3 Buku Peneman Refleksi Akhir Tahun

Tanpa terasa kita sudah menghadapi penghujung tahun, dan tentunya banyak sekali yang kita lewati setahun ini. Mulai dari yang membuat kita tersenyum lebar, hingga yang membuat kita harus menghadapi ketakutan tersendiri. Akan tetapi, sering kali semua momen itu bergerak begitu cepat, sehingga kita tidak memiliki banyak waktu untuk merefleksikannya.

Bagi saya sendiri, penghujung tahun menjadi saat-saat di mana saya sedikit menarik napas panjang. Saya sengaja meluangkan waktu untuk beristirahat sejenak; mengingat kembali apa yang telah saya lakukan tahun ini. Dan, saya selalu membaca buku (lama maupun baru) yang menurut saya bisa menjadi salah satu medium untuk berefleksi. Mengapa buku? Karena, bagi saya, persepsi orang lain dapat membuka pintu baru, terutama jika kepala saya sudah terlalu mumet. Dari semua buku yang saya baca sejauh ini, ada tiga buku yang membawa kehangatan tersendiri dalam menemani saya berefleksi.

 

1. The Life Changing Magic of Not Giving a F**k (Sarah Knight)

Merasa familiar dengan judul bukunya? Jangan aneh, karena Sarah Knight memang terinspirasi oleh The Life Changing Magic of Tidying Up yang ditulis oleh Marie Kondo. Dalam bukunya, Sarah Knight menyampaikan apa jadinya apabila semua yang ditulis oleh Marie Kondo diterapkan tidak hanya kepada benda, tapi juga kehidupan sosial kita. Sarah pun menjabarkan (berdasarkan pengalaman pribadinya juga) cara-cara menghadapi hubungan dengan mereka di sekeliling kita, terutama jika hubungan tersebut membawa dampak yang kurang baik kepada batin kita. Ditulis dengan bahasa yang sederhana dan jenaka, The Life Changing Magic of Not Giving a F**k mengingatkan saya kembali untuk berefleksi kepada setiap hubungan (personal maupun profesional) sehingga saya pun dapat membuat skala prioritas tanpa melupakan kebutuhan saya sendiri sebagai pribadi.

Sarah Knight di TEDx Talks (The Magic of Not Giving a F***) – warning, strong language!  

 

 

2. The Power of Meaning (Emily Esfahani Smith)

Saya membeli buku ini ketika sedang menunggu teman. Saat itu, saya berputar-putar sendirian di sebuah toko buku, kemudian mata saya langsung jatuh kepada The Power of Meaning. Judulnya sungguh menarik. Apalagi, akhir-akhir ini banyak orang terdekat saya membicarakan makna—pekerjaan bermakna, makna hubungan, kehidupan penuh makna, dan makna-makna lainnya. Emily Esfahani Smith, seorang positive psychologist, membuka pembicaraan mengenai makna dengan pernyataan bahwa budaya kita telalu terobsesi dengan kebahagiaan. Ia melihat fenomena tingkat bunuh diri yang tinggi di negara-negara maju yang ‘katanya’ hidup di sana lebih mudah dan bahagia. Maka, muncullah pertanyaan: apakah kebahagiaan cukup ataukah ada hal lebih yang membuat hidup kita lebih baik? The Power of Meaning membawa kita ke diskusi mengenai bagaimana makna memengaruhi jalan hidup kita, dan bagaimana kita sering kali lupa bahwa hidup dibentuk oleh narasi yang dibuat diri kita sendiri.

Emily Esfahani Smith di TED Talks (There’s More Life Than Being Happy) 

 

 

3. How to Fight (Thich Nhat Hanh)

Hingga sekarang, saya tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa memiliki kebijaksaan seperti Thich Nhat Hanh. Kalimat-kalimat yang ia tulis dan ucapkan selalu berhasil membuat saya tertohok, bahkan menitikkan air mata (atau mungkin saya yang terlalu cengeng, ya?). Thich Nhat Hanh adalah seorang biksu berkebangsaan Vietnam dan aktivis perdamaian. Ia telah menulis begitu banyak buku, seperti The Art of Living, Peace is Every Step, dan You are Here. Dalam How to Fight, Thich Nhat Hanh menuliskan bagaimana kita kerap kali ‘dikendalikan’ oleh emosi yang terlalu kuat, sehingga justru tak hanya menyakiti orang lain, tapi juga diri sendiri. Kemarahan, kekecewaan, dan sakit hati tentunya akan banyak kita hadapi dalam hidup ini. Akan tetapi, bukan berarti pula kita harus ‘menyerah’ kepada emosi-emosi negatif yang dibawanya. Walaupun kita tidak punya kontrol terhadap apa yang dipikirkan atau dilakukan orang lain, kita tetap memiliki kendali atas reaksi saya terhadap situasi yang terjadi. Jujur saja, sampai detik ini saya masih belajar untuk tidak berlama-lama larut dalam emosi berlebihan.

 

Oh ya, buku ini ukurannya cukup kecil, sehingga saya sering membawanya ketika bepergian.

 

Nah, bagaimana dengan Sahabat ceritaperempuan.id? Adakah ‘bacaan wajib’ yang menemani momen-momen berefleksi? Ayo berbagi bacaanmu dengan kami, baik melalui sesi komen di blog maupun DM Instagram!  

 

Penulis : Ala

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *