Against All Odds

Nama saya Duwi Pratiwi. Saya berasal dari suatu daerah agak terpencil di Kalimantan Timur, yaitu Penajam Paser Utara. PPU sudah menjadi suatu Kabupaten sejak tahun 2002. Saya tumbuh didaerah tersebut, dari TK hingga SMA., walapun pada saat SD kelas 5 hingga SMA kelas 1 saya sempat pindah kesuatu daerah yang lebih terpencil lagi di Kalimantan Timur karena mengikuti orang tua yang bekerja disana. Saya masih ingat ketika masa kecil saya, saya melihat dari Televisi anak-anak yang seumuran saya memiliki berbagai kegiatan seperti balet, kursus, perpustakaan dan lain-lainnya. Saya ingin sekali seperti mereka tetapi Ibu saya berkata bahwa didaerah saya tinggal fasilitas seperti itu tidak ada. Semua fasilitas sangat terbatas, bahkan daerah saya tidak mempunyai peprustakaan umum. Saya merasa terkurung dan stuck. Namun dikarenakan pengalaman yang saya rasakan ini, saat ini saya memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan perubahan.

Di daerah asal saya, tujuan utama orang tua yang memiliki anak perempuan adalah menikahkan putrinya dengan uang jujuran (mahar) yang tinggi, makin tinggi maka makin menjadi kebanggan keluarga besar mereka. Hanya ada beberapa teman seangkatan saya dari PPU yang mengenyam pendidikan hingga dibangku kuliah, selebihnya menikah diusia mereka yang masih belia. Perempuan yang lambat menikah akan menjadi bahan perguncingan sekitar dan hal ini membuat orang tua merasa khawatir apabila nanti anak perempuannya akan disebut perawan tua. Hal lain mereka menikahkan anak perempuannya diusia muda adalah karena menurut mereka hal itu akan menghindari perbuatan dosa, seperti zinah. Pernikahan muda ini membuat mereka tidak sempat merasakan bagaimana berjuang meraih mimpi-mimpi mereka. Hal ini tidak salah, namun untuk mengahsilkan perempuan-perempuan hebat, perempuan harus mengalami berbagai masalah kehidupan dan tekanan sehingga membuat mereka menjadi lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

***

Saya sendiri memutuskan untuk bersekolah, meskipun terlambat beberapa tahun dari tahun seharusnya saya masuk kuliah, namun saya memberanikan diri untuk melanjutkan tingkat pendidikan saya ke bangku kuliah. Dalam keluarga besar Ayah dan Ibu saya hanya ada 1 perempuan yang mengenyam pendidikan hingga meraih Stara 1. Keluarga kami awalnya tidak terlalu mementingkan tingkat pendidikan. Pada awal saya memutuskan untuk berkuliah, Ibu saya bertanya mengapa saya ingin berkuliah? Mengapa tidak mencari uang yang banyak saja, dan mengapa harus kuliah apabila saya dengan bekerja atau berwirausaha, saya bisa menghasilkan uang. Melalui perbincangan itu, saya paham, bahwa mindset dalam keluarga saya adalah bagaimana menghasilkan uang, tidak perduli jenis pekerjaan , sejauh hal itu masih dalam ranah yang benar untuk mencari uang. Ibu saya adalah wanita yang kuat, ibu saya pernah berjualan klontongan dipasar, setiap pagi-pagi buta beliau harus sudah ke pasar untuk berjualan. Saya sangat sedih melihat hal itu, Ibu saya pasti lelah, untungnya setelah Ayah saya mendapatkan uang pension dari perusahaan, kami dapat membangun toko sendiri dirumah, hingga Ibu saya tidak perlu lagi ke berangkat ke pasar setiap pagi. Ayah saya adalah sebuah supir logging di perusahaan kayu, dulu perusahaan itu bernama ITCI, perusahan kayu ini sempat sangat berjaya pada era Presiden Soeharto, perusahaan ini juga adalah salah satu milik keluarga besar Presiden Soeharto.

Kembali mengenai diri saya, saya berhasil berkuliah di Universitas Mulawarman, Samarinda Kalimantan Timur, jurusan Hubungan Internasional. Saat itu saya bertekad untuk benar-benar serius dalam belajar, meskipun saya bukan tergolong anak yang berprestasi ketika duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMA, namun kali ini saya ingin mencoba hal yang berbeda dan melihat bagaimana hasil dari perubahan itu. Di semester pertama, saya tidak pernah berharap mendapatkan nilai terbaik di kelas apalagi senagkatan yang ketika itu terdapat 3 kelas, Kelas pagi terdiri dari kelas A dan B, yang merupakan kelas favorit dan tempatnya mahasiswa-mahasiswa unggulan, sedangkan kelas saya adalah kelas sore, atau disebut juga kelas instensi. Namun ketika pembagian nilai akhir semester saya terkejut ketika pegawai akademik jurusan saya mengatakan bahwa saya mendapatkan nilai tertinggi di kelas, dan setelahnya saya mendapatkan info bahwa saya mendapatkan IPK tertinggi dari ketiga kelas tersebut.

Hal ini membuat saya lebih percaya diri, saya makin yakin, dengan tekad yang kuat dan kerja keras saya akan bisa mencapai apa yang saya inginkan. Semester demi semester berlanjut dan IPK saya terus meningkat hingga pernah mencapai 3.93. Kemudian di semester akhir saya, saya ditawari pekerjaan untuk menjadi Sekertaris Pembantu Rektor II di Kampus saya, karena saya membutuhkan uang, walaupun tiap tahunnya saya juga mendapatkan beasiswa dari pemerintah daerah, namun dengan bekerja saya akan meningkatkan pengalaman saya tidak hanya diakademik tetpi juga didunia kerja. Saya pun menerima tawaran tersebut, namun juga saya ingin cepat menyelesaikan studi saya.  Dilain hal, sebagai mahasiswa semester 6 saya harus melakuka  kegiatan KKN sebagai syarat kelulusan, sehingga saya harus bekerja, menjalankan program KKN dan mulai mengerjakan skripsi. Namun dalam melakukan sesuatu hal saya tidak ingin setengah-setnagah, saya harus menajdi terbaik dalam hal itu, sehingga target saya adalah melakukan pekerjaan saya dengan baik, mendapatkan nilai yang baik untuk KKN dan menulis skripsi yang menarik. Untuk itu saya harus bangun tenagh malam untuk mengerjakan skripis, karena disiang ahri saya focus bekerja dan di sore hari saya menjalankan program KKN. Jujur saya merasa lelah, namun dengan semanagt dan olahraga yang rutin sangat membantu saya meningkatkan kekuatan fisik dan mental saya.

KKN berjalan lancar, dan kelompok saya mendapatkan nilai yang bagus, demikian juga dengan skirpsi saya yang mendapatkan A. akhirnya saya dapat lulus tercepat seangkatan saya, dan kabar gembira lain adalah saya menjadi mahasiswa berprestasi sebagai peraih IPK tertinggi dari semua jurusan dan fakultas pada saat angkatan wisdua pada saat itu.

Ketika lulus saya masih bekerja sebagai sekeretaris Pembantu Rektor II, namun saya dipercaya juga untuk menjadi assistan profesor , dan diberi kesempatan untuk mengajar. Ini kesempatan yang luar biasa dan tidak akan saya lewatkan. Namun disatu sisi, saya harus melakukan peningkatan dalam hidup saya. Prinsip saya adalah, dalam hidup saya harus menjadi lebih baik dan tidak pernah putus untuk belajar dan membuat target-target. Saya memutuskan untuk melanjutkan mimpi saya untuk bisa sekolah di salah satu sekolah ternama di Perancis, yaitu Sciences PO Paris. Saya perkaya diri saya dengan infromasi mengenai cara mendaftar sekolah keluar negeri dan mendapatkan beasiswa. Setelahnya saya mulai menyusun perencanaan dan target. Target pertama adalah mendapatkan Score ILETS sesuai dengan yang disyaratkan oleh sekolah yang saya tuju. Disini saya mengalami tantangan, ternayta test IELTS tidak semudah yang saya bayangkan, saya telah gagal 4 kali test IELTS untuk mendapatkan score yang diminta sekolah saya. Disini saya sangat kecewa pada diri saya sendiri, tapi saya harus cepat mengambil tindakam, sedih dan kecewa wajar dialami manusia, namun jangan berlama-lama berada didalamnya karena itu tidak akan membantu apa-apa. Saya memutsukan untuk belajar IELTS dan secara bersmaan meningkatkan kemampuan bahasa inggris akademik saya, saya memilih IALF Surabaya karena beberap pertimbangan, Untungnya Pembantu Rektor II, atasan saya, sangat mengerti dan memberikan cuti keapda saya selama 3 bulan untuk fokus belajar.

***

Akhirnya saya berhasil mendapatkan nilai yang saya ingin capai, dan ini waktunya membuat essay untuk mendaftar kesekolah yang saya inginkan dan juga mendaftar untuk beasiswa. Untuk beasiswa saya mendaftar program beasiswa TGS (Total Group Scholarship). Setelah menunggu selama beberapa bulan, akhirnya saya mendapatkan email bahwa saya diterima di Sciences PO Paris untuk program Stara 2, jurusan International affairs in International Energy dan beberapa saat setelahnya saya juga berhasil mendapatkan beasiswa TGS.

Sebelum berangkat, Ibu saya mengatakan kenapa saya harus jauh-jauh sekolah di Perancis, beliau sangat khawatir bagaimana nasib saya disana nanti. Saya bahkan  belum mempunyai teman disana, dan bagaimana jika ada orang jahat kepada saya disana nanti. Saya mengatakan ke Ibu saya bahwa saya tidak mau hidup saya terlalu biasa-biasa saja, saya menginginkan hidup yang penuh warna dan daripada memikirkan sesuatu yang buruk  mengapa tidak kita berpikir hal yang bagus-bagus saja. Saya yakin, keberangkatan saya di Perancis adalah baik karena niat yang baik, dan oleh karena itu Allah akan terus bersama saya.

Di awal semester menempuh pendidikan di Sciences PO Paris, saya mengalami yang namanya culture shock, tidak hanya soal culture tetapi juga cara belajar mereka. Karena sekolah favorit, maka semua mahasiswa-mahasiswa disana sangat ambisius dan pintar. Mereka belajar sangat serius dan fokus.  Di semester awal, saya mengalami krisis kepercayaan diri dan itu membuat saya tidak lulus di 3 kelas dari 8 kelas yang saya ambil. Saya merasa sangat sedih dan kecewa terhadap diri saya sendiri, tetapi kesedihan ini tidak boleh berlangsung lama, saya harus cepat bergerak. Saya mulai menyusun semua startegi, mengatur ulang semua dan memikirkan apa saja yang harus saya ubah untuk bisa mengikuti alur belajar disana.

Di sini saya mencoba mencontoh gaya belajar mereka dan juga saya memutuskan mengikuti pola makan disana, karena makan nasi membuat saya merasa ngantuk dikelas. Saya ingin melihat bagaimana dengan perubahan yang saya lakukan ini akan merubah hasil atau tidak. Hasilnya nilai saya meningkat dan saya lulus disemua matakuliah yang saya ambil, hingga disemeter akhir dan mendapatkan gelar Stara 2 saya.

Ketika kembali ke Indonesia, saya sangat ingin untuk kembali ke Universitas Mulawarman dan mengajar disana. Namun ketika saya disana, saya merasa disana adalah comforst zone saya, sedangkan saya butuh tantangan, semua yang ada terlalu biasa menurut saya dan saya memutuskan untuk melamar pekerjaan di Jakarta dan pindah dari zona nyaman saya. Lagi-lagi saya harus melihat orang tua saya merasa sedih karena saya harus pindah lagi dan jauh dari mereka. Saya juga sedih tapi hidup tidak harus hanya merenungi kesedihan tapi menghadapinya. Saat ini saya di Jakarta bekerja sebagai assistant Direktur EBTKE kementeriena ESDM. Selanjutnya saya mempunyai target yang lebih tinggi lagi, dan saat ini saya sedang berjuang untuk mendapatkannya.

***

Hidup adalah perjuangan, hidup akan lebih berwarna dengan perjuangan dan ketika gagal jangan sedih atau menyerah karena dengan kegagalan kita dapat belajar menganalisis keadaan , mengapa kita gagal dan apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya. Hidup kita ada ditangan kita sendiri, bukan ditangan keluarga, ataupun steman sekitar. Ketika ingin mencapai sesuatu kita yang menyusun target sendiri dan ketika gagal kita juga yang harus mencari jalan keluarnya. jangan takut dengan tantangan, karena dengan tantangan menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih tangguh. Saya telah membuktikanya, dan sekarang giliran kalian untuk membuktikannya. Batu permata saja harus mengalami tekanan hebat untuk menjadi sebuah batu yang cantik dan indah. Para perempuan jangan takut dengan tantangan dan kegagalan, tantang diri kalian dan jadilah perempuan hebat indonesia.

Penulis: Duwi Pratiwi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sangat menginspiratif, semoga mba sukses selalu. Saya pun sedang mengejar impian saya yakni melanjutkan Phd scholarship diluar negeri. Tapi agak susah ya, soalnya rata-rata scholarshipnya khusus alumnus mahasiswa reguler. Namun , saya juga tetap yakin bahwa saya harus mengejar dan mewujudkan impian saya itu, terima kasih kak.

    Bolehkah saya menuliskan cerita hidup saya disini mengenai kisah yang inshaallah bermanfaat untuk yang lain disini? Bagaimana caranya, do tell me i then share my story here.