For the Love of Digital Chips

Fafa adalah seorang Electrical Engineer yang punya passion besar terhadap Digital Chip Technology yang mengejar mimpinya sampai ke negri Jerman. Apa ya kira-kira yang dipelajari Fafa selama di sana?

Setiap ditanya baik dalam percakapan santai maupun interview kerja, “Apa pengalaman tersukses yang Anda capai sejauh ini?” Jawaban saya masih tetap sama semenjak interview kerja pertama tujuh tahun lalu, “Berkesempatan berkuliah di Institut Teknologi Bandung untuk mendapat gelar sarjana.”

Saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk berkuliah di Institut Teknologi Bandung, Jurusan Teknik Elektro. Memiliki banyak teman bertalenta menjadi motivasi saya untuk belajar dengan tekun. Waktu kuliah  ini saya membuat definisi mengenai dua macam manusia, yang pertama adalah manusia yang memang dilahirkan dengan ‘bonus’ talenta. Contoh nyata adalah beberapa teman, yang hanya duduk tenang memerhatikan dosen menjelaskan, sudah bisa mengerti keseluruhan materi, dan tak takut sama sekali untuk menghadapi ujian. Manusia yang seperti ini nilai ujiannya pun tak perlu ditanya, penuh dengan indeks terindah, dihiasi si alfabet ‘A’. Sementara jenis manusia kedua, adalah orang yang butuh kerja keras ekstra untuk memiliki prestasi. Contoh nyatanya  adalah diri saya sendiri. Manusia yang jenis ini biasanya usahanya banyak, dari mulai kehadiran penuh di setiap kuliah, rajin dalam mencatat apa yang dosen terangkan, membaca buku referensi, latihan soal, sampai bertanya pada teman, sehingga pada akhirnya kami bisa mendapatkan nilai ujian cukup untuk lulus.

Di kampus ini pula, pertama kali saya dibuat terpana oleh dunia digital. Di dunia ini, saya belajar representasi angka biner 0 dan 1. Untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa semua perangkat digital yang kita gunakan, komputer, handphone (jaman itu belum jamannya smart phone), kalkulator, dan lain sebagainya, mengeksekusi bilangan 0 dan 1 saja. Setelah mendapatkan mata kuliah dasar mengenai Sistem Digital, saya terus menekuninya dengan mengambil mata kuliah pilihan berhubungan dengan perancangan sistem digital.

Fafa (paling kanan) bersama teman-teman kuliahnya di University of Applied Science Ravensburg Weingarten

Agustus 2012, setahun setelah lulus S1 dan bekerja di sebuah perusahaan elektronik di Cikarang, jadi titik balik kehidupan saya. Atas restu dan support dari keluarga, saya melanjutkan studi program master di Jerman.

Tibalah saya di sebuah kota kecil nan indah bernama Weingarten untuk melanjutkan studi. Selama dua semester, University of Applied Science Ravensburg Weingarten menjadi rumah saya. Menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia di kelas merupakan tantangan tersendiri, tak ada kesempatan bagi saya untuk berbincang dengan bahasa Ibu. Tapi ketakutan akan kesendirian pun tidak melekat lama, saya dibuat kagum akan sistem pendidikan di Jerman. Di Jerman mahasiwa ternyata tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan tugas di atas kertas, 70% ujian berdasarkan kerja praktek dan hasil dari praktik ini dipresentasikan sebagai ujian akhir. Dan yang lebih mengesankan lagi adalah hampir semua kerja praktek berkaitan dengan desain semikonduktor, topik kesukaan saya.

Waktu mengerjakan tesis selama rentang September 2013 – Maret 2014 menjadi pengalaman paling tak terlupakan bagi saya, untuk pertama kalinya saya bekerja di perusahaan di Jerman. Saya memiliki supervisor yang sangat baik. Topik tesis ini bukan desain chip seperti yang saya impikan, tapi mengetes chip yang sedang dalam proses development dengan aplikasi nyata. Aplikasinya adalah membuat sistem rekaman audio dan pemutar ulang rekaman yang mengimplementasikan banyak algoritma matematika untuk kompresi dan dekompresi. Ketika wawancara, saya langsung jujur kepada supervisor saya, bahwa saya tidak pernah punya proyek seperti ini, bahasa pemrograman yang harus saya gunakan saja tidak saya kuasai. Walau begitu supervisor saya dengan senyuman menjawab, “Setiap orang berhak memiliki kesempatan pertama.”

Hari pertama bekerja di kantor, saya  merasa seperti ‘alien’ yang baru mendarat di bumi. Di satu departemen besar yang terdiri dari 100 orang lebih, hanya tiga orang dari Asia, saya dan dua kolega pria dari Taiwan dan Filipina, dan dari 100 orang ini total hanya lima perempuan. Namun saya bertekad untuk tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Setiap hari, saya bekerja 8-10 jam, juga melanjutkan studi literatur di rumah, sampai pada akhirnya semua pekerjaan dapat saya selesaikan tepat waktu.

Fafa setelah keberhasilannya melewati Presentasi Thesis Masternya di University of Applied Science Ravensburg Weingarten

Hari saya harus Presentasi Tesis juga merupakan salah satu hari paling berkesan dalam hidup saya. Bukan hanya profesor dari kampus dan supervisor saya yang hadir, tapi juga beberapa kolega yang diundang oleh supervisor saya. Sekitar sembilan orang hadir di dalam ruangan, dan saya menjadi yang paling cantik (maklum, perempuan satu-satunya). Menjadi minoritas bukan lagi jadi ketakutan seperti pertama kali masuk kantor. Yang lebih saya takutkan adalah bagaimana bertanggung jawab akan tugas yang diberikan, dan berusaha memberikan yang terbaik. Dan hal yang lebih membuat saya terkagum adalah bagaimana hasil yang telah saya capai, berguna sebagai bahan analisa produk oleh kolega yang lain, dan dapat menjadi acuan untuk pekerjaan selanjutnya. Dengan pengalaman ini saya juga belajar sebuah nilai baru, manusia tidak bisa sukses sendirian, terlebih sebuah perusahaan. Perusahaan akan menjadi besar karena kehebatan pekerjanya bekerja sama dan bertukar ilmu satu sama lain.

Setelah lulus dari program master, saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Jerman. Dalam afiliasi dalam pekerjaan saya ini, kecintaan saya akan chip digital ini juga akhirnya bisa membawa saya terbang ke Negeri Paman Sam untuk menghadiri training di Headquarter perusahaan, suatu kesempatan yang sangat saya syukuri. Dalam acara itu saya melihat keberagaman yang luar biasa, dimana orang dari berpuluh-puluh bangsa yang berbeda berkumpul tapi tetap dengan mengemban satu tujuan yang sama, yaitu untuk mengembangkan teknologi, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada.

Melihat kembali kepada perjalanan saya selama ini, saya merasa bersyukur. Walaupun hingga saat ini saya masih seorang inpidu yang perlu ekstra kerja keras untuk belajar hal baru, sampai pada satu titik, setelah berbagai macam pemikiran, saya merasa lega bahwa saya memiliki definisi dua macam manusia ini. Berpegang pada definisi ini, saya percaya bahwa yang penting bukan siapa kamu, tapi apa yang kamu lakukan. Terlepas dari gender, suku, agama, wanna kulit; setiap pribadi bisa, dengan fokus dan kerja keras, mengembangkan dirinya sendiri.

Penulis: Fatmawati Santosa (Fafa)
Editor: Asih 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *