Be Kind to Yourself First

Stephanie dengan kedua orang tuanya yang selalu memberinya kebebasan memilih

Besar di keluarga dengan dua bersaudara, dengan satu adik perempuan, membuat saya tidak tahu bagaimana sikap orang tua saya jika mendidik anak laki-laki. Kedua orang tua saya adalah full-time workers; ibu saya bekerja sejak sebelum mereka menikah dan beliau bekerja terus tanpa leda di luar cuti hamilnya, dan ayah saya juga tidak pernah melarang ibu saya bekerja. Berkaca pada buku Lean In karangan Sheryl Sandberg, COO dari Facebook, yang membahas tentang gender stereotype, saya memiliki pengalaman yang minim. Yang bisa saya bagi adalah bagaimana sikap saya sebagai perempuan mencoba mencari tujuan dan tantangan hidup.

Sedari dini, saya diajarkan bahwa semua datang dari kerja keras – don’t take anything for granted. Setiap individu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kekurangan itulah yang harus dipoles dan disiasati sehingga menjadi nilai lebih. Sehinga saya tumbuh menjadi pribadi yang perfectionist. Satu hal lagi yang saya bawa sampai saya dewasa adalah kebebasan bertanggung-jawab. Saya selalu diberi kesempatan untuk mecoba apa yang saya inginkan dengan satu syarat; sebelum mencoba, pikirkan kelebihan dan kekurangannya. Nilai ini yang membuat saya senang untuk belajar sendiri with my own pace.

Sebagai anak pertama, saya lebih cepat mandiri walaupun tentunya orang tua masih mengawasi dan memberi masukan seperti sekolah mana dan jurusan apa yang sebaiknya saya ambil. Keputusan besar pertama yang saya ambil sendiri adalah keputusan melanjutkan pendidikan master di luar Indonesia. Karena pada saat saya belajar pada strata Sarjana Teknik di Indonesia saya tertarik dengan teknik bioproses (suatu teknik penerapan dasar teknik kimia dalam penggunaan material biologis termasuk mikroba), pada saat tugas akhir, saya mengambil topik pharmaceutical component. Pengalaman ini  membuat saya tertarik dengan penerapan teknik kimia di dunia medis. Berdasarkan pengalaman ini saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya di Jepang dalam bidang tersebut dengan pertimbangan minimnya kesempatan belajar bidang tersebut di Indonesia. Saya memantapkan diri untuk mengambil studi dalam bidang chemical system engineering – bidang multi-disciplinary yang mencari solusi praktis dari permasalahan masyarakat dengan mengembangkan system teknologi yang mencampurkan antara pengetahuan kimia dan biologi. Saya terutama mempunyai ketertarikan pada isu health deprivation yang disebabkan oleh kegagalan organ tubuh. Ya saya memilih fusion antara chemical engineering dan bioengineering. Komentar orang tua mungkin sama saat mendengar bidang itu, ‘Apakah tidak susah mencari peluang kerja setelah lulus?’. Walau begitu, orang tua saya tetap menyerahkan pilihan kepada saya dan menekankan pentingnya mempertimbangkan keuntungan dan kekurangan dari bidang tersebut. Long story short, setelah menjalankan proses pengenalan terhadap prospective lab (proses pertimbangan mengenai topik apa yang ditawarkan lab tersebut dan di mana saya bisa berkontribusi) dan seleksi, saya dinyatakan diterima di The University of Tokyo.  Oktober 2012, bulan  dimana saya meninggalkan Indonesia dan bertolak ke Jepang, menjadi one of biggest turning points in my life.

Salah satu sudut kampus Tokyo University: terlihat pohon Ginko yang berubah menjadi kuning pada music gugur, daun warna kuning itu yang merupakan lambang universitas ini

Dalam menjalani kehidupan di Jepang, saya mendapatkan kesempatan berinteraksi tidak hanya dengan orang Jepang tapi juga dengan  international society yang sangat membuka mata saya terhadap pentingnya kemampuan adaptasi terhadap lingkungan, tentunya dengan tidak melupakan identitas dan kemampuan diri sendiri juga. Perlu diketahui di sini bahwa secara tradisional pola kerja orang Jepang terkenal rigid, dengan mindset yang berkata seolah-olah seorang inpidu yang tidak lembur itu malas (Walaupun perlu ditekannan juga di sini bahwa cara kerja orang Jepang yang seperti ini seiring dengan waktu mulai berubah juga).  Yes, pada awalnya I tried to work like a Japanese from Monday-to-Friday, but because of that I didn’t have much energy justify to enjoy my weekend. Seiring dengan waktu, saya sadar bahwa cara ini tidak cocok untuk saya dan saya harus mengubah cara kerja saya. Beruntungnya saya memiliki seorang Profesor yang result-oriented, beliau tidak menekankan perlunya lembur untuk menunjukkan kerja keras, beliau sadar bahwa long working hours tidak selalu berbanding lurus dengan output, sehingga saya diberikan fleksibilitas dalam pengaturan jadwal saya.

Saya lalu menerapkan strategi dengan mengatur secara detil jadwal eksperimen saya, termasuk didalamnya pengaturan poin-poin  waktu yang singkat. Ini sangat membantu saya karena pada umumnya eksperimen biologi memakan waktu lama. Di dalam lab, saya juga mempunyai banyak kolega, having many colleagues means that I need to share the laboratory space and instruments, jika waktu tidak terkoordinasi dengan baik akan susah untuk menyelesaikan pekerjaan saya.  Itu yang membuat saya harus lembur pada waktu-waktu sebelumnya, karena saya harus menunggu giliran untuk pemakaian lab ataupun alat. Ditambah lagi, namanya juga eksperimen, semuanya tidak selalu berjalan mulus, sehingga ada saja eksperimen yang mungkin harus dikerjakan ulang atau diubah metodanya. Tapi setidaknya dengan strategi pengaturan jadwal ini, saya berhasil mengurangi waktu lembur saya. Dari pengalaman ini, saya belajar sesuatu – If you need to change, change now. Dragging problems wont make the problems solve itself. Focus on problems as references for solutions rather than complaining about them.

Stephanie saat sedang di lab melakukan eksperimentasi, terkadjang bahkan Stephanie harus bekerja sampai pagi buta karena banyaknya trial and error pada saat eksperimen

Keputusan besar kedua saya adalah saat saya menolak kesempatan pendidikan doktor dengan penuh pertimbangan dan memutuskan memperpanjang masa tinggal saya di Jepang dengan mencari kerja – tantangan lain dengan tanggung jawab yang lebih besar. Profesor saya sangat mengapresiasi hasil kerja saya selama dua tahun dan kebaikannya selama saya studi Master membuat berat bagi saya untuk menolak tawaran PhD dari beliau, ditambah juga susahnya mencari kerja di Jepang yang mempunyai tingkat kompetisi yang tinggi, menambah berat keputusan saya. Pada saat itu juga saya amati banyak orang Asia yang mempunyai karakter ‘tidak enakan’ untuk menolak sebuah tawaran, terlepas dari perasaan mereka sendiri terhadap tawaran tersebut, ditambah juga kecendrungan mereka yang ingin membalas kebaikan yang diberikan kepada mereka. Saya berpikir, saya setuju pada prinsip membalas kebaikan orang lain, namun menurut saya sebaiknya kita tidak mengabaikan keinginan diri yang sebenarnya.  Memang hal tersebut sangat susah bagi saya, dan pada saat itu saya struggled a lot. Saat itu saya berpikir jika saya terima tawaran tersebut dan menyesal akan pilihan itu, saya juga mengkhianati kepercayaan profesor saya untuk menjalankan riset tersebut. Butuh waktu untuk berpikir dan memutuskan – Apakah ini pilihan yang tepat? Bagaimana jika saya melepaskan kesempatan emas? Bagaimana saya bisa menjaga hubungan yang baik dengan profesor saya setelah saya menolak tawaran tersebut? Saya putuskan untuk berdiskusi dengan beliau secepatnya terkait opini saya terhadap tawaran PhD dan bayangan saya terhadap masa depan saya. Ternyata profesor saya sangat positif menanggapi kekhawatiran dan keputusan akhir saya. Beliau malahan memberi masukan tentang job hunting dan hingga saat ini kami masih menjaga hubungan baik. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa kekhawatiran terhadap reaksi orang lain tidak akan habis jika tidak langsung dikemukakan. Profesor saya bukan cenayang yang bisa menerka pikiran saya dan saya terlalu lelah untuk memproyeksikan beberapa kemungkinan dari kombinasi keinginan sebenarnya saya, keputusan yang mungkin saya ambil, dan respon profesor terhadap keputusan tersebut. Hal ini menurut saya berlaku untuk semua tawaran dan kesempatan, everyone deserve to control their own decisions. Jadi pikiran kita bahwa sebuah kesempatan adalah bentuk kindness or even mercy should be changed. We can’t please everyone but at least we can try to please ourself.

Sekarang saya sudah bekerja di sebuah perusahaan Jepang, dan tahun ini memasuki tahun kelima saya menjalani kehidupan di Jepang. Saya masih harus terus menerus belajar mengasah kemampuan saya beradaptasi, menyelesaikan masalah di lingkungan yang dinamis (baik secara perbedaan budaya maupun perbedaan perilaku orang), being kinder and more honest to myself, find more interesting things, and positively face forward. Masih banyak simpangan yang harus saya jalani dan putuskan. It may jolt my life up-down, but stay postive, sip a coffee and enjoy!

Stephanie saat mendaki gunung Fuji pada suatu summer, disela kesibukannya Stephanie tetap menyempatkan diri untuk menikmati kehidupan di Jepang, sesuatu yang menurutnya penting untuk menjaga kebahagiaan dirinya

Penulis: Stephanie Liana
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *