Love What You Do and Do What You Love

Love what you do and do what you love.

Idealnya, kita tidak harus memilih antara mencintai apa yang kita kerjakan atau mengerjakan apa yang kita cintai. Dan juga seandainya kita berada di posisi dimana dua kondisi itu terpenuhi, maka itu merupakan sesuatu yang harus disyukuri dan dinikmati. Saya juga percaya bahwa dengan melakukan sesuatu yang kita sukai, kehidupan akan berjalan dengan seimbang.  Buat sebagian orang, bisa melakukan suatu hobi/sesuatu yang disukai dan sekaligus mendapat penghasilan dari situ adalah sebuah mimpi indah. Bagi saya, untuk bisa mewujudkan mimpi indah itu, perlu perjuangan yang panjang.

Setelah lulus dari Sekolah Pascasarjana Jurusan Teknik Sipil, saya baru menyadari kalau Teknik Sipil bukanlah dunia yang saya sukai. Menyelesaikan jenjang S1 dan S2 merupakan dua hal yang mempunyai tantangan tersendiri, terbukti butuh waktu 3 tahun untuk menyelesaikan jenjang S2 (padahal batas waktu DO adalah 3 tahun). Ternyata mengulik hal-hal minor dan mendalami rumus-rumus lebih jauh itu bukan bidang saya sama sekali. “Lho, terus kenapa ambil S2?”. Well, saya sempat mengalami quarter life crisis, dimana saat lulus kuliah, teman-teman sudah punya pekerjaan bagus, tetapi saya masih belum bisa membayangkan masa depan saya sendiri, saya belum bisa menjawab pertanyaan terbesar saya “impian apa yang sebenarnya saya kejar di dunia ini?”. Banyak sekali yang ada di kepala saya saat itu, mau ini lah mau itu lah, tapi nyatanya tidak ada yang berhasil di eksekusi. Saya hanya menjalani hidup mengikuti arus, lulus kuliah lalu kerja di perusahaan swasta, tetapi rasanya saya masih belum menemukan jalan yang tepat. Sampai akhirnya saat saya sudah bekerja di perusahaan konsultan swasta, saya memutuskan untuk ambil S2. Yup, saya mau jadi dosen saja!Saya mau ambil S2 lalu S3 terus jadi dosen (mimpi impulsif saat berusaha keluar dari quarter life crisis).

Long story short, semua mimpi indah menjadi dosen hilang saat saya terbangun dari kenyataan bahwa ini bukan bidang saya. Setelah berdarah-darah menyelesaikan S2, saya langsung diterima di perusahaan kontraktor swasta. Sebagian besar proyeknya adalah membuat pabrik pengolahan minyak dan gas, pabrik pengolahan bahan-bahan kimia sampai pabrik pembuatan kecap dan sabun. Beberapa proyek merupakan proyek yang sangat besar, bahkan sebagian proyeknya merupakan skala nasional, jadi dalam menyelesaikan proyek ini, tentu saja pisi yang terlibat di dalamnya sangatlah kompleks. Sudah 7 tahun saya bekerja di perusahaan ini, sudah 3 proyek besar saya ikuti, dan pada salah satu proyek tersebut saya diberi tanggung jawab untuk memimpin salah satu pisi. Kondisi lingkungan pekerjaan yang mayoritas kaum laki-laki ini sudah menjadi hal yang biasa bagi saya sejak duduk dibangku kuliah. Jadi saat ada meeting koordinasi dengan pisi lain, duduk satu meja dengan lead dari pisi lain yang mayoritas laki-laki, beradu argumentasi dan saling mempertahankan pendapat, ini semua sudah jadi makanan saya sehari-hari.

Bunga bersama Tim Struktur saat kunjungan lapangan di project pembuatan Pabrik Michelin di Cilegon

Pada awalnya saya merasa beberapa teman kantor saya antar pisi meremehkan kemampuan saya, mungkin karena saya satu-satunya perempuan dan yang termuda dalam tim inti proyek ini. Tetapi saya berusaha untuk membuktikan bahwa yang mereka pikirkan itu salah. Tim ini berhasil menyelesaikan tugasnya tepat waktu bahkan sedikit lebih awal dari target proyek dengan kesalahan yang kecil. Pada akhirnya hasil kerja keras kita lah yang dilihat oleh orang lain, bukan umur dan juga bukan gender.

Saya menyadari, dunia Teknik Sipil memang bukanlah hal yang saya cintai, tetapi saya mencintai pekerjaan saya, saya menikmati peran saya dari mulai mengatur strategi sampai melakukan koordinasi dengan banyak orang hanya untuk satu tujuan bersama, yaitu bisa menyelesaikan proyek dengan semua target tercapai. Well, Finally, I love what I do.

Tetapi sampai disini tidak cukup bagi saya yang punya banyak keinginan, masih ada rasanya yang kurang dalam hidup ini. Saya masih mau melakukan sesuatu yang saya sukai. Saya sangat suka sekali dengan segala macam yang berhubungan dengan fashion, yang secara tidak langsung mungkin dipengaruhi dari profesi Mama sebagai seorang perancang busana khususnya kebaya (padahal background beliau adalah seorang geologist). Dari kecil saya suka mendesain baju formal saya sendiri, karena saya termasuk orang yang sangat picky dalam hal memilih baju, model dan cutting harus benar-benar sesuai dengan bayangan saya. Jadi dari kecil saya suka ikut Mama ke toko bahan, pilih bahan sendiri, pilih model sendiri dan jadilah baju yang sesuai dengan kemauan saya dari hasil jahitan Mama. I feel like I’m the luckiest daughter ever! Ini lah yang membuat saya jatuh cinta akan dunia fashion dan bermimpi untuk membuat brand clothing sendiri. Sudah lama sekali saya memendam mimpi ini dan akhirnya tahun ini baru bisa terwujud.

 Bunga saat foto Pre-wed dengan balutan kebaya bikinan Mama

Saya sadar bekerja dikantor from 9 to 5 bukanlah hal yang mau saya jalani sampai masa pensiun nanti. Bagi saya yang seorang control freak, jika punya anak nantinya, sepertinya saya tidak rela melepas anak saya begitu saja di daycare atau diasuh oleh baby sitter. Jadi saya harus memulai bisnis ini dari sekarang, karena prinsip saya, meskipun sebagai ibu rumah tangga nantinya, perempuan juga harus mandiri di segala hal termasuk dalam sisi finansial. Memulai bisnis apalagi menjalankannya tidak lah semudah mengerjakan proyek besar di kantor. Apalagi bagi saya yang tidak punya background bisnis dan sekolah desain sama sekali, ini merupakan sebuah mimpi besar. Butuh perhatian yang lebih, naluri yang tepat dan juga modal yang lumayan menguras tabungan. Beruntung saya punya orang-orang penting di hidup saya yang selalu support mimpi besar ini. Saat ini bisnis saya masih seumur bayi yang baru lahir, masih panjang sekali perjalanannya dan banyak sekali rintangannya. But I really love this thing, membayangkan ide-ide baru untuk brand ini bisa membuat saya semangat dalam menjalani pagi setiap harinya.

Bertahun-tahun saya mencari apa arti hidup yang saya cari. Semua itu tidak akan terjawab kalau dari dalam diri sendiri tidak bersyukur dan tidak bahagia akan kehidupan yang dijalaninya. Apapun yang sudah saya jalani selama ini, baik dan buruknya, saya sangat bersyukur akan semua itu, dan itu mengangkat semua beban akan bayangan bagaimana kehidupan seorang perempuan yang ideal. Setiap perempuan mempunyai jalannya masing-masing dan tidak ada yang memiliki jalan yang sama sehingga tidak ada istilah kehidupan yang ideal bagi perempuan. Membanding-bandingkan antar satu kehidupan dengan kehidupan lainnya tidak akan membuat kehidupan kita lebih baik, sifat saling support antar perempuan lah yang justru membuat kehidupan kita sebagai seorang perempuan lebih berarti.

Penulis: Bunga Galuh Kirana, seorang pemimpi yang lebih suka berlari daripada bersosialisasi
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *