Aiming for a Worthwhile Life

 

“What will you do today if you know you will die tomorrow?”

Selama beberapa tahun terakhir, pertanyaan itulah yang pertama muncul setiap aku bangun pagi.  Pertanyaan itulah yang menentukan bagaimana aku menjalani keseharianku; setidaknya untuk 24 jam kedepan: greet the neighbours, text your long-time-no-see friend, atau memberi senyum manis ke rekan kerja yang sebenarnya sangat menyebalkan. Haha…

Do all things I should do as if today is my last day on Earth, so I can die with no or at least less regret.

Aku lahir dan besar di Jakarta. Setelah berpetualang selama 4 tahun di Bandung untuk kuliah, aku kembali lagi ke Jakarta. Membosankan memang. Tapi alhamdulillah aku diterima di satu perusahaan IT yang melegenda: IBM. Selamanya aku akan berterima kasih kepada IBM untuk banyak hal, yah tentu saja termasuk gaji pertama yang bisa digunakan untuk membeli baju, sepatu, dan skincare yang agak mahal. Hehe…

IBM memperkenalkan sisi berbeda sebuah korporasi besar. Beberapa inisiatif IBM seperti partisipasi dalam restorasi Borobudur, IBM Little Tikes Computers (komputer untuk anak-anak), belum lagi acara donor darah yang rutin diadakan menunjukkan aktivitas sosial merupakan hal yang penting selain revenue bahkan untuk perusahaan sebesar IBM.

Selain itu, IBM secara tidak langsung menunjukkan wajah lain Jakarta yang aku tidak sadari sebelumnya. Berjam-jam terjebak kemacetan memaksaku untuk mulai memerhatikan lingkungan yang aku lewati setiap harinya. Pemulung plastik, pengamen anak-anak, hingga orang-orang yang tidur di dalam gerobak. Yah, Jakarta yang gemerlap memang tidak untuk semua. Masih banyak orang yang terpinggirkan dan yang melihatnya memilih untuk menutup mata.

Pasca mengambil career break setelah melewati tujuh tahun di IBM, aku bergabung dengan Microsoft. And it was another roller coaster career journey for me. Selama bekerja di Microsoft aku berkenalan dengan beragam institusi dan komunitas, mulai dari inkubator untuk startup, komunitas IT, hingga komunitas pemberdayaan perempuan. Walaupun menjalani bidang yang berbeda, mereka memiliki tujuan yang kurang lebih sama: membekali orang dengan ilmu serta mengajak mereka untuk terus selangkah lebih maju.  

IBM mengajarkanku kesadaran sosial, dan Microsoft melengkapinya dengan menunjukkan bahwa begitu banyak pilihan untuk menjalani hidup, terutama yang bermanfaat bagi orang lain.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Aku sadar bahwa fokus untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna terasa lebih menyenangkan, bukan hanya memenuhi milestone standar lahir-dewasa-menikah-melahirkan-mati, atau mengejar standar kehidupan yang dibuat oleh orang-orang yang bahkan tidak peduli dengan kita. Goodbye instagrammable life!

Then, God answered my prayer.

Pada September 2017, aku resign dari Microsoft tanpa tahu rencana selanjutnya. But what is a life without surprises. Hanya berselang beberapa hari, aku dipertemukan dengan The Able Art dan konsep social enterprise-nya. Itu adalah pertama kali aku mendengar istilah social enterprise. Entah ke mana saja aku ini. Pada dasarnya social enterprise adalah suatu konsep di mana sebuah bisnis dijalankan memiliki key performance indicator (KPI) tidak hanya terkait revenue atau profit tetapi juga pengaruh sosial yang ditimbulkan dari bisnis yang dijalankan.

Untuk The Able Art, KPI terkait pengaruh sosial adalah peningkatan kesejahteraan dan juga peningkatan apresiasi terhadap seniman dan hasil karya seni-nya. The Able Art sendiri fokus kepada seniman difabel. Well to be honest I don’t really like to use the word disabled, I prefer to use differently-abled. I think in this world we should believe that we might have shortcomings in certain areas, but God definitely gives us superiorities in other areas.  

Tidak butuh waktu lama untuk akhirnya aku memutuskan untuk berkontribusi dalam The Able Art, dan saat tulisan ini dibuat sudah genap setahun aku bergabung di dalamnya.

Saat aku bergabung, The Able Art baru memiliki dua partner seniman. Perkenalan pertama dengan mereka tentu saja melalui lukisan-lukisan mereka. Kesempatan untuk berkenalan langsung dengan para seniman tersebut akhirnya tiba. Seniman pertama yang aku temui adalah Rodhi, darah muda asal Kendal yang hijrah ke Jakarta bersama ibu dan dua adiknya. Kecelakaan motor yang membuatnya lumpuh justru menjadi titik balik baginya menjadi pelukis yang menginspirasi begitu banyak pemuda dan pelukis muda lainnya. Pelukis kedua adalah Sadikin Pard, pelukis veteran asal Malang yang lihai melukis dengan mulut dan kakinya. Jangan tanyakan bagaimana kualitas lukisannya, Sadikin adalah satu dari sembilan pelukis Indonesia yang tergabung dalam AMFPA, yaitu asosiasi pelukis mulut dan kaki yang berbasis di Swiss.

 

Tim The Able Art bersama Rodhi, seniman dari Kendal

 

Mendengar cerita perjalanan hidup mereka benar-benar merupakan pengalaman yang membuka mata. Indonesia sebagai negara yang belum terlalu kondusif untuk disabilitas menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk mereka, apalagi untuk mereka yang berada di ekonomi yang terbatas. Alhamdulillah saat ini makin banyak gerakan yang peduli, bahkan pemerintah sendiri sudah menetapkan UU yang mendukung disabilitas. Insyaa Allah dalam waktu beberapa tahun kedepan Indonesia akan makin kondusif untuk disabilitas.

 

Septia bersama Sadikin Pard, pelukis veteran asal Malang

 

Di luar interaksi dengan para seniman luar biasa tersebut, aku juga mulai masuk ke lingkaran baru yaitu para penggiat usaha social enterprise. Mengagumkan mengetahui masih banyak orang yang peduli terhadap isu-isu sosial di sekitarnya. Sebut saja Tune Map yang membuat peta digital untuk memudahkan tuna netra, Econfunopoly yang membuat permainan offline untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, atau Puka yang fokus pada pemberdayaan siswa-siswa SLB di daerah Jawa Barat. Buat aku, social enterprise adalah solusi bentuk usaha untuk orang-orang yang ingin membantu orang lain tetapi masih membutuhkan materi untuk hidup (well, not everyone of us born rich, right?), sebuah solusi hibrid antara bisnis dengan dengan misi sosial.

Lalu bagaimana perjalananku dengan The Able Art? Keinginan untuk belajar bisnis sekaligus memberikan arti lebih pada hidup tercapai disini. Tentu saja aku tidak menjalaninya sendirian. Suami istri luar biasa, Tommy dan Thea, yang merupakan founder dari The Able Art memberikan peran terbesar dalam konsep dan eksekusi The Able Art.

Aku belajar mulai dari membuat kesepakatan dengan pelukis partner, mengubah lukisan ke dalam bentuk digital kemudian mendesainnya, membuat kesepakatan dengan vendor-vendor terkait, sales dan marketing, hingga urusan dapur yang memusingkan seperti keuangan. Haha…

But above it all, yang paling menantangku adalah saat membuat narasi terkait para pelukis. Aku harus mengenal siapa mereka dan bagaimana cerita kehidupannya. Terkadang wawancara ulang harus dilakukan untuk memastikan aku benar-benar memahami esensi perjalanan hidup mereka. Satu hal yang aku pastikan adalah untuk setiap narasi yang aku buat bukan cerita menyedihkan yang aku angkat, tapi perjuangan seseorang yang dianggap berbeda oleh standar umum masyarakat. Pada akhirnya kita harus sadar bahwa manusia memang diciptakan berbeda, dan perbedaan tersebut hadir untuk dihargai.

The Able Art sendiri terus berevolusi. Di samping bergabung dengan program inkubasi Rise Inc yang dijalankan oleh Instellar, kini The Able Art juga bekerja sama institusi yang fokus mengajarkan teknik lukis pada anak-anak autis sebagai bagian dari terapi. Lukisan-lukisan mereka yang jujur memberikan warna baru bagi The Able Art.

 

Septia bersama teman-teman Social Enterpreneurnya yang lain di program Rise.inc

 

We can only connect the dots looking back. Those series of events in my past are the things that shaped me in becoming who I am right now. And what is my next plan? Well I’m also excited to know what God has prepared for me. But definitely I will make my life worth as if I will die tomorrow. And I hope you do to. 😊

 

Penulis : Septia Sukariningrum

Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *