He Said: Igan & Tika

“It Takes Two” (Anonymous)

Igan dan Tika adalah pasangan suami istri yang berdomisili di Bandung. Kisah cinta mereka bermula dari SMA, ketika Igan bertemu Tika di sebuah bimbingan belajar di Bandung. Mereka berdua berkuliah di kampus yang sama di Bandung dan memutuskan menikah segera setelah lulus pada tahun 2009 dan saat ini rumah tangga mungil mereka sudah dikaruniai dua buah hati. Saat ini Igan bekerja di Jakarta, sementara Tika bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga dan entrepreneur di Bandung.

Tulisan berikut merupakan sekelumit catatan Igan tentang perempuan yang sudah menemaninya selama beberapa tahun belakangan ini. Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama dan pada kesempatan kali ini Igan ingin berbagi apresiasi dan cerita dari sudut pandang laki-laki mengenai perjalanan Tika sebagai seorang ibu, desainer dan perempuan yang bersemangat mencapai mimpi dan cita-citanya.

***

May 2005

Itu aku, yang memandang papan nilai tryout di tempat bimbel. Entah ini tryout keberapa yang sudah aku jalani. Tapi tidak ada satupun hasil tryout tersebut yang membuatku yakin lulus SNMPTN (namanya kala itu) untuk dapat berkuliah di tempat yang menjadi cita-cita orang tuaku untuk anaknya berkuliah.

Atika Permata Istimelati.

Aku menggumamkan nama perempuan yang kulihat dari daftar nilai tryout. Seingatku, sepertinya hanya ada 2 nama perempuan yang kala itu secara konsisten terus bercokol di urutan atas nilai tryout. Namanya adalah salah satunya yang konsisten ada di urutan 5 besar hasil tryout ini.

“Pinter banget ini anak, mau masuk ke manapun pasti bisa.” Pikirku kagum.

Kata Bunda, carilah istri yang pintar.

Maka, sepanjang yang aku ingat, itu adalah hari pertama dimana aku berdoa “Ya Tuhan, dia harus jadi istriku. aamiin”

***

Igan dan Tika saat masa kuliah

Juli 2005

Itu kami berdua, yang sedang duduk di warnet bersama banyak calon mahasiswa/mahasiswi lainnya untuk melihat pengumuman hasil SNMPTN.

Di balik sosoknya yang pintar, hatinya Tika sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta dengan seni. Namun karena ketidaksetujuan orangtuanya, jurusan Seni Rupa urung untuk dia ambil. Ia memilih untuk mengikuti SNMPTN dan memilih jurusan lain.

“Namaku ga ada…” Ia berucap lirih. Pandangannya seperti kosong.

Baru saat itu aku melihat Tika yang seperti ini. Hilang cerianya. Hambar mukanya. Aku coba tekan tombol F5 beberapa kali. Ah, siapa tahu memang servernya sedang error.

… Tidak ada hasil apapun. Namanya tetap tidak ditemukan di hasil pencarian.

“Udah… Ga perlu di-refresh lagi… Mungkin aku harus ngulang taun depan…” katanya lagi. Beberapa menit yang lalu dia masih bisa bercanda, tertawa dengan teman-teman nya yang juga sama-sama melihat hasil SNMPTN.

Aku terus mencoba menekan tombal F5 berulang kali, seolah tidak terima dengan hasil ini. Tidak terima kalau harus melihat perempuan ini bersedih.

Dia sudah bersandar di bangkunya. Aku terus mencoba. Mematikan browser, merestart komputer, menyalakannya lagi dan mengulangi proses pengecekan itu. Apapun lah, agar dia tidak sedih.

Rupanya mungkin tadi server memang sedang down, karena setelah beberapa percobaan namanya muncul. Lulus. Di pilihan kedua. Muka pucatnya pun kembali memerah. Raut wajahnya kembali ceria seperti semula. Walaupun memang bukan lulus di pilihan pertamanya, tapi lulus.

***

2009

“Ah, aku gak bisa lulus April ini” ujar Tika setengah kesal. Wisuda April merupakan wisuda tercepat dalam tahun ajaran di kampus kami. Normalnya mahasiswa yang lulus empat tahun akan wisuda di bulan Juli.

“Wah… Kenapa?” Tanyaku, sejujurnya aku sedikit excited. Ya, jahat memang namun ada sedikit rasa lega ketika dia tidak bisa wisuda di bulan April. Jujur aku minder kalau harus menyaksikan dia wisuda di April karena aku merasa itu akan menambah bebanku. ‘Apa iya aku adalah orang yang cocok untuk jadi imamnya’, ‘Apa iya dia mau dibimbing olehku yang mulutnya lebih cepat dari otaknya ini’ dan berbagai ‘Apa iya’ lainnya yang membuatku pesimis dengan diri sendiri.

Ia pun bercerita panjang lebar mengenai sebab rencananya untuk lulus April menjadi terhambat. “Eh, kamu gimana? Udah TA-nya?” Tanyanya di akhir cerita.

“Eh… Gimana? TA? Hmm… Udah-udah… Ini udah dapat topiknya.” Jawabku asal. Boro-boro topik, TA aja sampai saat itu masih ada di awang-awang.

“Ok… Mungkin aku gak lulus April ini biar bisa lulus bareng kamu di wisuda Juli ya.” katanya optimis.

“Hehehe… Iyaa, lulus bareng yaa…” Aku mengaminkan doanya sore itu.

Dimulai dari sore itu, aku menjadi terpacu dan jadi giat berusaha di bidang akademis. Aku berusaha ekstra untuk kuliah yang rajin dan mengerjakan tugas akhirku. Targetku satu, kuliahku selesai dan kami harus lulus bersama.

Bagaimana dengannya? Karena memang SKS dan tugas akhirnya sudah selesai, dia mulai ikut mengerjakan proyek bersama dosen di kampus. Saat itu aku masih menghabiskan uang jajan dari orang tua. Namun Tika sudah bisa menghasilkan uang yang bisa dipakai untuk membiayai kuliah adiknya.

Kami pun –jadi- lulus bersama di Juli 2009 dan kemudian menikah di akhir 2009.

Igan dan Tika wisuda bersama di Tahun 2009

Beberapa hari paska kami menikah, ia membuka kembali kotak cita-citanya dulu.

“Ay, aku mau sekolah desain ya” katanya kala itu.

“Iya, boleh sayang, mau sekolah dimana?” Tanyaku.

“Di Bandung aja, ada yang bagus kok.” Belum sempat aku menawarkan apapun, ia berujar, “Ga usah ya, kamu ga usah bayarin apa-apa, uang tabunganku cukup kok buat aku pakai bayar sekolah ini”

Aku kagum dengan istriku karena ia tetap berusaha menekuni passion-nya ketika tanggung jawab sekolahnya sudah selesai. Istriku ini sungguh sosok perempuan kuat yang mandiri. Sungkan baginya untuk merepotkan siapapun, termasuk aku, suaminya sendiri.

Sekolah desain yang ditekuninya setelah lulus pun seperti menjadi dunia baru baginya. Dunia yang bisa menghapuskan dahaganya untuk berkecimpung di dunia seni. Tempat yang membuatnya menjadi lebih hidup.

Igan dan Tika saat pernikahan mereka

***

February 2017

“Halo sayaang…” Itu adalah sapaan istriku malam itu dari dalam kamar tidur di rumah kami di Bandung. Sambutan khas darinya setiap Jumat malam kala aku pulang ke rumah dari peraduanku di Jakarta.

“Hai cintaa…” Jawabku sambal berbisik, melihat 2 jagoan kami yang sedang tertidur lelap.

Sambil beberes menaruh tas dan melihat kedua jagoan tadi, “Ay, ini baju tidur nya udah disiapin ya. Bilas dulu sebelum tidur, biar nyenyak” kata istriku dengan berkalung meteran ala-ala penjait.

Di malam selarut itu, ketika aku sudah berpikir untuk tidur sesampainya di rumah, istriku masih berkutat dengan “hobi”nya. Mendesain baju, memilih kainnya, menjaitnya lalu menjualnya. Brand Ammar The Label ini adalah area bermainnya. Tempatnya menyalurkan energi nya yang berlebih. Yang belum habis dipakai seharian setelah mengurus anak-anak dan merapikan rumah.

Binar excitement di matanya tidak bisa menghilangkan guratan-guratan lelah di wajahnya. Ya, ini hanya 2 bulan setelah ia melahirkan jagoan kedua kami dan ia sudah mulai mengerjakan kembali hobinya.

“Masih banyak yang mau diberesin ay?” tanyaku.

“Nggak kok, tinggal rapi-rapiin catetan keuangan, terus tidur. Gambar-gambarnyanya mah udah selesai”

“Ok, aku tungguin ya…” jawabku sambil rebahan di sampingnya.   Melihat keseruannya mengerjakan hobi-hobinya itu, aku jadi ingat beberapa percakapan kami tentang ini.

“Ay, kamu ga butuh “me time” ?” Tanyaku iseng

“Oh, cukuplah Ammar (brand yang di desain oleh Tika. red) ini jadi tempatku berhobi ria… Aku udah gak sendiri, aku punya anak 2, ada suami yang harus aku urus, ga sempet mikirin me time. We Time iya. Karena sekarang ini bukan tentang aku, atau kamu. Ini tentang kita, anak-anak dan masa depan mereka. Kalau mau senang-senang, ya kita senang-senang sama-sama… Jalan-jalan, ya kita sama-sama… Simple kok, definisi bahagiaku bukan yang jalan-jalan sendirian, belanja-belanja, ke salon…”

“Kerjaan aku ya ini…” Suatu waktu ia menjawab kala aku bertanya keinginannya untuk bekerja kantoran. Sembari memasak untuk kami, ia menjawab tanpa ragu, “Kamu, anak-anak, rumah kita… Itu kerjaan aku. Kantor aku…” Jawaban yang sama yang terus dia ucapkan entah apapun bentuk kesibukannya. Jawaban yang konstan dan tanpa ragu ia ucapkan tiap kali aku menanyakan keinginnya untuk bekerja kantoran.

Sebagai seorang suami, kepala keluarga, aku adalah bread winner. Statusku yang harus kerja di luar kota dan hanya kembali saat akhir pekan membuat istriku menjadi penjaga stabilitas rumah tangga, pembimbing tumbuh-kembangnya dua jagoan kami. Terkadang, aku yang hanya menjalani rutinitas bangun pagi-berangkat kantor-pulang kantor-tidur begitu selama 5 hari, malu dibuatnya.

Istriku, sebagaimana aku tahu dan pasti teman-temannya juga tahu, adalah seorang dengan otak yang brilian. Sangat pintar. Otaknya seperti dibuat untuk memproses dan menyelesaikan hal-hal rumit semacam logika matematika, statistika atau hal apapun yang untuk orang awam seperti aku, mungkin juga kamu, adalah hal yang “apa sih” banget.

Aku merasa, pastilah sulit baginya menjawab dengan ikhlas dan tanpa ragu bahwa suami, Anak-anak dan rumah adalah kantornya, pekerjaannya.

Kupeluk istriku. Orang yang dengan rela mau mengakhiri masa mudanya lebih awal untuk kemudian menjadi tandemku mengarungi kehidupan. “Kalau ada apa-apa, cerita ya sama aku…” ujarku pelan. Hanya ini yang bisa terus aku katakan dan ingatkan.

Jika Robin akan selamanya menjadi Robin untuk Batman, tidak dengan istriku ini. Mungkin ia sekali-kali bisa memakai baju Batman untuk kemudian membuatku memainkan peran Robin. Atau cukup menjadi Alfred saat aku harus berkostum ketat manusia kelelawar ini saat menghajar penjahat-penjahat di jalanan.

Aku yang mau nangis sambil masih meluk istriku, ingat bagaimana kalau aku di jakarta masih suka leyeh-leyeh pas kerja, padahal di Bandung ada perempuan perkasa yang membuatku bisa tenang hidup dan bekerja di Jakarta. Masih bisa males-malesan pergi ke kantor, sementara ia yang bangun dari subuh untuk mengurusi segala keperluan anak-anak kami.

Tidak hanya dia ini berani menerjang gelombang, tapi dia berlayar dengan kemampuan komplit sebagai awak kapal, bahkan kapten kapal. Aku? Ah, berenang saja masih tergagap-gagap. Tapi aku tetap tenang, karena ada sebuah keniscahyaan yang kita pahami bersama, Di belakang laki-laki hebat, pasti ada perempuan hebat yang mendukungnya.

Bagiku saat ini, Sudah ada perempuan hebat di belakangku, masa aku nggak hebat-hebat juga.

Istriku adalah seorang perfeksionis. Baginya, semua harus dikerjakan sendiri olehnya, dengan cara yang ada dibayangannya, dan pada waktu yang sudah ia rencanakan. Sangat bertolak belakang dengan sifatku yang santai dan cenderung sembrono. Namun mungkin ini adalah anugrah dari Tuhan untukku. Mungkin aku adalah salah satu hal rumit yang coba ia mengerti. Sebuah kekacauan yang akan dibetulkan oleh istriku. Dengan cara yang ada dibayangannya dan di waktu yang sudah ia rencanakan.

Penulis: Igan
Editor: Vita

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *