Lihatlah Lebih Dekat

Give me your eyes, and look closer (picture taken from Pinterest)

Saya ingat betul hari itu sekitar jam 5 sore. Supervisor saya menghilang dari ruangannya selama sekitar 1 jam. Saat itu satu tim kami baru selesai pelatihan internal yang jadwalnya padat seharian dan ia seharusnya sudah selesai conference call dengan manager regional kami di ruangannya.

“Eh si bu bos kemana ya?” “Gak tau, mungkin keluar bentar kali ya, kayaknya di kantor gak ada.”

Salah satu rekan kerja saya kemudian masuk dalam ruangan training dan kemudian bergosip di sebelah saya. “Gue barusan papasan sama bu bos. Dia baru keluar bilik kamar mandi abis nangis. Matanya sembab banget segede bola tenis. Sumpah gak bohong.”

Dalam hati saya mencelos. Hah si Bu Bos nangis? Ada apa ya?

Tak lama berselang, supervisor saya memasuki ruangan. Benar saja, dengan mata sembab. Ia langsung kembali membuka laptop dan melanjutkan sesi diskusi training kami. Orang-orang pun menyapa dan mengajak ia bicara seperti biasa.

Kontrasnya sehari kemudian, sesuai dugaan, berita bahwa atasan saya menangis karena tekanan pekerjaan telah menyebar ke satu kantor. Rupanya supervisor saya tak sanggup menahan emosi akan stress pekerjaan dan puncaknya sesudah conference call bersama regional manager, ia menangis. Berbagai opini muncul, namun yang membekas di pikiran saya adalah yang bernada kurang lebih seperti ini:

“Ya maklum aja lah. Namanya juga bos cewek, sensitif jadi apa-apa bawa perasaan.”

“Kenapa harus nangis di kantor ya. Agak gak profesional sih kalau kata gue.”

(FYI; pendapat seperti ini beberapa datang dari sesama perempuan juga)

Kejadian tersebut sampai hari ini masih membuat saya suka berpikir. Masih banyak rupanya dari kita yang tidak mengedepankan empati dalam menyikapi kejadian sesimpel itu. Ya, memang bos saya menangis di kantor. Namun apakah karena itu dia jadi tidak profesional? Saya rasa tidak; justru bagi saya menghilang selama sejam untuk menenangkan diri di dalam bilik toilet adalah sikap yang sangat profesional. Dengan begitu, ia tidak mendistraksi karyawan lain. Sama aja kayak kalau kita sedang jenuh di depan komputer, kita pergi sebentar ke pantry untuk coffee break atau mungkin cigarette break.

Supervisor saya kala itu adalah seorang perempuan muda enerjik seumuran saya. Ia adalah orang yang sangat career-driven dan punya determinasi tinggi; maka tak heran di usia muda prestasi pekerjaannya bisa dibilang bagus. Pada momen itu, ia rupanya sangat tertekan dan stres menghadapi tantangan pekerjaan yang belum pernah ia hadapi sebelumnya, sehingga refleks luapan emosinya adalah dengan menangis. Perempuan memang pada dasarnya lebih sensitif untuk masalah emosi daripada laki-laki; namun saya tidak setuju jika ini kemudian menjadi konotasi negatif terutama terkait dengan kondisi seseorang menangis di kantor.

Bagi saya, terlepas dari gendernya, seseorang akan mengalami momen/titik stres tertentu yang membuatnya merasa tidak berdaya dan emosional. Masing-masing dari kita punya penyaluran yang berbeda. Ada yang memilih mencari distraksi dengan olahraga, makan, merokok, bicara dengan orang lain, dsb. Ada yang juga memilih untuk “mengenali emosi”/recognising the emotion dan menangis bisa jadi salah satu outputnya. Rasanya nggak adil dan insensitive kalau kemudian apabila menangis dicibir sebagai suatu kelemahan. Sebaliknya, bagi saya mengakui emosi sedih tersebut adalah salah satu ciri-ciri pribadi yang kuat. Karena artinya pribadi tersebut adalah pribadi yang jujur mengakui bahwa manusia punya limitasi dan kekurangan. We all are normal human beings and imperfect in all sort of ways. And that is perfectly fine.

Baru-baru ini teman saya bercerita bahwa ia pun mengalami hari yang buruk di kantor. Ia menghadapi tekanan langsung dari koleganya di depan orang banyak ketika meeting dan ketika meeting selesai, ia tak kuasa menahan air mata bercucuran akibat emosi. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, saya berusaha meyakinkannya bahwa kejadian tersebut completely normal. Saya pikir saya harus berusaha untuk memulai perubahan dari skala kecil (diri sendiri) dengan lebih berempati kepada orang-orang di sekitar saya dan melihat lebih dekat masalahnya, sebelum berkomentar.

***

Artikel ini ditulis oleh Vita, salah satu Founder dari Cerita Perempuan. Bagaimana pendapat teman-teman terhadap isu ini, apakah yang disebut sebagai profesionalitas dan apakah menangis berarti tidak profesional?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *