Dancing in The Rain

Halo. Saya Nurvina Alifa. Biasa dipanggil Vina atau Vivin. Saya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di rantau tanpa helper dengan seorang balita usia 2 tahun. Basically, saya adalah pengangguran yang ngga pernah nganggur hehehe.

Pencapaian terbesar saya? Anak saya bisa jalan & lari-lari, sementara saya dan suami masih waras dengan pernikahan yang relatif bahagia. Buat orang lain, anak bisa jalan adalah something they take for granted. Tapi buat saya, itu pencapaian besar. Anak saya, Bilal, lahir dengan Congenital Talapesi Equino Valus (CTEV) atau istilah kerennya kaki pengkor. Namun Bilal  sekarang bisa jadi anak yang tangguh, mandiri, ceria, dan engga nyusahin. Kok saya tahu Bilal punya semua kualitas itu? Karena sahabat dan kerabat saya suka berebut dititipin Bilal, hehe.

Here’s the thing. Saya juga didiagnosa mengidap Bipolar Disorder. Sederhananya, Bipolar adalah sebuah disorder yang membuat penderitanya beralih dari rasa senang yang berlebihan ke rasa sedih yang berlebihan. Jadi adakalanya saya merasa amat sangat senang. Tapi di lain waktu, saya bisa sangat sedih tanpa alasan jelas, teramat sangat sedih hingga rasanya ingin melukai diri sendiri, ingin mati saja, dsb. Pada saat-saat depresi seperti itu, saya menjadi amat tidak produktif. Jadi ya, disorder ini sangat menghambat.

Proses penyembuhan Bilal butuh kesabaran yang bukan main. Suami saya harus kerja dari pagi ke pagi lagi untuk memenuhi biaya penyembuhannya. Sementara saya, my good days adalah kalau anak saya bisa seharian ngga nonton TV atau pegang gadget, which means saya cukup waras untuk menemaninya main seharian sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. My bad days adalah kalau saya harus ke toilet sambil main cilukba sama anak saya, hehehe. Itu hari-hari di mana si bocil lagi cranky dan ngga boleh lepas dari pandangan sedikitpun, which means saya ngga bisa ngerjain apapun selain nemenin dia main, yang otomatis berujung rumah berantakan, dapur kotor, dan kami berdua kelaparan karena saya tidak sempat masak. Karena sama-sama capek, tentunya ada tensions dalan pernikahan saya. But we got pass that. We grow better, both as an inpidual and as a couple. Mengakui diri sendiri memiliki kelainan mental bukan perkara yang mudah. Berpuluh kali saya membuat janji temu dengan psikiater lalu urung karena memilih meyakinkan diri sendiri bahwa saya baik-baik saja. Nyatanya, saya tidak baik-baik saja. Saya akhirnya memberanikan diri menemui psikiater karena saya tak ingin Bilal tumbuh menyaksikan saya meracau tak jelas, mengalami panic attack, dsb. Alhamdulillah, sejak minum obat dari psikiater, saya berangsur-angsur bisa mengendalikan diri saya. Tentu saja hal-hal ini secara tidak langsung mengubah arah mimpi saya yang dulu. Sebelum saya mempunyai anak, mimpi saya adalah sekolah sampai dapat PhD dan jadi expert di bidang media dan gender. Better kalau bisa ambil post-doctorate dan jadi profesor sebelum usia 40. Dulu, ketakutan terbesar saya adalah kalau saya “cuma” jadi ibu rumah tangga.

Tapi mempunyai anak dapat merubah siapa pun, termasuk saya. Kalau dipikir-pikir, dari sisi saya yang dulu, saya sedang menjalani mimpi terburuk saya sekarang. Lalu, apakah saya menderita? Tidak juga. Lebih bahagia dari kemarin-kemarin malah. Menjalani ini semua membuat saya sadar bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tidak pernah sekedar “cuma.” You have that precious chance to watch another human being grow to be a new independent person. Mengasuh Bilal membuat saya sadar akan The Big Picture. The Big Picture mengasuh Bilal, buat saya, adalah mendampingi dia tumbuh jadi inpidu yang mandiri, merasa utuh dengan dirinya, dan syukur2 kalau bisa bermanfaat buat orang lain. Dulu, saya merasa gelar PhD penting untuk mencapai keinginan saya berperan dalam membuat perubahan agar media tak lagi berpihak pada patriarki. Lalu, saya berpikir lagi, apakah saya harus punya Phd untuk membuat perubahan? Tentu tidak. Mimpi saya sekarang, membuat perubahan meski hanya dari rumah, sekecil apapun itu.

Apa rencana saya dalam meraih mimpi saya? Sementara ini yang bisa saya lakukan adalah menulis, berbagi apa yang saya pikirkan dengan orang lain. Syukur-syukur jika bisa menjadi inspirasi, mengubah perspektif seseorang tentang hidup, dan membuat ia merasa lebih baik tentang hidupnya. Ke depannya, kalau Bilal sudah besar dan bisa sibuk sendiri,saya ingin mengajar dan bergabung dalam aktivis di bidang media dan gender.Sekarang saya tahu dunia diciptakan begini adanya, tinggal kita saja yang memilih, merespon dunia dengan negatif atau positif.

Apapun yang kita perempuan pilih, selalu saja ada yang bilang itu salah. Baik ibu rumah tangga, wanita karir, perempuan yang mengejar pendidikan tinggi, atau yang memprioritaskan keluarga. Jadi menurut saya, penting bagi perempuan  untuk saling support. Bukan cuma kasih support untuk perempuan dengan pilihan-pilihan hidup yang sama dengan kita. Tapi terutama, kita harus support perempuan dengan pilihan yang berbeda dengan kita. Karena, believe me, setiap perempuan pasti punya struggle masing-masing.

Penulis: Nurvina Alifa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *