Desain, Pemulihan dan Perempuan

Ratih dengan Jerapah di tangan, penuh senyum

Sudah semenjak hampir dua tahun ke belakang saya mulai tertarik mengenai konsep design and healing, atau desain dan pemulihan. Lalu kenapa melalui desain dan kenapa tentang pemulihan? Sejujurnya karena bidang ini terasa begitu dekat. Tahun 2012 saya dinyatakan lulus sebagai sarjana cumlaude dari jurusan desain interior salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Dan kini, saya turut berbagi pengalaman sebagai asisten dosen di sana.

Bila Anda pernah membayangkan cara kerja seorang psikolog, begitu juga idealnya cara kerja seorang perancang. Ia sebelumnya harus dapat memahami kebutuhan dan keinginan pemilik ruang, lalu mencarikan solusi ruangnya. Hal ini sangat terkait dengan konsep interaksi yang baik antara manusia-bangunan-lingkungan, sehingga tercipta manfaat yang besar.

Contoh mudahnya begini, seseorang yang awalnya sangat penyendiri dan memiliki masalah dengan kelebihan berat badan karena minim gerak, sedang membutuhkan desain hunian yang pas. Dari sisi ini, desainer tidak hanya harus mengetahui gaya estetika apa yang diinginkan penghuni/sedang trend saat ini, tetapi juga harus menyelami bagaimana dapat mengubah (co-create) kebiasaan malas bergerak dan sifat tertutupnya, melalui solusi ruang. Ia mesti memperhatikan arah cahaya matahari terbit dan terbenam, potensi view di sekitar hunian, penempatan program ruang, hingga pemilihan warna dan tekstur yang dapat menyeimbangkan kebutuhan fisiologis dan psikologisnya.

Singkatnya, melalui konsep ruang yang lebih manusiawi dan personal, pada akhirnya ruang dapat melakukan ‘charging’ atau ‘co-shaping’, sehingga manusia di dalamnya mendapatkan energi untuk mengerjakan peranan vital di hidupnya lebih baik, seperti untuk kebutuhan keluarga, teman, pekerjaan hingga dirinya sendiri.

***

Saya sejujurnya lupa, kapan pertama kalinya saya ingin sekali mengembangkan konsep itu. Kenapa konsep desain dan pemulihan begitu melekat dan menjadi ‘panggilan’ untuk diselami. Tetapi mungkin jika melihat pada sepuluh tahun yang lalu, tepatnya ketika saya hampir lulus SMA, ada banyak hal besar terjadi. Dan dengan keadaan yang saat itu sulit bagi saya, baik secara jiwa dan raga, akhirnya saya mengenal berbagai macam metode healing, baik medis, non-medis, hingga mistik.

Saya mempunyai pre-life trauma. Istilah pre-life trauma sendiri saat ini sudah lumayan banyak digunakan di Indonesia, terutama dalam terapi kesehatan holistik. Bahwasannya keadaan janin di dalam perut hingga beberapa tahun pertama seorang bayi dilahirkan ke dunia, membawa efek signifikan pada kehidupannya kelak. Bila saat di kandungan hingga proses lahirnya mengalami trauma dan belum sempat diterapi, maka hal tersebut sedikit banyak mempengaruhi cara ia berkehidupan –konsep ini merupakan kearifan lama, yang jarang terdengar akibat modernitas.

Pada saat itu ketika saya lahir, entah bagaimana ceritanya, dokter di rumah bersalin mengambil tindakan vakum. Artinya saat itu saya belum dalam keadaan siap lahir, tetapi ‘dipaksa’ lahir melalui penyedot, yang salah satu akibatnya, membuat bentuk kepala bagian belakang saya tidak rata, kaget dan trauma.

Sebagai anak pertama, saya dibesarkan dalam keluarga yang memang cenderung sangat konservatif, dan terutama ayah, sangat otoriter. Ke-otoriteran ini datang dengan berbagai sebab, ayah saya penderita depresi dan beliau dididik dengan konsep patriarki yang kuat dari kakek –seorang tentara yang memegang prinsip bahwa laki-laki harus selalu kuat, dan yang terkuatlah yang menang.

Dalam proses tumbuh kembang hingga menginjak usia SMA, saya tidak merasakan suatu keganjilan berarti, yang meskipun ada, saya tetap dapat menikmati kehidupan normal. Sampai ketika waktu sebelum masa-masa UAN, saya tiba-tiba sering mendengar perulangan kalimat dan visual yang menakutkan terkait cita-cita dan masa depan di dalam pikiran saya.

Anehnya, suara dan visual itu kian lama kian sering berputar dalam benak saya, sampai tidak dapat saya kontrol. Suara yang seolah menggambarkan betapa akan buruknya masa depan saya, saya tidak akan bahagia di masa depan, membuat saya takut sekali. Mungkin tidak dapat saya jelaskan bagaimana ketakutan itu. Tapi rasanya suara itu tidak mau enyah dan seolah menggelayuti kepala saya kemanapun saya pergi, dan sangat mempengaruhi keputusan hidup saya.

Sempat menceritakan hal ini kepada beberapa teman, tetapi mereka menganggap hal ini sepele, atau banyak juga yang tidak paham. Lalu, saya bertahan dengan cara hidup demikian hingga tahunan lamanya.

Singkat cerita, saat hampir lulus kuliah, saya akhirnya mau bercerita lagi pada seseorang. Saya lihat ia begitu peduli tentang kondisi saya, dan setelah waktu yang cukup lama, ia akhirnya berhasil meyakinkan saya (sambil agak memaksa) agar saya mau mencari pertolongan pada ahli jiwa.

Sejujurnya, berkenaan dengan isu mental seperti ini, memang tidak mudah. Apalagi saya dan keluarga juga tidak terlalu dekat hubungannya. Riwayat ayah yang otoriter dan berjuang dengan depresinya, membuat mudahnya timbul KDRT di keluarga kami. Awalnya saya pun enggan sekali mengakui mungkinnya diri saya punya masalah mental. Tapi, karena kondisi ketakutan ini sudah sangat mengganggu kehidupan kuliah dan mengancam masa depan saya, membuat gemetar, pusing, mual, dan hati yang penuh beban tiap kali mendengar suara/visual itu, maka, dengan dukungan teman-teman terdekat, akhirnya saya mau juga untuk memasuki fase pengobatan.

Tahun demi tahun saya jalani dengan banyak jenis terapi. Awalnya melalui pengobatan ke psikiater, sesi konseling dengan tenaga ahli, hipnoterapi, hingga mengikuti kelas-kelas kesehatan holistik dan meditasi, yang kesemuanya berbarengan sambil menjalankan keprofesian bekerja sebagai desainer interior di konsultan maupun kontraktor. Jujur, langkah-langkah ini tidak terjalani dengan gampang. Ada kalanya di hari yang sama, saya menangis setelah dari psikiater, lalu kembali ke studio dan bekerja secara profesional.

***

“Everything experienced is for healing process”

Saat-saat dimana proses pemulihan dimulai itu, adalah saat-saat dimana kita siap merangkul apa yang pernah terjadi dalam hidup kita, apa yang saat ini kita miliki, dan berprasangka baik pada masa depan. Pembelajaran itu yang kemudian saya dapatkan setelah melewati proses yang panjang dari pemulihan diri.

Suatu ketika saya sempat mengikuti sebuah kelas kesehatan holistik tentang ayuverda. Metode yang dikenal sebagai kebijaksanaan nenek moyang di Lembah Hindus 5000 tahun lalu ini, mempunyai suatu pendekatan yang unik. Ayuverda melihat bahwa tiap mahkluk bernyawa, sejatinya dibekali oleh kekurangan dan kelebihan alami, dan saling terkait dengan kondisi alam/waktu tempat ia dilahirkan. Hal yang terpenting dari keadaan itu adalah bagaimana memandang kelebihan/kekurangan alami tersebut melalui cara merawat yang bijaksana.

Cara merawat yang bijaksana inilah yang dimaksud, bahwa solusi untuk tiap orang bisa jadi sangat berbeda antara satu dan lainnya. Solusi penyakit batuk orang A dan B, tidak mesti obatnya harus sama, karena bisa jadi penyebab batuknya pun berbeda. Begitu juga dengan solusi ruang tidak harus sama antara klien satu dan lainnya. Warna merah untuk klien A sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja, sementara warna merah bagi klien B justru membuat suasana hati menjadi mudah represif.

Dari ayuverda, obrolan dengan pakar hipnoterapi, hingga pengalaman berjuang saat menjalani sesi konseling di psikiater, membuat saya tersadar, desain pun seharusnya punya nilai yang sama: memberikan solusi tepat guna bagi penghuninya. Dan solusi, tidak harus seragam, ia sangat beragam, sangat personal.

***

Kembali ke soal pengalaman healing saya sebelumnya, jujur, kata-kata yang dulu selalu menyelimuti saya hingga ketakutan/kepayahan dan sampai harus diterapi itu salah satunya mengenai perempuan. Sia-sianya saya karena dilahirkan sebagai perempuan. Sia-sianya semua kelebihan yang Tuhan berikan, karena pada akhirnya semua itu tidak akan tergunakan, dan secara kodrati perempuan hanya terlahir untuk urusan domestik –masak, macak, manak. Perempuan pantas dipersalahkan, meskipun ada KDRT. Perempuan tidak boleh punya hasrat atau mimpi yang tinggi. Rasanya saat itu saya malahan ingin dilahirkan sebagai laki-laki saja.

Tentu ada alasan kuat mengapa sampai pemikiran ini terbentuk dan akhirnya membelenggu diri saya. Pemulihan yang sebelumnya saya ceritakan, adalah untuk mengetahui apa saja yang pernah saya alami di belakang, sebagai histori dari kristalisasi pemikiran ini. Dan kini sedikit demi sedikit, saya mulai paham.

Mungkin ada banyak hal yang tidak dapat saya jelaskan terkait semua histori penyebab pemikiran sia-sia-perempuan itu mengendap. Tetapi yang ingin saya bagi adalah, ternyata perjalanan memulihkan diri dari trauma juga memulihkan cara pandang saya terhadap dunia di sekitar. Salah satunya, cara pandang tentang gender. Bahwa sebenarnya secara alami tiap-tiap inpidu paham dirinya memiliki femininitas dan maskulinitas, dalam berbagai komposisi. Bias gender itu diajarkan, bukan sesuatu yang alamiah.

Dan, meski sudah dalam kondisi yang lebih baik terkait cara pandang, saya pun kadang masih sedih apabila mengalami bias gender, salah satunya dalam hal profesionalitas.

Sudah setahun lebih saya memulai karir baru menjadi tenaga konsultan lepas di bidang desain interior arsitektur dengan membawa idealisme desain & pemulihan. Ada saja ternyata yang merasa ragu, apakah saya, sebagai perempuan, mampu mengemban tugas profesional seperti memimpin, mengambil keputusan dan menghasilkan karya yang baik?

Perilaku semi-diskriminatif sesama staf pengajar karena perbedaan gender, juga pernah terjadi. Seperti jokes-jokes tumbuhnya populasi gay adalah karena para perempuan mulai ke luar rumah dan bekerja, para perempuan miskin/gagal cintanya karena mengejar karir dan mimpi, dan sebagainya.

Dan ini bukan hal yang asing terdengar. Tetapi cukup menjadi perhatian saya bahwa kita telah lupa, kebijaksanaan sejati tentang kedudukan manusia itu sama, terlepas apakah ia perempuan atau laki-laki. Dalam tiap inpidu, kita punya femininitas dan maskulinitas, untuk saling mendukung dan bukan malah menghalangi atau berkompetisi tidak sehat. Dan itu, menjadi tugas negara, sekolah, media, dan kita semua untuk lebih sadar dan saling mengingatkan.

Kalau perempuan harus selalu ada demi keluarga dan negara, mengapa keluarga dan negara tidak ada untuk perempuan?

Penulis: Ratih Handayani
Childlike yet old soul. Gampang diajak bicara kalo ada kopi dan bakmi. Seorang interior-arsitektur desainer berbasis riset.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *