Cerita

A (Not So) Cinderella Story

 

Menapaki tanah negara lain mungkin adalah impian hampir semua orang, termasuk diriku yang terlahir di keluarga biasa-biasa saja. Namun, ini menjadi cerita lain ketika aku harus menetap di tempat yang sungguh berbeda dari apa yang kubayangkan selama ini.

Dulu, aku punya keinginan yang sangat besar untuk bisa mengunjungi negara favoritku, Jepang. Ya, apalagi kalau bukan karena pengaruh anime dan manga yang menjadi hobiku sejak duduk di bangku SD. Kesempatan itu datang ketika aku berhasil lolos salah satu program beasiswa di sana setelah lulus SMA. Sayang, kedua orang tuaku tidak memberikan restu untuk berangkat. Rasa kecewa tentu ada, tapi aku cukup bisa memahami keinginan keluargaku untuk melanjutkan pendidikan sebagai dokter. Apa mau dikata, akhirnya aku kembali melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran di Bandung.

Seperti layaknya mahasiswa kebanyakan, melanjutkan menjadi dokter spesialis merupakan pilihan utama setelah lulus. Dulu, aku berencana untuk menjadi dokter spesialis bedah. Enam tahun aku menempuh pendidikan kemudian ditempatkan di salah satu wilayah di luar Bandung. Namun, mimpi itu harus kupendam tatkala aku menyadari bahwa ada hal-hal yang lumrah dilakukan dalam dunia pelayanan kesehatan tapi tidak sesuai dengan idealisme yang kupegang.

Dengan sedikit mengubah haluan, aku memutuskan untuk kembali ke almamaterku dan memulai karir sebagai tenaga pengajar. Tidak banyak memang yang mau berkecimpung di dunia akademik. Maklum, gaji yang didapat tidak seberapa dibandingkan dengan praktik dokter. Akan tetapi, bagiku, belajar dan mengajar adalah sesuatu yang bisa kulakukan dengan senang hati. Akhirnya, kuputuskan untuk bekerja full time sebagai dosen dan peneliti.

Jalan untuk bisa mengunjungi Jepang kembali terbuka ketika aku terlibat dalam salah satu penelitian yang berkolaborasi dengan salah satu universitas terkemuka di sana. Berbeda dengan universitas kebanyakan yang mengandalkan seleksi masuk universitas, undangan atau rekomendasi dari salah satu profesor untuk melanjutkan sekolah menjadi salah satu pertimbangan utama di Jepang.  Setelah bekerja selama lebih dari 3 bulan bersama, tampaknya salah satu profesor cukup puas dengan kinerja yang kutunjukkan.

Dengan sabar selama lebih dari 6 bulan, aku terus menanti kata ‘ayo sekolah lagi di Jepang’ dari sang profesor.

Tak disangka, dalam masa penantian itu aku mendapat kata ‘ayo sekolah lagi’ bukan dari profesor di Jepang, melainkan Belgia. Tidak pernah terlintas sekalipun dalam pikiranku untuk menapakkan kaki apalagi melanjutkan sekolah ke jantung Benua Eropa itu. Sedikit banyak aku mulai bimbang. Di satu sisi aku masih berharap untuk bisa berangkat ke Jepang.

Tapi sampai kapan aku harus menunggu?

Akhirnya kuputuskan untuk mencoba mendaftarkan diri di Belgia. Seperti universitas kebanyakan aku harus mengirimkan ijazah dan transkrip nilai ke pihak universitas di Belgia. Kalaupun ditolak tidak ada ruginya, pikirku.

Kejutan selanjutnya datang ketika aku mendapatkan jawaban bahwa aku diterima di universitas tersebut dalam jangka waktu 2 hari semenjak aku mengirimkan berkas. Kaget, gembira, senang, sedih, semua perasaan campur aduk menjadi satu. Untungnya keluargaku memberikan dukungan meskipun aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah tanpa sepengetahuan mereka.

 

 

Kejutan lain datang ketika aku tengah bersekolah di Belgia.

Sebagai anak perempuan satu-satunya salah satu nasihat yang paling sering kudengar adalah mengenai berkeluarga. Ingat umur, kamu belum pernah punya pacar, kata mamaku. Jujur selama lebih dari 26 tahun aku tidak pernah memusingkan kehidupan percintaan karena aku masih ingin melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Namun, rupanya jalan hidup berkata lain. Salah satu temanku di Belgia berkata ingin mengenalkanku kepada seorang laki-laki. Yah, bule sebenarnya bukan tipe laki-laki idamanku, tapi tak ada salahnya berkenalan, bukan? Toh, aku akan kembali ke Indonesia setelah pendidikanku selesai.

Pertemuan pertama kami berdua terasa jauh dari romantis karena temanku dengan ‘itikad baik’ turut mengajak suaminya (campuran double date dan kongkow santai supaya tidak canggung). Setelah bertukar sapa dan cerita aku merasa dia pria yang baik, tapi tidak otomatis membuatku tertarik padanya. Tentu saja aku tidak mau terburu-buru karena salah satu harapanku adalah bertemu dengan pria yang akan menjadi the first and the last (hopeless romantic mode: ON). Kami sepakat untuk mengenal sedikit lebih dalam satu sama lain masih sebagai teman.

Pertemuan-pertemuan berikutnya membuatku menyadari bahwa kami memiliki banyak kesamaan baik dalam hobi, selera makan (sungguh langka bisa bertemu bule yang suka makanan Asia dan terutama rasa pedas), film favorit, hingga prinsip hidup. Mungkin saja dia adalah pria yang cocok bagiku. Tapi tentu saja ada satu hal yang mengganggu pikiranku.

Bagaimana reaksinya ketika dia mengetahui kalau aku harus kembali ke Indonesia? Meskipun belum pernah menjalani long distance relationship, aku merasa di era teknologi saat ini jarak bukanlah suatu penghalang lagi. Namun, belum tentu dia memiliki pemikiran yang sama denganku mengenai hal ini.

Seperti yang sudah kuduga, dia amat terkejut ketika aku sampaikan kegalauan ini. Worst case scenario sudah bisa terbayang dalam kepalaku. Namun, tak disangka, dia malah mengajakku untuk lebih serius dan berkomitmen meskipun harus LDR karena merasa aku adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Banyak orang akan berkata untuk tidak terlalu percaya dengan rayuan gombal seperti itu. Belum lagi kami baru mengenal satu sama lain hanya dalam jangka waktu dua bulan. Tapi instingku mengatakan kalau dia bukan tipe pria yang asal berucap, apalagi mengenai topik serius seperti pacaran dan menikah. Ya, bertolak belakang dengan budaya ketimuran, kebanyakan bule lebih memilih untuk pacaran atau hidup bersama tapi tidak menikah (daripada menikah tapi ujung-ujungnya bercerai juga).

Bagiku ini merupakan suatu pertanda ketika dia memintaku untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Apalagi ketika dia menyematkan sebentuk cincin mainan berbahan plastik dan berjanji akan memberikan yang asli ketika dia datang ke Indonesia untuk meminta restu dari keluargaku (again, hopeless romantic mode: ON). Singkat cerita, kami pun akhirnya menikah di Indonesia pada pertengahan tahun 2018 ini.

 

 

Sampai di sini sebagian orang akan berkata, “Wah, selamat ya cerita hidupnya bahagia!” atau “Keren ya punya pasangan bule, udah nikah bisa tinggal di luar negeri. Mau juga dong kayak gitu…”

Hold on to your horses, ladies (and gentlemen)!

Sayangnya, hidup tidaklah seindah cerita Cinderella yang setelah menikah dengan pangeran hidup bahagia selamanya. Banyak masalah yang harus diatasi, terutama masalah perbedaan budaya yang begitu kontras. Apalagi ketika aku harus keluar dari zona nyaman bernama Indonesia, begitu banyak persiapan yang tidak hanya menguras fisik dan mental, tapi juga menguras harta benda dan waktu. Ditambah lagi masalah bahasa yang masih belum kukuasai betul.

Hidup pun harus amat berhemat karena harga serba mahal. Tidak ada restoran yang buka 24 jam, apalagi delivery service saat cuaca buruk, kehabisan stok makanan, atau tiba-tiba ingin makan martabak tapi malas keluar. Tidak disadari banyak fasilitas dan kenyamanan yang harus direlakan di balik anggapan ‘glamour’ memiliki pasangan bule dan tinggal di luar negeri.

Aku pun belajar bahwa hidup adalah perjuangan di mana pun kita berada. Kita perlu membuka pandangan untuk melihat dari berbagai sisi karena tidak semua yang tampak manis di depan akan terasa sama di belakang. Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing, tidak perlu tergiur apalagi terobsesi dengan jalan yang dipilih orang lain, apalagi dengan ‘kemewahan’ yang kasat mata tapi semu.

Inilah cerita seorang perempuan yang akan menjadi ‘tahanan’ di negara lain sampai kartu identitasnya yang resmi selesai.

Penulis : Yessika A. Natalia
Editor : Ala

Tulisan yang Membawa Senyum

Hai Sahabat @ceritaperempuan.id! Ini saya Asih, dari tim ceritaperempuan.id. Tak terasa memang ceritaperempuan.id sudah berumur hampir dua tahun dan dalam perjalanan ini kami telah mengumpulkan ratusan cerita dari kamu-kamu. Kami merasa sudah saatnya memberikan Ruang kembali bagi cerita-cerita yang sudah pernah hadir namun mungkin belum dinikmati Sahabat-sahabat kami yang baru. Di kesempatan ini saya ingin membagikan

Baca Lebih Lanjut

Aiming for a Worthwhile Life

  “What will you do today if you know you will die tomorrow?” Selama beberapa tahun terakhir, pertanyaan itulah yang pertama muncul setiap aku bangun pagi.  Pertanyaan itulah yang menentukan bagaimana aku menjalani keseharianku; setidaknya untuk 24 jam kedepan: greet the neighbours, text your long-time-no-see friend, atau memberi senyum manis ke rekan kerja yang sebenarnya

Baca Lebih Lanjut

Surat Kecil dari Kami: Ruang Cerita

Desau Hati dari Perempuan Sehari-hari   Tak terasa sudah satu tahun lebih kami membuat ruang yang nyaman serta aman bagi para perempuan dan para pendukungnya untuk berbagi kisah reflektif. Tim ceritaperempuan.id pun berpikir sudah tiba saatnya untuk menciptakan ruang baru yang tetap membawa nilai-nilai yang kami percayai: bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dan kita

Baca Lebih Lanjut

Melepas Benci yang Terlalu Lama Tertanam

    Halo! Aku perempuan berusia 20 tahun dan hingga usia ini, aku terus-menerus belajar untuk tersenyum. Mengapa? Memang, orang-orang sering kali mengira aku sedang marah karena pembawaanku yang judes dan jutek. Namun, sesungguhnya semua itu karena masa lalu di mana aku ‘bersuka rela’ untuk hidup dalam kebencian, sehingga aku menolak beramah tamah apalagi tersenyum.

Baca Lebih Lanjut