Don’t Judge a Person by Their Job

Jangan Menilai Seseorang Berdasarkan Pekerjaan Mereka

Pernahkah Anda makan dengan nyaman di sebuah restoran, atau menjelajahi toko, lalu tiba-tiba disuguhi ‘adegan sinetron’ pelanggan memaki-maki pelayan karena sebuah kesalahan? Atau adegan tersebut akhir-akhir ini sering terjadi di sekitar Anda?

Awal tahun 2012 lalu, saya berkesempatan menjalani jeda perkuliahan dengan cara yang—boleh saya bilang—tidak biasa, dengan bekerja magang di salah satu toko pakaian selama seminggu. Kenapa tidak biasa? Sekedar latar belakang saja, saya biasanya hanya menjadi konsumen pasif yang menganggap mall adalah tempat nonton bioskop dan makan enak. Selain itu, ketika itu saya sedang kuliah semester 2 di Jurusan Teknik, tidak tahu-menahu tentang customer relation, dan juga saya nggak berpenampilan feminim yang umumnya menjadi tuntutan pekerjaan salesperson. Tapi pada posisi magang ini saya ditempatkan menjadi sales promotion girl, alias pramuniaga.

Nggak nyambung? Jelas. Iseng? Banget. Tapi pengalaman ini membuat saya belajar banyak hal baru, dan terutama, menghargai orang lain dan pekerjaannya.

***

Keisengan ini bermula dari ibu saya, yang sejak beberapa tahun sebelumnya berulang kali mengajak saya magang di toko pakaian milik temannya. Karena saya menganut paham “surga itu di telapak kaki ibu”, jadi meskipun ukuran kaki ibu saya kecil, saya iyakan saja keinginannya. Toh, saya pikir, dengan magang mungkin saya bisa mendapatkan uang jajan tambahan. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya niat itu baru terlaksana saat saya kuliah.

Mengawali magang, saya datang ke Kantor Pusat Brand Pakaian tersebut di daerah Daan Mogot, Jakarta, untuk mendapatkan briefing awal terkait penempatan dan lingkup tugas. Tidak tanggung-tanggung, saya ditempatkan di cabang terbesar dan terlengkap dari brand tersebut yang berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di bilangan Senayan, Jakarta. Okay, saya pikir, karena saya toh cuma bekerja seminggu, dengan begini pengalaman saya bisa lebih banyak. Selain itu saya diminta menggunakan seragam yang disediakan serta sepatu dengan hak setinggi 5 cm. Saya juga diminta datang pukul 08.30, satu setengah jam sebelum mall tersebut buka.

Tibalah hari pertama yang dimulai dengan kecanggungan hari pertama. Saya yang biasanya hanya menjadi konsumen mall, harus mencari jalan khusus pegawai; yang ternyata jalan kecil dengan resiko terhimpit truk dan berdesakan bersama barang-barang stock toko. Sampai di depan toko, ternyata saya yang pertama sampai. Tak lama kemudian, pegawai-pegawai—yang setelah ini sepertinya lebih akrab kalau saya sebut Mbak—yang lainnya tiba.

Suasana mulai cair ketika saya diajak berkenalan, sembari ketiga Mbak yang lain mengecek persediaan barang hari itu. Mereka memberi saran, “Lain kali datang dan make-up-an di sini aja, nanti kita bantuin. Kita biasa dateng polos gini, maklum sambil ngurusin suami sama anak.” Memang ketika mereka datang tadi dengan mudah mereka mengenali saya sebagai anak magang, karena penampilan saya paling mencolok: duduk di depan pintu toko, seragam lengkap dan dandanan lengkap. Berbeda sekali dengan Mbak-Mbak lain yang datang dengan dandanan santai dan baru ganti baju di dalam toko sembari saling bantu dandan.

Aturan seragam selama Pritta bekerja sebagai SPG

***

Pekerjaan utama saya tidak melingkupi pekerjaan khusus. Pekerjaan saya adalah membantu pelanggan secara umum, menata barang display, dan mengecek artikel pakaian. Di luar itu, saya diajarkan beradaptasi dengan kebiasaan dan etika SPG di sana, yang diterapkan selama 8 jam setiap harinya. Semua etika tersebut sebelumnya tidak pernah saya perhatikan saat menjadi pelanggan yang datang ke suatu toko. Etika-etika ini termasuk di dalamnya:

  1. Istirahat singkat boleh dilakukan secara bergantian di gudang yang ukurannya sebesar kamar pas yang penuh dengan stock barang
  2. Tidak boleh terlihat makan, minum, maupun pegang handphone di luar gudang
  3. Tidak boleh lepas sepatu sembarangan (ini tantangan terberat buat saya yang nggak tahan pakai sepatu hak!)
  4. Untuk penggunaan toilet, kami dapat pergi ke toilet khusus pegawai yang biasanya terletak di lantai tertentu, tapi kalau sudah kepepet, kami bisa ke toilet pelanggan asal menggunakan jaket untuk menutupi seragam.

Selama 7 hari itu, banyak pengalaman tidak biasa yang saya rasakan. Saya jadi tahu rasanya makan siang di kantin supir yang rasanya enak tapi saking panas dan sumpeknya bisa sekaligus sauna gratis. Saya jadi tahu berharganya ‘istirahat’ dengan berselonjor kaki di lantai parkiran karena tidak ada tempat memadai. Saya jadi tahu betapa dimanjakannya pelanggan mall dengan toilet pelanggan, berbeda sekali dengan pekerja mall (sungguh, setelah itu saya selalu mengucapkan terima kasih kepada cleaning service toilet di mall manapun). Saya juga jadi tahu ada Mbak yang selalu berangkat mengenakan kerudung, namun saat bekerja dilepas karena kurang percaya diri. Dengan mendengarkan cerita Mbak-Mbak yang lain, saya jadi tahu hampir setiap malam mereka saling mengunjungi, entah itu untuk mengobrol, atau bantu-bantu di rumah. Kebiasaan mereka ini yang juga membuat keluarga mereka menjadi dekat seperti saudara.

Satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah, suatu kali, datang 2 orang pelanggan, yang merupakan ibu dan anak lelakinya yang sudah cukup dewasa. Saya menawarkan diri membantu sembari mereka melihat-lihat koleksi kemeja dan celana pendek, dan sang anak meminta saya mengambilkan beberapa helai kemeja untuk dicoba. Saat sang anak masuk ke kamar pas, sang ibu, yang berada di dekat saya dan 1 orang Mbak lainnya, langsung berkomentar, “Mbak, kenapa sih bajunya modelnya jelek-jelek banget gini?! Kalo bukan karena anak saya suka, saya nggak bakalan deh beli. Ini cuma karena anak saya, saya juga nggak ngerti kenapa anak saya suka!”

Beruntung toko sedang sepi. Saya dan teman saya hanya tersenyum simpul. Tidak tahu apakah sang anak mendengar percakapan itu atau tidak, tetapi kemeja-kemeja yang ia coba tidak jadi dibeli dan akhirnya sang anak membeli 1 celana pendek yang sedang diskon.

Beberapa hari setelah magang, saya diberikan sejumlah uang sebagai honor bekerja. Bukan main senangnya saya mendapatkan hasil dari jerih payah saya sendiri, berdiri hampir 8 jam selama seminggu (tambahan: dengan sepatu yang salah ukuran; walhasil kedua ibu jari kaki saya mati rasa selama hampir 1 bulan).

Baru belakangan ini saya tahu, bahwa Ibu saya sempat meminta agar saya tidak perlu diberi honor. Tapi yang lebih penting—dan ini yang menjadi tujuan utama Ibu saya—adalah saya bisa melihat dunia dari sisi yang lain.

Bahwa semua orang dituntut untuk memiliki banyak peran dengan berbagai standar: dalam pekerjaan, teman, maupun keluarga.

Bahwa hari kerja yang normal adalah anugerah, karena jadwal mereka yang bekerja di bidang ini membuat waktu dengan keluarga menjadi lebih sedikit, yang harus diterima sebagai resiko pekerjaan.

Bahwa terlambatnya gaji beberapa hari mungkin bukan masalah bagi sebagian orang, namun sebagian yang lain perlu lebih memutar otak dan menderita sedikit lebih lama karena mereka ikut menyokong perekonomian rumah tangga, perlu membayar kontrakan, atau membeli obat untuk orang tua.

Setiap orang bisa punya motivasi yang berbeda-beda untuk bekerja. Tapi pada akhirnya, setiap pekerjaan punya derajat yang sama. Tidak ada yang berhak didiskreditkan. Baik itu cleaning service, pelayan restoran, SPG, manager, data analyst, ataupun telemarketer. Bisa jadi suatu saat pekerja itu adalah Anda. Apapun pekerjaannya, semua memiliki tantangan tersendiri yang mungkin tidak dapat dipahami oleh orang lain. Namun di balik pekerjaan itu, setiap orang adalah manusia yang utuh seperti kita: seorang wanita, seorang pria, anak, istri, ayah; yang semuanya berusaha memenuhi kebutuhan mereka untuk mencapai kondisi yang lebih baik.

***

Di hari kemerdekaan ini, mari kita mengapresiasi semua pejuang-pejuang di sekitar kita.
Sekecil atau sebesar apapun perjuangan mereka di mata kita, hanya dengan mereka mengisi hidup penuh manfaat
dengan menjaga integritas, kejujuran, disiplin, kesungguhan dan kerja keras,
mereka telah memberi arti pada kemerdekaan.
MERDEKA

Penulis: Pritta
Editor: Asih
Ilustrasi : Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *