My Own Kind of Happiness


Prisanti atau biasa dikenal dengan Cupris tidak menyangka bahwa jalan hidupnya akan berubah secara tiba-tiba, tapi dalam perubahan itu ternyata Cupris belajar banyak, pembelajaran seperti apa sih yang ia dapatkan? 

Ketika saya menginjak tahun ke-5 setelah bekerja, saya merasa sudah memiliki semua yang saya butuhkan. Saya sudah melancong ke beberapa negara yang saya inginkan, saya sudah mempunyai rak pakaian dan sepatu yang saya idamkan, dan bisnis sampingan tempat saya bisa menyalurkan hobi saya. Saya kira, tahun tersebut akan menjadi tahun di mana saya bisa membuat lebih banyak memori dan pencapaian baru.

Bukan rahasia lagi kalau selama 3 tahun ke belakang, dunia oil & gas sedang mengalami pasang surut. Hal ini berimbas kepada semakin menyempitnya kesempatan proyek dan pekerjaan yang ada. Tidak terkecuali bidang engineering service yang sudah saya geluti semenjak pertama kali bekerja. Tidak terhitung berapa banyak e-mail perpisahan dari rekan-rekan kerja yang masuk ke inbox saya setiap minggunya, mulai dari rekan yang hanya dikenal lewat daftar forward e-mail ataupun teman yang duduk di cubicle sebelah. Sehingga mungkin bukan kejutan ketika akhirnya nama saya masuk ke daftar layoff di divisi saya.

Di hari pertama saya menyandang kembali gelar pengangguran semenjak lulus kuliah, ada perasaan aneh yang menganggu. Di satu sisi, saya senang ketika akhirnya bisa memiliki kembali banyak waktu yang tidak saya miliki sebelumnya. Saya merasa baik-baik saja ketika bisa kembali menggunakan sweater dan celana santai dibanding berpakaian rapi ke kantor. Saya masih optimis dengan berbagai kesempatan yang ada di depan mata. Toh saya masih punya bisnis dan berbagai rencana yang tertunda. Toh saya masih bisa bertahan beberapa bulan lagi dari uang pesangon yang saya dapatkan. Toh masih banyak kesempatan pekerjaan di luar bidang oil & gas. Tapi lama-kelamaan, rasa takut mulai menghinggapi hidup saya.

Saya merasa gagal atas diri sendiri karena tidak punya pekerjaan ataupun jaminan asuransi kesehatan. Saya takut mengecewakan kedua orang tua saya yang sudah menyekolahkan saya. Saya takut teman-teman saya diam-diam mengasihani saya. Saya merasa rendah diri karena nasib saya tidak sama dengan orang lain. Di saat itu juga setelah kondisi saya diketahuin oleh teman-teman saya, banyak teman yang tiba-tiba mengirimkan saya lowongan pekerjaan, banyak juga yang berusaha menyemangati saya, tapi ini malah membuat saya semakin benci dengan kondisi saya. Saya merasa tidak ada yang benar-benar mengerti perasaan saya saat itu. Walaupun saya selalu merasa sebagai orang yang optimis, tapi baru pada saat itulah saya benar-benar mengerti arti kata depresi.

Untuk mengatasi perasaan saya, saya lalu banyak membaca artikel motivasi yang terkait kondisi yang saya rasakan. Kebanyakan dari artikel-artikel itu menyarankan saya untuk re-think, re-evaluate, re-calibrate, re-shape, dan sederet kegiatan repeat lainnya. Tapi tidak ada satupun yang mengena di pikiran saya. Saya bukan orang yang biasa bercerita kepada orang lain tentang kegelisahan saya, bahkan hasil tes psikologi saya mengatakan saya introvert. Saya tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan saya yang  selalu merasa sendirian.

Semua hal tersebut membuat saya lebih banyak menuangkan ketakutan saya dengan menggambar dan menulis. Saya tidak banyak berpikir saat itu. Saya cuma merasa bahwa kegiatan tersebut menyita perhatian dan membuat saya tidak akan punya waktu untuk berpikir panjang tentang suramnya masa depan. Saya lalu mengubah hasil karya tersebut menjadi banyak produk di bisnis yang saya miliki dan saya semakin menikmati hal tersebut seiring berjalannya hari. Setelahnya, saya malah menemukan banyak jawaban atas pertanyaan yang selalu saya tanyakan di cubicle saya sewaktu masih bekerja. Saya merasa semakin mengenali diri saya sendiri lewat karya yang saya hasilkan.

Sedikit dari hasil karya Cupris untuk bisnisnya, menuangkan kegelisahannya ke dalam hasil karya ternyata membantunya mencari jawaban atas kegelisahan-kegelisahannya. 

Turning point lainnya mungkin terjadi ketika di sebuah bazaar yang diikuti bisnis saya, saya melihat seorang anak kecil yang memeluk produk saya dengan erat sambil tersenyum. Walaupun pada akhirnya orang tua anak tersebut tidak jadi membelikan barang yang diinginkannya, senyum anak tersebut tidak bisa hilang dari ingatan saya. Saya jadi mengingat bahwa hal-hal kecil seperti membuat orang lain tersenyum adalah pencapaian yang paling saya nikmati dalam hidup.

Perdebatan saya dengan diri sendiri adalah sesuatu yang sangat disayangkan. Harusnya saya bisa lebih percaya diri dengan apa yang saya miliki dan tidak perlu merasa minder dengan kondisi yang saya miliki. Rasa takut adalah suatu hal wajar yang akan datang dan pergi, bentuk pengingat yang baik ketika memasuki jenjang kehidupan yang berbeda. Selama saya berusaha sekeras mungkin dan tidak pernah berhenti untuk menjadi versi terbaik dari diri saya, I think my life would be just fine.

Apakah kemudian saya langsung sukses dan bisnis saya mendapat ribuan order? Nggak juga tuh. Sampai saat ini, saya tidak juga mendapat panggilan interview kerja, tabungan saya semakin menipis, bisnis saya masih di situ-situ saja, but I’m the happiest I’ve ever been. Saya sendiri belum memutuskan apakah saya akan terus berbisnis atau suatu saat saya akan kembali mengejar bus di pagi hari dan duduk di meja kantor. But I think, it’s okay to not feel rushed out. It’s okay to not figure it out, just yet.

Ternyata Cupris bisa menemukan kebahagiaan jika karyanya membuat orang lain tersenyum, dan itu membuatnya merasa lebih tenang dalam menghadapi what lays ahead 

Perempuan, apalagi di Indonesia, punya banyak standar di masyarakat. Saya banyak berpikir tentang bagaimana hidup saya selepas kuliah yang terburu-buru. Diburu pergunjingan ketika belum mendapat pekerjaan, belum menikah, belum mempunyai rumah, dan sederet belum yang lain. Rasanya seperti berpacu dalam waktu, yang seharusnya berjalan berbeda untuk masing-masing orang.

Saya rasa, di zaman ketika banyaknya pencapaian dan dokumentasi momen menjadi salah satu tolak ukur kehidupan, mundur sejenak dan bertanya pada diri sendiri mengenai hal apakah yang benar-benar ingin dicapai bisa menjadi wake-up call yang baik. Ketika saya berusaha mengingat momen apa yang benar-benar penting di dalam hidup, saya berhasil berdamai dengan diri saya sendiri. Definisi sukses tidak harus selalu tentang menyampaikan pendapat di ruang meeting, tidak selalu tentang menyeimbangkan pekerjaan rumah tangga dan kehidupan sosial, tetapi juga bagaimana saya mengambil keputusan dalam hidup yang juga mengutamakan diri saya di antara kepentingan lainnya.

Teruntuk salam kepada semua perempuan yang berjuang tanpa henti untuk karirnya, untuk membesarkan anaknya, untuk membanggakan orang tuanya, untuk mencintai dirinya sendiri, untuk mencintai satu sama lain. You are all awesome already :)

Penulis: Prisanti Putri

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *