Lean in: Perempuan, Dunia Kerja dan Keinginan untuk Memimpin

Buku Lean in karangan Sheryl Sandberg  mengajak kita mempertanyakan kurangnya keberadaan perempuan di posisi pemimpin, baik di pemerintahan, dunia korporat, akademik, ataupun NGO. Salah satu penyebabnya mungkin menurut observasi Sheryl, observasi yang juga didukung oleh banyak penelitian, adalah bahwa ada perbedaan antara ambisi yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki untuk memegang posisi pemimpin tersebut. Dalam buku ini, Sheryl mencoba mempertanyakan kenapa ada perbedaan ambisi ini, dan apakah benar bahwa perbedaan ambisi inilah yang menyebabkan begitu sedikitnya perempuan memegang posisi pemimpin.

Generasi Sheryl, yaitu perempuan yang lahir pada sekitar tahun 1960an, merupakan generasi yang dibesarkan percaya bahwa perempuan bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan. Akses terhadap pendidikan yang mereka dapatkan, dan juga akses akan dunia kerja sangat membaik dibanding dengan generasi sebelum mereka. Sejak saat itu kesetaraan hak untuk mengenyam pendidikan juga terus meningkat. Semua kemajuan ini adalah hasil perjuangan dari perempuan-perempuan sebelumnya yang menuntut akses terhadap pendidikan dan kesempatan kerja, sehingga generasi Sheryl merasa bahwa mereka tinggal menikmati perjuangan perempuan-perempuan sebelumnya.

Walau begitu hampir 50 tahun kemudian, ternyata tetap saja sedikit perempuan yang berada di posisi pemimpin. Kenapa?

Menelisik ulang pemikirannya dulu, Sheryl menilai generasinya terlalu naif dan optimistik. Ternyata mempersatukan aspirasi profesional dan personal penuh dengan tantangan yang tidak disangka-sangka. Di saat dimana karir mereka menuntut atensi maksimum, kondisi biologis perempuan menuntut untuk segera mempunyai anak. Pasangan mereka pun tidak lantas mengambil paran banyak dalam membesarkan anak, sehingga para perempuan jadi memiliki dua pekerjaan di saat yang bersamaan. Dunia kerja tidak mengakomodasi fleksibilitas yang dibutuhkan perempuan untuk pemenuhan pertanggungjawaban di rumah. Hal ini tidak diantisipasi perempuan-perempuan sebelumnya, mereka pikir hanya dengan akses pendidikan dan kesempatan kerja yang sama, cukup untuk mendongkrak posisi perempuan di dunia kerja.

Generasi yang datang setelah Sheryl sebaliknya terlalu praktis. Sheryl dan sejawatnya tahu terlalu sedikit, sedangkan generasi setelahnya tahu terlalu banyak. Perempuan yang besar saat ini bukanlah generasi yang pertama kali merasakan kesetaraan gender, namun mereka yang pertama kali tahu bahwa kesempatan yang sama tidak lantas akan menghasilkan pencapaian yang sama. Banyak dari perempuan ini memperhatikan generasi ibu mereka mencoba “mengerjakan semuanya”, dan memutuskan bahwa salah satu hal harus dikorbankan. Hal tersebut biasanya adalah karir mereka.

Kesulitan dalam menyeimbangkan antara ambisi dalam pekerjaan dan juga dunia personal ini bukan satu-satunya kendala. Perbedaan ambisi juga mungkin berperan besar, Menurut survey tahun 2012 dari McKinsey, 36% laki-laki mempunyai cita-cita untuk mencapai level managerial dalam perusahaan mereka, sedangkan hanya 18% perempuan mempunyai ambisi yang sama. Jika sebuah pekerjaan digambarkan sebagai penuh kekuatan, menantang, melibatkan banyak tanggung jawab, biasanya pekerjaan itu lebih mengundang laki-laki dibanding perempuan. Walau begitu, trend dalam perbedaan ambisi ini sedikit demi sedikit berubah seiring dengan waktu, perempuan muda cenderung lebih ambisius dibandingkan generasi sebelum mereka.

Salah satu alasan yang mungkin membuat perempuan mengurungkan ambisi mereka adalah karena adanya kecendrungan cap negative terhadap perempuan yang dianggap ambisius. Secara umum, perempuan ambisius tidak begitu disukai, sesuatu yang juga sering digambarkan di media popular seperti film, buku ataupun sinetron, dimana perempuan sukses sering digambarkan tidak baik ataupun tidak peduli dengan orang lain. Laki-laki di sisi lain tidak mempunyai permasalahan yang sama, semakin sukses atau ambisius seorang laki-laki, semakin besar kemungkinan ia disukai oleh orang-orang di sekitarnya.

Ketakutan adalah akar dari keterbatasan yang dihadapi perempuan. Ketakutan tidak disukai. Ketakutan membuat pilihan yang salah. Ketakutan menarik perhatian yang jelek. Ketakutan melewati batas yang ada. Ketakutan untuk dihakimi sekitarnya. Ketakutan akan kegagalan. Dan tiga ketakutan terbesar perempuan, yaitu ketakutan menjadi ibu/istri/anak yang mengecewakan.

Dalam buku ini Sheryl mencoba mengajak perempuan bertanya, apa yang akan mereka lakukan jika mereka tidak takut?

***

Kedepannya Cerita Perempuan juga akan memberikan rangkuman tiap bab dari Lean In.. Ini adalah artikel 1/11 yang direncakanan berkutat mengenai buku Lean In karma Sheryl Sandberg

Penulis: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *