Pilihan

Pagi itu lain dari rutinitas saya biasanya (jam sepuluh pagi saya bersih-bersih tempat tinggal yang tidak seberapa luas), saya berada di sebuah ruangan berukuran 3×3 meter, duduk di salah satu dari dua kursi yang terpisah oleh sebuah meja, dan menatap sebuah papan tulis putih yang kosong. Sejujurnya awal masuk ruangan ini saya merasa cukup tegang. Terakhir saya mengalami momen bernama wawancara kerja sudah hampir enam tahun yang lalu.

Keberadaan saya di ruangan ini diawali oleh email dari sebuah perusahan bidang pemesanan tiket dan reservasi hotel online. Saya dipanggil untuk wawancara dengan salah satu manager di posisi yang saya lamar. Awalnya saya kaget karena sudah hampir lupa saya pernah melamar melalui situs internet sekitar bulan Januari dan tidak ada kabar sama sekali hingga email saya terima pertengahan bulan Juni. Januari lalu, berawal dari pengunduran diri saya dari pekerjaan sebelumnya, saya iseng-iseng melamar posisi yang saya minati di perusahaan tersebut. Saya sebut iseng-iseng karena sebenarnya saya tidak benar-benar mencari pekerjaan pada saat itu. Setelah beberapa bulan hanya tinggal di apartemen sendirian selama suami bekerja, terlebih karena posisi yang ditawarkan adalah posisi yang menarik minat saya, saya pikir tidak ada salahnya mencoba mengisi form lamaran online. Sebelum menikah, saya dan suami telah menyepakati bahwa peran saya sebagai istri tidak menuntut saya untuk mencari nafkah. Namun suami tidak membatasi bila saya masih ingin bekerja, asalkan rumah tangga tetap prioritas. Saya sendiri bersikukuh, saya hanya akan menerima pekerjaan yang memungkinkan saya untuk berada di rumah sebelum suami pulang (artinya ga pake lembur atau LDR dari suami, maklum masih pengantin baru hehe).

 

Silvia saat bekerja sebagai Field Engineer di service oil and gas 

Saya kembali terkenang wawancara kerja pertama saya, sekitar enam tahun lalu. Dengan status hampir lulus kuliah, saya sudah berada di tahap akhir wawancara untuk posisi field engineer di sebuah perusahaan asing bidang service oil and gas. Hasil doa orang tua yang tidak ingin melihat anaknya galau mencari kerja, saya memulai bekerja hanya seminggu setelah wisuda. Saya mendapatkan penempatan di Duri, Riau. Menjalani kehidupan yang biasa diledek teman-teman saya “simatupang” alias siang malam tunggu panggilan sebagai konsekuensi pekerja lapangan. Ritme kerja yang tidak seperti orang kantoran, panggilan untuk job on location bisa saja jam dua dini hari. Akhir pekan pun tidak dipastikan libur, karena sistem kerja yang rotasi, saya harus bekerja selama sekitar delapan minggu baru kemudian balas dendam dengan tiga minggu libur.

Saya menikmati kehidupan sebagai field engineer, minoritas wanita diantara mayoritas pekerja pria. Hingga awal 2016 saya ditawari untuk cuti panjang untuk waktu minimal enam bulan hingga setahun. Program ini adalah salah satu upaya perusahaan untuk menstabilkan jumlah pegawai, menyusul harga minyak dunia yang turun drastis sejak akhir 2014. Sebagian besar karyawan perusahaan sudah dirumahkan. Lebih dari separuh rekan kerja saya di Duri, baik crew maupun sesama engineer terkena PHK. Tawaran cuti menjadi alternative untuk mengurangi jumlah karyawan aktif selama kondisi bisnis menurun. Untuk saya sendiri, tawaran cuti ini menjadi kesempatan untuk rehat, kembali tinggal bersama orang tua setelah hampir sembilan tahun merantau, dan menjalankan beberapa keinginan pribadi yang selama bekerja belum sempat terpenuhi, diantaranya menjadi volunteer kelas inspirasi. Tanpa diduga, ternyata selama cuti itulah saya dipertemukan dengan takdir jodoh saya, hingga akhirnya saya menikah di bulan Oktober 2016. Saya menikmati waktu jobless dengan status baru sebagai istri karena perusahaan belum memberi kabar untuk bekerja kembali. Hingga akhir desember 2016 saya ditawari posisi engineer di kantor Cikarang, yang akhirnya saya tolak karena kemungkinan besar saya harus tinggal terpisah dengan suami (pun dipaksakan pergi-pulang Jakarta-Cikarang akan menghabiskan waktu di perjalanan).

Pikiran saya kembali ke saat ini ketika pewawancara memasuki ruangan. Dia memperkenalkan diri dan meminta saya memperkenalkan diri. Wawancara berlangsung dengan dua orang yang berbeda, masing – masing sekitar satu jam. Sementara saya merasa tidak fokus karena ingin menyampaikan kondisi terkini saya saat itu ke HR, tentang bagaimana kemungkinan tahap selanjutnya, mengingat saya saat itu sedang hamil enam bulan. Setelah menerima tawaran interview, sebenarnya saya sempat merasa ragu. Setahun lebih saya meninggalkan dunia kerja, saya rindu rasanya bekerja dalam tim, jadwal meeting, email-email pekerjaan kantor. Suami tidak keberatan saya memenuhi panggilan wawancara, asalkan saya tetap meprioritaskan kondisi kehamilan saya. Saya mulai berpikir, seandainya pun saya mendapatkan pekerjaan ini, bagaimana dengan bayi saya nanti? Saya benar-benar tidak ada rencana untuk menggunakan jasa pengasuh – karena semenjak mengetahui kehamilan saya merasa komit untuk menjadi full time home mom. Selama beberapa hari saya berpikir, “toh belum tentu juga saya akan diterima di posisi tersebut,” mengingat latar belakang karir saya yang jauh berbeda dari posisi yang ditawarkan. Tidak ada salahnya saya datang wawancara, melihat hasilnya untuk dipertimbangkan kemudian. Hampir jam dua belas ketika saya meninggalkan kantor tersebut. Tiba di apartemen saya merasa sangat lelah, padahal jalanan tadi relatif lancar dan saya hanya duduk manis di kursi belakang mobil taksi online yang nyaman berAC. Kehamilan saya selama ini tidak pernah bermasalah, tanpa morning sickness sama sekali. Saya merasa perasaan lelah yang sangat ini adalah pertanda bahwa saya harus mempertimbangkan kondisi janin (dan bayi nantinya) sebagai prioritas dibandingkan keinginan saya kembali bekerja.

Saya menarik nafas dalam-dalam. Menyadari bahwa sebentar lagi saya akan memiliki profesi baru, seorang ibu. Dengan jam kerja dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Tidak seperti profesi lainnya, menjadi ibu tiada akhir, tidak bisa mengundurkan diri di tengah jalan. Konsekuensinya adalah kehidupan seorang manusia. Sebuah kepercayaan besar yang Allah berikan. Setelah menikah, apalagi hampir memiliki anak, seorang wanita memang tidak bisa hanya mengikuti keinginannya dan ambisinya. Peran sebagai istri dan ibu membutuhkan pengorbanan. Tersadar dengan kondisi ini, saya bulat memutuskan untuk tidak melanjutkan tahapan wawancara kerja yang rencananya akan saya sampaikan nanti saat HR menghubungi saya. Selebihnya saya berdoa semoga saya diberikan kemudahan dan kelapangan hati dengan keputusan yang saya ambil ini.

Untuk teman-teman yang memilih tetap bekerja dengan status sebagai istri dan ibu, saya salut pada perjuangan kalian. Mungkin suatu saat saya akan memiliki kesempatan untuk memilih jalan itu, tapi sementara ini, saya menantikan kelahiran si kecil dengan bahagia.

Silvia dan suami beserta anak dalam kandungan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *