Belajar Percaya Diri

Vita di sebuah Kafe di Jakarta, sebagai seorang teman yang sangat perhatian, di sela-sela kesibukannya bekerja,
ia masih menyempatkan diri minum kopi dan hang out bersama teman-temannya

Ketika saya diterima di pekerjaan saya yang sekarang, saya hanyalah seorang anak yang baru lulus. Betul, saya pemegang gelar Master dari Australia namun dalam pandangan saya, saya ini baru book-smart, belum street-smart. Tentu saya tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka yang sudah punya bertahun-tahun pengalaman kerja. Saya bertekad untuk menjadikan kesempatan kerja ini untuk belajar dan memberikan hasil semaksimal yang saya bisa.

Dunia kerja di perusahaan servis minyak dan gas sangat menantang dan penuh dengan tekanan. Walaupun posisi saya di departemen Support Function, saya dituntut untuk bekerja sesuai ritme situasi operasional di lapangan. Saya berusaha beradaptasi untuk dapat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepada saya sebaik-baiknya, tentunya tak lepas dengan bantuan mentor dan rekan-rekan kerja saya. Waktu berlalu, lama kelamaan saya dipercaya untuk menjadi Person-In-Charge untuk beberapa project dan assignments di departemen saya yang skalanya cukup besar. Eksposur akan tingkat kesulitan pekerjaan yang lebih tinggi kerap kali membuat saya meragukan diri saya bahwa saya bisa memimpin project/pekerjaan tersebut, yang selalu dibalas oleh atasan saya, “Vita, you undervalue yourself too much. We trust you.” Saya berpikir bahwa ini hanya kata-kata penyemangat saja dan saya selalu merasa bahwa semua keberhasilan dalam pekerjaan saya didominasi faktor keberuntungan (beginner’s luck).

Suatu sore saya berdiskusi dengan rekan kerja terdekat saya (yang kebetulan pria) tentang pekerjaan yang kita sedang tangani dan berbagai tantangannya. Saat saya bercerita tentang hambatan-hambatan yang saya hadapi dan keberuntungan-keberuntungan yang saya temui hingga project/assignment itu akhirnya berjalan lancar, respon dari teman saya, “Vit, tapi semua keberhasilan yang ada gak lepas dari usaha lo untuk menjalankan semua sampai beres. Kita sekarang kan emang nge-lead kerjaan masing-masing. Coba kalau kita gak ada buat nge-lead, babak belur yang ada.” Kemudian dia lanjut berpendapat mengenai kompetensi yang dibutuhkan untuk posisi kami.

Saat itu saya baru saja menyelesaikan buku Lean In (karya Sheryl Sandberg), dan poin diskusi yang ia tulis seakan terafirmasi dari diskusi saya dengan rekan kerja saya. Sheryl menulis bahwa sebagian besar wanita seringkali meremehkan kemampuan diri sendiri dari performa aktual yang mereka jalankan, dan cenderung merasa keberhasilan yang didapatkan hanya nasib baik dan keberuntungan semata. Terasa jelas sekali bagaimana saya selalu menyebut poin pencapaian saya sebagai “keberuntungan”, sedangkan rekan kerja saya mengidentifikasi hal tersebut sebagai “keberhasilan”. Tidak beraninya saya untuk mengakui bahwa kontribusi saya dalam mensukseskan project yang saya tangani adalah sinyal ketidak percayaan diri saya akan kemampuan diri saya sendiri. Di lain pihak, ternyata bahkan orang lain mampu melihat kontribusi saya dalam pekerjaan tersebut. Ketakutan dan kekhawatiran yang ada pada diri saya kemudian menjadi tidak berdasar.

Sejak saat itu, saya lebih bersemangat dalam menyelesaikan target-target pekerjaan saya karena sudah ada keyakinan bahwa: I can get things done. Cara pandang saya pun berubah; tidak lagi hanya menyelesaikan tugas namun juga memastikan bahwa apa yang dilakukan akan bermanfaat untuk perusahaan saya.


Vita (tengah) saat wisuda Master dari sebuah Universitas di Australia

Pada penghujung tahun, saya dipanggil oleh atasan saya untuk berbicara one-on-one. Ternyata beliau ingin membicarakan rencana promosi. Atasan saya melihat potensi saya untuk menangani divisi yang kompleks di tempat kerja saya dan menariknya, saya ditawari posisi team leader yang diberikan peran dalam menyusun dan mengarahkan daily tasks/assignments sejalan dengan Key Performance Indicator (KPI) departemen saya dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan.

Jujur, tawaran ini sangat seksi sekali kedengarannya karena adanya peran dan pengaruh yang dimiliki posisi tersebut. Namun, akal sehat saya mengatakan bahwa adanya tambahan otoritas berarti juga akan tambahan kewajiban, tanggung jawab dan akuntabilitas saya sebagai seorang profesional. Karena tidak disinggung oleh atasan saya, saya mengangkat topik mengenai negosiasi kompensasi.

Bohong kalau saya bilang saya tidak takut membicarakan kompensasi. Membicarakan urusan gaji tetap menjadi hal yang sangat sensitif (walaupun atasan saya WNA). Bukan hal yang mudah diterima dengan gamblang. Ada ketakutan dalam diri saya “Duh, apa iya pantas mendiskusikan ini. Emang saya siapa sih.” Ada juga ketakutan, bahwa sebagai perempuan nantinya saya akan tidak disukai karena dianggap terlalu agresif atau sombong, terlalu banyak meminta (alias high-maintenance) karena mendiskusikan hal ini. Namun saya punya keyakinan saat itu, dengan komunikasi yang baik seharusnya atasan saya akan terbuka untuk bernegosiasi.

I had a feeling that this matter should be defined clearly, for both sides. So I decided to negotiate as a professional. And I did. Saya berterima kasih sudah diberikan tawaran tersebut, dilanjutkan dengan bernegosiasi bahwa dengan adanya tambahan otoritas/akuntabilitas saya berharap ini juga seiring dengan penambahan kompensasi. Saya menyebutkan ekspektasi-ekspektasi yang saya pikirkan, dan saya juga menyatakan saya akan menyetujui tawaran tersebut apabila sudah ada konfirmasi tertulis dari Human Resources Department (HRD) mengenai follow-up kompensasi. Selain itu, menimbang iklim industri yang tidak kondusif dan sedang dihadapi perusahaan, saya juga mengajukan rekomendasi struktur tim saya yang memungkinkan departemen kami memaksimalkan potensi masing-masing anggotanya untuk menghadapi tantangan pekerjaan ke depan.

Tak disangka, atasan saya menerima argumen saya dengan baik. Kekhawatiran saya sirna. Beberapa hari selanjutnya kami terus berdiskusi mengenai hal ini. Walaupun pada akhirnya saat itu permintaan saya belum dapat diwujudkan karena kondisi perusahaan, atasan saya mempertimbangkan rekomendasi saya mengenai struktur tim dan kemudian mengimplementasikannya, dengan sedikit modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi tim kami. Hingga saat ini pun, dalam kesempatan berbicara one-on-one beliau tetap mengatakan “Once it is possible, we will find a way to get you to the position that will enhance your career and get you the raise you deserve.” Hal ini tidak akan diungkapkan seseorang yang merasa bahwa pegawainya bukan aset untuk departemennya.

Banyak yang saya pelajari dari pengalaman ini. Tentang kerja keras dan keinginan belajar yang bisa menghasilkan berbagai pencapaian, tentang bagaimana orang lain terkadang memperhatikan kontribusi kita, dan bagaimana kepercayaan diri bisa membantu saya mencapai aktualisasi diri. Pada akhirnya saya percaya bahwa dengan kompetensi dan kecakapan berkomunikasi, semua keinginan dalam berkarir bisa dicapai dan dicari solusinya. Dan saya belajar, bahwa sebagai individu (terutama perempuan) kadang yang kita perlukan hanya sedikit keyakinan dan kepercayaan diri untuk menghargai potensi diri sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *