Memimpikan Komunitas yang Supportif untuk Orang Tua Baru

“Kehidupan orangtua baru itu keras!” ujar salah seorang sahabat yang sudah terlebih dahulu menjalani perannya sebagai seorang ibu baru.

Mulanya, saya hanya mendengarkan sembari tersenyum kecut.

“Masa iya?” pikir saya setengah tak percaya.

Namun selama 1.5 tahun saya menjalani peran sebagai seorang ibu, saya pun tak bisa membantah perkataan sahabat tersebut.

Bagaimana tidak, peralihan dari lajang, menikah, kemudian memiliki anak, seperti analogi bumi dan langit. Butuh jiwa yang dewasa untuk menerima setiap masukan dari lingkungan. Butuh hati yang legowo untuk mengalah demi buah hati. Butuh perasaan ikhlas untuk ‘berbagi waktu’ dengan pasangan.

Orangtua milenial kini, begitu disuguhkan dengan berbagai pilihan pola asuh. Namun konsekuensi dari berbagai pilihan itu adalah adanya tanggung jawab atas pilihan yang diambil. Amat disayangkan, ketika ada sebagian orangtua yang merendahkan cara pengasuhan orangtua yang lainnya. Padahal orangtua baru begitu rentan. Para ibu baru harus melawan perasaan mereka sendiri agar terbebas dari maternal blues. Para ayah baru pun demikian, mereka harus bertahan agar tidak terkena paternal post partum blues.

***

Perkenalkan, nama saya Pratami Diah Herliani. Orang dekat terbiasa memanggil saya Tami. Saya seorang dokter umum yang sehari-hari menulis sembari menjalankan peran domestik di rumah tangga kami. Suami saya berprofesi sama dengan saya, namun saat ini sedang melanjutkan pendidikan dokter spesialis. Saat ini kami dikaruniai seorang putra berusia 1.5 tahun bernama Bumi Ibrahim Alhakim.

Seperti tantangan yang diceritakan di atas, saya pun ikut mengalami maternal blues, yaitu perasaan sedih dan merasa tak berdaya pasca kelahiran seorang bayi. Rasanya sungguh tak enak! Namun atas izinNya, saya mampu melewati masa-masa tersebut. Segala puji bagiNya…

Tak hanya terjadi pada saya. Suami saya pun mulai merasakan perbedaan signifikan antara kehidupan saat bujang dan setelah memiliki anak. Waktu luang yang terbiasa Ia habiskan untuk bermain games atau menonton film favorit, harus berganti agenda menina-bobokan anak kami.

Apakah suami saya tertekan? Saya rasa, iya. Walaupun ia berusaha sembunyikan atas nama tanggung jawab seorang ayah baru.

Kondisi ini yang akhirnya membuka diskusi sederhana dengan suami saya.

“Saya ingin membuat komunitas bagi para orangtua baru. Syaratnya sederhana. Sama-sama mau belajar dan mendukung satu sama lain. Bukan saling nyinyir dan merendahkan.” tukas saya dengan mantap.

Suami saya terdiam sambil menyimak. Sesekali ia pun menginterogasi kesungguhan saya.

Suami saya merupakan tipikal laki-laki yang manut dan amat suportif. Begitu tercetus ide itu, ia bahkan menjaring informasi sebanyak-banyaknya kepada sesama ayah baru. Membuat daftar keperluan seorang ayah baru. Tak disangka responnya begitu baik. Mereka ikut memberi umpan balik dengan celoteh khas para lelaki.

Pikiran saya semakin terbuka. Tak hanya seorang ibu saja yang merasa overwhelmed dengan peralihan statusnya. Ternyata para ayah juga! Namun mungkin tidak begitu nampak karena kaum laki-laki tidak seekspresif kaum perempuan.

Para ayah pun dirundung berbagai tuntutan. Tuntutan menghasilkan finansial yang bisa memenuhi kebutuhan anak-istri. Tuntutan dari lingkungan tentang peran ‘kebapakan’ yang bijaksana. Tuntutan untuk berbagi ‘ranjang’ dengan makhluk kecil. Dan berbagai tuntutan lain yang membuat ayah baru harus mengalah.

***

Begitulah salah satu latar belakang saya dan teman-teman mendirikan sebuah wadah non profit, yang dikhususkan bagi para orangtua baru. Komunitas ini kami maksudkan untuk tidak hanya fokus pada ibu saja, namun juga melibatkan para ayah untuk pengasuhan anak-anak mereka. Early Parent Support Indonesia, begitu wadah ini disebut.

Sayangnya, niat kami terhenti pada pertengahan tahun kemarin. Kendala utamanya karena hampir semua anggota tim memiliki kesibukan lain. Hasilnya bisa ditebak, roda program komunitas menjadi berhenti total.

Kami mulai pikirkan kembali strategi yang cocok untuk komunitas ini. Salah satu kesulitan kami adalah karena sifat dari kegiatan kami yang non-profit,  sehingga sulit untuk mendapatkan komitmen untuk pelaksanaan kegiatan kami. Namun akhirnya pada awal tahun 2017 kami mendapatkan 7 orang tim inti yang mau serius menjalankan komunitas ini, termasuk suami saya di dalamnya.

Tami dan teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Early Parent Support 

Semua yang tergabung di dalam tim, memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kebanyakan dari kami adalah dokter, sedangkan sisanya berlatar belakang psikologi dan multimedia.

Kami merancang program berkala setiap bulan dengan tema yang berganti-ganti. Kadang tema kesehatan ibu dan anak, psikologi dewasa dan anak, sampai kelas untuk para ayah. Intinya, program ini dirancang secara holistik agar para ibu dan ayah bisa terus mengawal generasi emas di tangan mereka.

Seminar pertama kami adakan pada 23 Juli 2017 yang lalu. Tema yang diusung adalah kepanikan para orangtua baru dalam menerjemahkan sakit pada anak. Untuk menekan biaya operasional, kami menggandeng para dosen kami untuk terlibat sebagai narasumber. Alhamdulillah mereka membantu tanpa meminta bayaran sedikitpun. Seminar kedua kami adakan pada 13 Agustus 2017. Kali ini masuk ke tema psikologi pendidikan, yaitu tentang metode Montessori. Komunitas kami pelan-pelan mulai didengar keberadaannya. Hampir 80 orang terlibat dalam acara ini.

InsyaaAllah seminar ketiga akan hadir bulan depan. Kali ini tema yang diusung tentang Peran Ayah dalam Fitrah Mendidik Anak. Seminar ini dikhususkan untuk para ayah dan calon ayah. Kami ingin menantang para ayah agar ikut duduk dan berdiskusi seputar pengasuhan anak.

Suasana ceria di workshop 

***

Menjadi orangtua bukan perkara melahirkan, membesarkan kemudian selesai. Butuh ilmu dan kecakapan yang cukup dalam mengawal tumbuh kembang mereka. Menjadi orangtua memang tidak ada sekolahnya, namun orangtua harus terus belajar dan bertumbuh seiring dengan mengasah naluri mereka.

Harapan kami sederhana. Dukung dan bantu para orangtua baru. Jangan sudutkan mereka dengan berbagai komentar pedas nan menyakitkan hati.

Percayalah, saat kita menjadi orangtua, artinya Allah sudah berkenan menitipkan mahkluk surgawi ke tangan kita. Kita dianggap mampu oleh Sang Maha. Tak ada satu orangpun yang berhak mendiskreditkan amanah agung tersebut. Maka, tetap optimis dan berkolaborasilah.

Selamat datang Ayah Bunda baru, Early Parent Support Indonesia siap mendukung Ayah Bunda semua.

***

Bagi yang tertarik untuk gabung dalam komunitas ini, kontak langsung mereka di instagram mereka di sini.

Penulis: Pratami Diah Herliani
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *