Catatan Sebuah Pertemuan Pertama, lagi

Setiap pertemuan pertama selalu membawa sedikit kegelisahan di dalamnya.

Lagi-lagi kita akan ditempatkan di sebuah posisi, dimana lagi-lagi diri ini akan dinilai dari kesan pertama yang mungkin tidak menggambarkan diri dengan sepenuhnya. Atau bahkan mungkin tidak menggambarkan diri yang ingin kita kedepankan. Ketakutan akan penilaian dari orang asing – orang yang baru kita kenal -, selalu memberi warna pada sebuah pertemuan, apalagi pertemuan yang pertama.

Dengan perasaan penuh kekhawatiran seperti inilah aku hadir dalam pertemuan Cerita Perempuan yang pertama di Jakarta pada tanggal 26 Agustus 2017 lalu. Pertemuan pertama yang kami buat dengan niat terbuka untuk siapa saja.

Memang sedari awal Cerita Perempuan kami niatkan untuk menjadi wadah untuk perempuan-perempuan yang membutuhkan komunitas yang suportif untuk mimpi-mimpi mereka – apapun itu-. Namun pada kenyataanya selama empat bulan pertama keberadaan kami (ya, umur kami baru kurang lebih empat bulan, jika kami ini bayi, merangkak pun kami belum bisa), pertemuan-pertemuan kami masih diisi sebatas orang-orang yang sudah kami kenal sebelumnya. Untuk membuka diri ke dunia luar masih berat rasanya, apa benar niat kami untuk bisa menjadi komunitas yang suportif dan tanpa judgement bisa berjalan jika pintu mulai kami buka ke dunia luar?

Namun seriring berkembangnya komunitas ini, makin besar rasanya keinginan kami untuk melangkah ke arah impian itu, dan muncullah ide pembuatan Saturday Brunch bulanan untuk bertemu langsung dengan teman-teman lain.

Tentunya harapan kami tidak muluk-muluk. Bahkan sedari awal kami berpikir seandainya yang datang hanya kami, yang penting kami telah memulai menjalankan niat utama kami. Dengan event ini, kami juga jadi ada alasan untuk kumpul-kumpul ngobrol antar tim Cerita Perempuan yang telah menjadi kian dekat melalui Proyek Cerita Perempuan ini. Intinya apapun hasilnya tidak akan ada yang rugi.  Namun ternyata yang hadir lebih banyak dari ekspektasi kami. Setiap wajah baru, interaksi baru, cerita baru, menegaskan pada kami betapa pada dasarnya kita semua menginginkan hal yang sama, keinginan yang mungkin menjadi fondasi berdirinya Cerita Perempuan. Kita menginginkan sebuah komunitas yang mendengarkan dan memahami, yang menerima perbedaan-perbedaan pilihan hidup dan merayakan setiap perbedaan itu.

Hari minggu pagi itu lantas berlalu dengan cepat, diisi cerita dan tawa orang-orang yang baru saling menemukan, namun seperti menemukan seorang teman lama.

Dari kiri ke kanan: Vita , Rene , Ukhti 😂 , Asih , Duwi , Fafa, Puspa dan Anna

“Hidup itu tentang menghargai, memaknai apa yang kita punya, kita inginkan, dan kita cita-citakan. Melihat perbedaan dengan sudut pandang yang menghormati sehingga kita dapat menilai sesuatu dengan bijak. Itulah yang membuat hidup lebih “hidup”. Dan itu yang saya dapatkan ketika sesi ‘sharing’ di cerita perempuan kemarin. Saya merasa mendapatkan teman2 yang mengerti bahwa hidup setiap org itu berharga dan  berbeda2.”

(Fafa, the retiring control freak)

“Saya merasa merupakan suatu kehormatan saat terundang ke acara Cerita Perempuan.  Walau saya berangkat dan datang dengan rasa self-esteem rendah,  saya berakhir pulang dengan rasa bahagia. Saya bersyukur bahwa ternyata masih ada perempuan yang berpikiran terbuka terhadap orang2 baru dan asing (yang merupakan perempuan juga). Perempuan-perempuan yang tetap menjadi dirinya sendiri tanpa harus bermanis dalam rupa dan ucapan saat membuat koneksi dengan teman baru.”

(Anna, the adventurer and dream chaser)

“Ternyata saling mendukung itu indah dan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ternyata dengan berani membagi diri sendiri dengan jujur ke orang lain, kamu bisa saja membantu orang lain. Walau mungkin kamu sendiri tidak merasa ceritamu itu telah membuat sebuah perbedaan. Gue datang ke acara Cerita Perempuan secara enggak sengaja, mungkin karena kepo, atau mungkin karena ingin bertemu teman lama saja. Namun ternyata sepulang dari sana, gue lumayan terbantu untuk menghadapi masalah gue sendiri. Ya, ternyata dengan mendengarkan beberapa pengalaman dan pemikiran  orang di luar lingkunga yang biasa gue temui sehari2-hari, gue jadi bisa bercermin. Orang-orang baru ini membantu gue melihat masalah lebih jelas, dan membantu gue cari solusi.”

(Puspa, the golden voice and professional dreamer)

“Kesempatan yang sangat baik buatku ketika dapat bergabung dipertemuan Cerita Perempuan. Pertemuan yang membuatku merasa tidak sendiri. Cerita-cerita yang dibagikan membuatku semakin percaya diri. Setiap anggota Cerita Perempuan itu unik dan selalu punya sisi yang menarik. Dari pemahaman yang aku dapat dari Cerita Perempuan aku meyakini bahwa setiap kesuksesan bisa diraih dengan kemauan dan keberanian untuk menajalani PROSES serta sadar akan adanya  perbedaan. Sehingga apapun peran yang sedang dijalankan dalam pekerjaan pasti ada andil besar didalamnya. Seperti aku yang memiliki pribadi yang suka bekerja dibalik layar menjadi lebih sangat percaya diri, yakin dan lebih menikmati proses dalam karirku.”

(Rene, the one behind the stage, supporting everyone else)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *