Sepatu Kaca Saya

Everyone has their own “ sepatu kaca “.

Sebagai seorang gadis desa biasa, dari satu kota kecil bernama Tentena, Sulawesi Tengah,  pastilah akan akrab dengan cerita luar biasa yang dimiliki cinderella. Sebagai salah satu Korban Konflik Poso pada tahun 2000 yang terjebak dua minggu di hutan membuat saya mengerti betapa berharganya kesempatan untuk hidup.

Memulai hidup baru di daerah pengungsian membuat adaptasi menjadi sebuah keharusan. Dan setelah 9 tahun mengenyam pendidikan tingkat sekolah dasar dan menengah, dengan semangat baru untuk  pendidikan di bangku SMA yang menurut orang sangat menarik dan penuh drama percintaan dan persahabatan.

Tapi ternyata, jalanku menuju sepatu kacaku bukan demikian.

Saat sekolah, saya justru sering menjadi korban bully karena fisik dan pemikiran yang berbeda, terlebih karena keluarga saya terhitung pendatang yang bergelar pengungsi. Sejenak ingin menyerah, namun Tuhan selalu menguatkan saya sehingga keyakinan bahwa apapun yang Sang Pencipta izinkan terjadi adalah yang terbaik. salah satunya melalui sosok mama.

Dia selalu berkata kalau saya menyerah, berarti saya kalah. Kalau saya menangis berarti saya menerima ejekan mereka. Memang mama menguatkan dengan cara yang tidak seperti ibu dan remaja perempuan seperti biasanya tetapi beliau tahu bahwa kapasitas perempuan bisa melampaui perkiraan bila kelemahlembutan di dukung dengan ketegaran. 

Kalau kamu menyerah, Kamu kalah.

kata Mama

Dont judge the book by its cover right ? But people do.

Sejak saat itu saya berusaha menjadi cantik atau diakui menjadi cantik. Memenangkan kontes kecantikan membuat saya merasa telah menemukan sepatu kaca sebagai Putri Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah 2013. Ya, akhirnya saya diakui dan diterima.

Tetapi saya lupa, ternyata cantik adalah tentang hati dan apa yang kamu percaya.

Tuhan kembali membawa saya ke titik dimana saya ingin menyerah, saat saya tidak berhasil masuk jurusan kedokteran.  Kekecewaan saya membuat saya seolah ingin melawan keadaan, namun ternyata Tuhan punya rencana lain.

Saya akhirnya masuk fakultas hukum disalah satu universitas negeri, dan walaupun pada beberapa semester awal saya masih bonging dan merasa salah jurusan, saya tetap percaya Tuhan pasti punya encana untuk saya. Ternyata dengan berada di Fakultas hukum ini, kemampuan Public Speaking saya juga terasah, dan saya dapat memenangkan Juara Motivator Putri Pemilihan Duta Mahasiswa GenRe tingkat Nasional pada tahun 2015.

Seketika saya sadar, bahwa melayani dengan hati ternyata bisa dilakukan dimana saja.

Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa perempuan bisa berperan dan menggerakan banyak perubahan dengan cara yang berbeda-beda, salah satunya dengan melalui jalur hukum yang kokoh–dimana akhirnya saya bisa melihat peran yang bisa saya berikan.

Memang, dalam beberapa kejadian dalam hidup, saat kita merasa mimpi kita tidak terwujud namun justru ternyata disana Tuhan sedang mewujudkan karyaNya untuk hidup kita. Setelah saya menyelesaikan kuliah saya mengerti bahwa saya harus membawa perubahan bukan hanya untuk diri saya sendiri namun untuk daerah tempat saya berasal.

Saya harus membawa perubahan bukan hanya untuk diri saya sendiri namun untuk daerah tempat saya berasal.

Saat ini saya menjadi ASN termuda di Sekretariat Daerah sebagai Perancang Peraturan Perundang-undangan Ahli Pertama. Bertumbuh dalam keluarga politisi sejak kecil  membuat saya mengerti mengapa saya ada di birokrasi. Sebagai pribadi yang rindu daerahnya berubah, tentu saya harus terlebih dahulu mengambil langkah pertma. Saatnya generasi muda yang berkarya dan perempuan menunjukan kemampuannya.

Kemajuan perempuan bukan untuk mendapat pengakuan, namun menjadi bukti bahwa dengan kelemahlembutan perempuan mampu menjadi penentu kebijakan. Saya merasa bahwa saya bukan hanya telah menemukan sepatu kaca saya, namun saya sedang merancangnya agar bisa dinikmati dan dipakai semua orang.

Karena bersama kita bisa meraih dan mengubah daerah kita.

Akhirnya ternyata, setiap manusia punya sepatu kaca namun cerita untuk menuju kesana tidak bisa sama dengan cerita Cinderella. Setiap perempuan mempunyai langkah-langkah kecil yang harus ia lalui sesuai dengan cerita terindah yang dirancangkan Pencipta untuknya. Ya, dimulai dari seorang perempuan yang berasal dari desa.

Catatan Editor: Tulisan ini dibuat sebagai bentuk kolaborasi ceritaperempuan.id dengan Girls Can Lead sebuah organisasi yang mempunyai misi untuk menambah jumlah pemimpin perempuan dengan memberdayakan perempuan dan membantu perempuan meningkatkan kapasitas untuk berpartisipasi dalam komunitasnya.

Penulis: Maya
Editor: Ala dan Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *