Belajar Memaknai Waktu yang Ada

Tulisan ini saya dedikasikan untuk para ladies yang sedang menemani suami dinas di luar negeri. 

Ayo tetap semangat mengejar mimpi!

 Asri yang tidak pernah menyangka akan menemukan dirinya tinggal di Cape Town, Afrika Selatan

“Despite this, most people spend most of their time preparing their dinner, than preparing for an interview….”

– James Reed

Kata “mak jleb..” mungkin adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya, saat membaca salah satu paragraf di buku yang sedang saya baca. Gimana enggak, pas lagi baca rangkaian kata itu, karena saya sedang menemani suami yang dinas di luar negarei, saya sedang di posisi jobless. Hari-hari saya kurang lebih hanya diisi dengan kesibukan masak-memasak dan browsing internet. Hari-kari yang kerap membuat saya larut dalam rutinitas yang membuat saya lupa akan mimpi saya.

Ini bukan kehidupan yang saya bayangkan.  Dua tahun yang lalu, dunia saya begitu dinamis. Ketika itu saya sedang giat-giatnya menjalani profesi sebagai seorang jurnalis. Pekerjaan saya memberikan saya kesempatan untuk berkeliling Indonesia dan mewawancarai tokoh-tokoh penting di Indonesia. Sangat seru dan tentunya kontras dengan apa yang sedang saya jalani saat ini.

***

Tentunya satu hal yang menjadi kekhawatiran ketika kita harus hijrah ke luar negeri, apalagi untuk posisi seperti saya yaitu menemani suami dinas di luar negri, adalah nasib pekerjaan kita yang harus terhenti. Apalagi jika kepindahannya lebih dari satu tahun. Berbagai pertanyaan dan keraguan muncul terkait dengan masa depan karir kita. Gimana nanti kalau harus apply lagi kerja, sementara ada gap year di CV kita saat kita meninggalkan pekerjaan?

Asri dan Suami di menikmati quality time di luar negri

Momen-momen “jobless” ini semakin terasa ketika saya melihat newsfeed media sosial. Terlihat teman-teman asik bergeliat dengan profesi dan kesibukan mereka. Saya merasa “one step behind them”. Rasanya bingung harus memulai dari mana lagi untuk bekerja saat nanti saya balik ke Indonesia.

Ditengah rasa kebingungan ini, pada satu titik saya merasa ada dorongan yang kuat dari diri saya untuk bangkit dan “memulai lagi”. Dorongan yang kuat ini muncul setelah saya banyak menghabiskan waktu untuk menonton dan membaca buku-buku tentang personal development. Bagi saya buku dan conference video tentang personal development seperti “suntikan vitamin” yang kembali menyegarkan semangat saya untuk belajar. Saya putuskan saat itu bahwa, dimanapun saya berada saya harus terus belajar!

Saya memulai niat saya dengan mengikuti les persiapan IELTS yang mempertemukan saya dengan teman-teman dari negara Amerika Latin. Pertemuan dengan teman-teman dari Amerika Latin yang kebanyakan supel dan ramah, membuat saya tertarik untuk mengambil les bahasa Spanyol. Di momen ini pula saya kembali menemukan passion untuk memperdalam ilmu komunikasi. Saya mendapatkan lagi semangat dan dorongan untuk melanjutkan master degree yang selama ini saya impi-impikan.

Tak hanya mengambil les bahasa, saya juga menyibukan diri dengan mengikuti berbagai kelas, mulai dari pilates, tari latin, serta tenis. Hingga saat ini, selama setahun lebih saya tinggal di luar negeri, saya tak menyangka bahwa saya dapat melakukan begitu banyak hal baru yang semuanya saya mulai dari nol. Berbagai macam kegiatan ini juga banyak membantu saya untuk mendapatkan kembali rasa percaya diri.

Asri (di tengah) bersama teman-temannya yang membantunya menemukan kembali rasa percaya dirinya

Berdasarkan pengalaman saya ini, saya jadi sadar betapa pentingnya merencanakan waktu kosong kita. Kalau kita cenderung untuk go with the flow tanpa ada kegiatan apapun, ujung-ujungnya waktu habis untuk browsing internet atau lebih parah lagi terhanyut dalam media sosial. Jika kita terus terperangkap dalam siklus seperti ini, hal ini bisa merusak self esteem kita. Determinasi saya untuk terus mengisi hari-hari dengan hal-hal produktif, walaupun sedang tidak bekerja, menjadi kian terteguhkan.  I truly believe that if we can balance and manage our time between investing in personal development and taking care of our family, there are so many things we can achieve,

Berikut ini beberapa kegiatan yang membantu saya untuk terus fokus mengejar mimpi dan tujuan saya di saat saya sedang in between jobs dan hidup di luar negri selama satu tahun ini, siapa tahu list ini bisa membantu teman-teman yang berada di posisi yang sama seperti saya.

  • Buat self concept dan goal, kira-kira selepas balik ke negara asal mau kerja apa atau bisnis apa.
    Self knowledge tentang apa yang menjadi tujuan kita baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek bisa mempermudah kita untuk membuat rencana kegiatan dan goal harian.
    Menurut saya ada baiknya juga untuk menulis personal goal kita setiap hari, hal ini bisa membantu kita supaya tetap fokus dan menjaga motivasi.
  • Ambil kursus-kurus yang bisa menunjang karir (baik kursus bahasa, atau short course untuk marketing, programing, designing, dll)
  • Ikut berpartisipasi di  kegiatan NGO
    Jika kita sedang di luar negeri dan tidak punya visa kerja, kita sebenarnya masih bisa mencoba menambah pengalaman kerja dengan menjadi volunteer kegiatan di NGO. Volunteering bisa , selain membantu masyarakat, menambah keterangan kerja di CV kita.
  • Jaga hubungan dengan tempat kerja
    Ini penting karena siapa tahu setelah kita kembali ke tanah air, kita bisa kembali kerja disana
  • Pergi ke café/ tempat favorit buat jadi ruangan kerja.
    Pengalaman saya, biasanya kalo waktu dihabiskan di rumah, cenderung kurang produktif dan kurang mengispirasi. Saya percaya bahwa lingkungan memiliki peran penting  untuk menciptakan momentum yang bisa  membuat kita lebih produktif.
  • Sering-sering pergi ke toko buku.
    Mumpung punya banyak waktu lowong, bisa jadikan momentum untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya melalui buku. Saya sendiri suka banget pergi ke toko buku, untuk numpang baca-baca buku yang inspiratif dan juga menambah wawasan.
  • Coba bisnis kecil-kecilan dengan menjual barang-barang dari luar negeri yang kira-kira menarik untuk pasar Indonesia
    Seru juga ternyata iseng-iseng menjual barang khas luar negeri yang tidak ada di Indonesia, saya sendiri mencoba untuk berjualan lewat media social dan ternyata ada saja teman yang tertarik untuk membelinya.

***

Saya bersyukur karena saya tidak lama-lama merasakan momen galau. Tidak lama setelah berkonslutasi dengan suami dan merefleksikan diri, saya akhirnya came up dengan ide-ide di atas. Pun hingga sekarang, saya masih belum tahu kapan saya akan kembali ke Indonesia. Tapi dengan berbagai kegiatan yang ada ini, saya malah merasa menjadi pribadi baru yang kaya akan berbagai pengalaman. Kepindahan saya ke luar negeri ini, justru membantu saya untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan, yang mungkin tidak akan saya dapatkan, jika saya tidak mengambil gap year seperti ini.

Good luck ladies, jangan menyerah menggapai mimpi!

Asri yang telah kembali ceria karena ia berhasil mengambil kembali kendali akan waktunya sendiri

***

Tentang penulis
Asri Nirmalawati merupakan mantan jurnalis, yang saat ini sedang menemani tugas suaminya di Cape Town, Afrika Selatan
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *