Tanggung Jawab Perempuan

Foto dengan keluarga pada musim dingin terakhir mereka di Berlin tahun 1996 

Masa sekolah saya, sedari SD sampai SMA diselesaikan di Jakarta. Perjalanan saya ke sekolah terkadang ditempuh dengan berjalan kaki masuk dan keluar kampung kumuh di ibu kota saat itu, kadang dikombinasikan dengan becak ataupun dengan bus kota. Dalam perjalananan dari dan ke sekolah itu, saat jalan menyelusuri perkampungan kumuh sepanjang rel kereta api di sekitar daerah Manggarai, Jakarta Selatan, sering terlihat anak anak kecil yang sedang BABS (Buang Air Besar Sembarangan) di jalur tersebut atau kadang diatas saluran kecil tanpa malu malu. Sambil memperhatikan mereka, kadang saya berpikir ingin rasanya menegur agar jangan membuang hajat sembarangan. Mungkin inilah yang melatar belakangi motivasi saya saat ini untuk terus menekuni bidang pengelolaan air limbah domestik. Rupanya ini sudah menjadi garis tangan saya, atau kadang saya berpikir seperti itu.

Pada saat saya masih kecil, ayah saya yang sebelumnya pernah menduduki posisi sebagai Direktur Percetakan Uang Kebayoran, mengundurkan diri dari posisinya. Beliau lalu selanjutnya lebih memilih berkarir sebagai seorang akuntan dan membentuk Kantor Akuntan Publik kecil sendiri di rumah, usaha yang pada saat itu masih belum terlalu populer seperti saat ini. Sedang ibu saya setelah pensium dini sebagai PNS, bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Baru pada saat anak-anak telah dewasa, ibu saya yang berpendidikan Sarjana Hukum, banyak aktif di berbagai organisasi. Organisasi yang beliau geluti diantaranya : Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) dan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), yang mana saat itu sangat gencar mempromosikan program“Dua Anak Cukup”. Selanjutnya program dari PKBI tersebut di adopsi oleh pemerintah dan berdirilah BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Pada masa tersebut, kadang saya ikut keluar kota bersama ibu untuk urusan pekerjaannya dalam advokasi.

Saat yang sangat berkesan untuk saya dari masa-masa itu adalah saat mengikuti Ibu saya ke gedung DPR untuk memperjuangkan peraturan tentang hak waris dan hukum perkawinan. Pada saat itu Ibu saya beserta teman-teman dari organisasinya menuntut agar ada hukum yang memperjelas status hukum dari anak dalam suatu perkawinan yang sah, dan juga memperjelas status hukum dari suatu perkawinan. Kejelasan ini dimaksudkan agar jika terjadi sesuatu dalam perkawinan tersebut, maka sang Ayah tetap mempunyai tanggung jawab di mata hukum untuk menafkahi mantan istri dan anaknya. Walaupun niat Ibu saya memperjuangkan hak Ibu dan anak, pada saat tersebut terjadi demonstrasi dari kaum perempuan sendiri, mereka menyatakan tidak setuju dengan tuntutan yang dibawa oleh Ibu saya dan organisasinya. Bertahun-tahun kemudian, sampai saat ini,  saat saya masih melihat  kasus dimana status perkawinan tidak jelas, sehingga pendidikan anak hasil dari perkawinan tersebut menjadi terlantar, saya selalu teringat perjuangan Ibu saya dahulu. Mungkin untuk golongan dengan faktor ekonomi menengah keatas  tidak masalah, tetapi bagaimana dengan perempuan dan anak dari golongan ekonomi lemah, tentunya harus ada hukum yang melindungi mereka?

Prayatni (dengan baju diwarnai kuning di foto ini) dengan keluarganya, Ibunya (berdiri di belakangnya) merupakan figur yang banyak membentuk pola pikirnya 

Setelah kelulusan saya dari SMA pada tahun 1975,  saya sebagai anak terakhir dari lima bersaudara, tentunya berpikir dan juga berambisi untuk melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Saya ingin sekali saat itu masuk ke Institut Teknologi Bandung, walaupun lokasinya yang  jauh dari Jakarta. Saat itu sebenarnya ibu saya berkeinginan agar saya sekolah di Jakarta saja, tetapi ayah saya berkeras bahwa beliau ingin memberi kesempatan yang sama terhadap anak laki-laki dan perempuannya untuk bersekolah sesuai dengan keinginan mereka. Kebetulan saat itu, dua kakak perempuan dan kakak laki-laki saya sudah berkuliah di Universitas Indonesia, sedangkan satu kakak laki-laki saya kuliah di ITB. Ayah saya selalu berkata bahwa anak perempuan harus bisa mandiri dan kuat, karena kita tidak pernah tahu kelak kedepan, apakah keluarganya dapat langgeng ataukah pisah akibat berbagai masalah, misal ketidak cocokan atau meninggal. Sebagai perempuan tentunya harus mempunyai tanggung jawab terhadap anaknya. Hal-hal inilah yang sepertinya melatar belakangi saya dalam menjalankan hidup.

Setelah mendapat dukungan dari keluarga, saya lalu melanjutkan kuliah di Teknik Lingkungan (dulu Teknik Penyehatan) ITB. Pada masa kuliah inilah saya bertemu dengan suami saya, yang berkuliah di perguruan tinggi yang sama. Saya beruntung suami saya ini banyak sependapat dengan saya mengenai kondisi perempuan di tanah air dan  terus mendukung untuk kemajuan perempuan juga. Setelah kelulusan dari ITB, saya lantas mendapat kesempatan untuk terus berada di ITB sebagai asisten akademik, yang lalu memberikan saya kesempatan untuk melanjutkan studi sampai ke jenjang S3.

Saat menempuh Jenjang pendidikan doktor di Technische Universität Berlin, saya sudah berkeluarga dan mempunyai anak satu yang saat itu berumur 2 tahun. Karena Pemberi beasiswa baru memperbolehkan keluarga saya untuk ikut ke Jerman minimal 6 bulan setelah keberangkatan saya, kami sekeluarga terpaksa berpisah dahulu, dengan niat agar suami dan anak saya menyusul setelah 6 bulan. Tetapi niat perpisahan yang hanya sebentar tersebut mengalami banyak permasalahan, sehingga suami dan anak baru bisa menyusul setelah 2 tahun. Ini dikarenakan pada masa awal kuliah S3 saya mengalami sakit yang cukup parah, sehingga harus tinggal di RS selama sekitar 3 bulan dan harus dioperasi besar hingga 3 kali. Saat itu saya berpikir, apakah masih bisa kembali ke Indonesia dalam keadaan hidup? Alhamdulillah, dengan bantuan dorongan dan semangat keluarga di Indonesia dan teman-teman di Berlin, lambat laun dapat sembuh kembali.

Prayatni (kedua dari kiri) bersama dengan teman-temannya yang banyak membantu pada masa-masa ia masih sendiri menunggu kedatangan keluarga di Berlin 

Setelah keluarga kami akhirnya bersatu kembali, tentunya kehadiran keluarga memberi semangat untuk terus mengejar ketinggalan setelah sakit. Walau begitu permasalahan pengaturan waktu antara keluarga dan sekolah tetap bukan merupakan pekerjaan yang mudah, karena semua harus dikerjakan sendiri. Kalau di Indonesia, masih terdapat asisten yang dapat membantu dalam urusan Rumah Tangga; dari mencuci, menstrika, masak dll. Namun karena saat itu kami hidup di luar negri, tentunya kami harus dapat mengatur waktu dengan baik, sehingga semua dapat terselesaikan. Alhamdulillah… akhirnya setelah 5 tahun berlalu, saya berhasil menyelesasikan sekolah, setelah melewati berbagai permasalahan dalam mencapai tujuan tersebut.

Perjuangan seorang perempuan tidak pernah berakhir, setelah menyelesaikan pendidikan, saya kembali ke Indonesia dan meneruskan karir pada dunia pendidikan dalam bidang pengelolaan air limbah domestik, yang memang merupakan fokus saya sejak bersekolah S3. Sementara masalah keluarga akan selalu terus muncul silih berganti, kadang kita harus menentukan pada saat tertentu, mana yang harus di fokuskan atau diutamakan. Kebersamaan dengan keluarga dalam perjalanan bisa menjadi dukungan, karena itu saya selalu menyempatkan untuk menjalin komunikasi ditengah kesibukkan masing-masing anggota keluarga.

Professor Prayatni dengan anakya yang juga mengikuti jejak Ibunya bersekolah hingga jenjang pendidikan S3

Penulis: Prayatni Soewondo, Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *