.” Well, efektif untuk beberapa menit. Tapi begitu adik-adik bisa membaca bahwa saya sudah tidak marah lagi, maka BUM! Kelas gaduh lagi.

Lalu, kenapa saya tetap datang?

Pertama, sebagai seorang akuntan, otak saya secara alami selalu melakukan perhitungan. Jumlah waktu komitmen yang hanya 2 jam per minggu dibagi dengan waktu produktif kita selama seminggu (asumsi tidur = 8 jam/hari) = 2 / (7 hari x (24 jam – 8 jam)) = 1.8%. Masa sih menyediakan 1.8% saja waktu kita dalam seminggu untuk orang lain tidak bisa?

Pardon my weirdness using those numbers, but, isn’t it logical?

Kedua, sejak detik pertama kamu menginjakkan kaki di SAM, sejak detik itulah adik-adik akan mengharapkan kedatangan kamu di minggu berikutnya. Adik-adik akan kangen begitu kamu tidak muncul dan bagi mereka janji adalah janji. Jangan pernah berajanji untuk datang di minggu depan jika kamu tidak yakin. Karena percayalah, mereka ingat.

Ketiga, they’re my weekly charger. Mereka adalah selingan hangat bagi saya dari penatnya pekerjaan selama seminggu. Dan terkadang, rasanya menyenangkan jika merasa dibutuhkan oleh orang lain, dalam hal ini tentunya adik-adik SAM (yep, the last one is my selfish reason).

 

 

Banyak teman yang bertanya, apa sih yang dibutuhkan untuk bisa jadi  sukarelawan di sana? Harus bisa apa?

Jawaban dari saya sederhana: sebuah komitmen untuk hadir dan kemauan berbagi untuk adik.

Sedikit kemampuan lebih tentu akan sangat bermakna. Akan tetapi, kehadiran kakak, sudah lebih dari cukup. They need a figure they can look up to. Simpler, they just need a friend to share.

Komitmen itu akan terbayar dengan senyuman bangga adik ketika mereka berhasil melakukan hal tertentu. Tahun lalu, adik-adik kelas Jumat berhasil memenangkan kategori best performancedalam acara unjuk bakat tahunan SAM melalui sebuah tari saman. Mungkin tidak seberapa bagi orang lain, tapi buat saya kebahagiaan terbesar adalah ketika kita bisa mengajak orang untuk sukses bersama-sama.

It was one of my lifetime achievements, and I hope it can be a sweet little memory when they grow up later.

 

Penulis: Desti Maharani
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *