Tentang Pencapaian dan Kegelisahan

Tak mengapa jika hidupmu tidak sempurna. Hidup saya pun tidak.

Memang ada pepatah yang mengatakan, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun dalam praktiknya, ternyata sulit menerima ketidaksempurnaan dalam hidup. Setidaknya bagi saya, butuh sekitar dua puluh sembilan tahun rentang hidup saya untuk menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari diri saya.

Sejak kecil saya memang berjiwa kompetitif. Salah satu anekdot dalam hidup yang saya sering ceritakan pada teman-teman adalah sebuah cerita dari saat saya masih duduk di kelas satu SD. Pada upacara bendera saat akhir tahun ajaran, sekolah saya punya tradisi memanggil murid-murid berprestasi ke depan, untuk lalu diberikan trofi ucapan selamat karena telah meraih posisi tiga besar di kelas. Saya tidak ingat persisnya peringkat berapa saya kala itu, tetapi saya masih ingat betul perasaan bangga dan bahagia ketika nama saya dipanggil untuk berdiri di depan teman-teman sekolah serta bapak/ibu guru saat menerima piala pertama dalam hidup saya. “This feels good,” canda saya setiap kali menceritakan memori tersebut ke teman-teman yang sering menggoda ke-kompetitif-an saya.

Dengan kemauan belajar yang tinggi, kemampuan akademis yang cukup baik, serta disertai dukungan keluarga, saya bersyukur bisa meraih beberapa pencapaian yang membanggakan seperti beasiswa untuk belajar di luar negeri semasa SMA dan juga S2. Namun tanpa saya sadari, jiwa kompetitif dan sisi perfeksionis yang saya miliki menumbuhkan ego dan sifat ambisius yang membuat saya sulit menerima kekalahan, bahkan dalam bentuk kekecewaan yang paling sederhana.

Tak peduli seberapa banyak pencapaian yang saya terima, tentu ada beberapa hal dalam to do list yang belum bisa saya capai, dan perasaan tersebut tanpa saya sadari menggerogoti diri dari dalam. Ada rasa iri dan cemburu ketika melihat beberapa teman atau kolega yang telah mencapai posisi yang saya inginkan, sebab walau saya mengakui kerja keras mereka untuk meraih posisi tersebut, saya merasa mampu juga berada di jalan tersebut, hanya saja kesempatan belum berpihak pada saya.

Ada satu periode dalam hidup ketika saya menon-aktifkan media sosial atas dasar kegelisahan karena merasa pencapaian profesional dan personal saya belum berada pada titik yang seharusnya, padahal banyak teman yang kala itu terlihat telah berada jauh di depan. Ada kalanya saya merasa depresi karena ketakutan bahwa hidup saya tidak akan pernah mencapai titik yang saya rencanakan, dan kesedihan karena semesta seolah menolak mewujudkan mimpi-mimpi saya (agak dramatis memang). Saya pernah mengalami writer’s block terpanjang dalam hidup ketika mengalami kegagalan dalam hubungan pribadi, padahal menulis adalah salah satu medium berkarya yang paling saya cintai, meski hanya dalam pentas blog pribadi. Pun ada masa-masa di mana saya menangis sendiri di kamar mandi karena merasa tidak ada orang yang bisa memahami saya maupun mimpi-mimpi saya. Berbagai ketakutan dan kegelisahan tersebut tanpa disadari telah memakan ego saya, hingga kadang saya takut melakukan sesuatu bahkan sebelum memulai, karena takut gagal, takut tidak mampu mencapai ‘kesempurnaan’ dari apa yang tengah saya usahakan.

Beberapa teman nyaris tak percaya ketika saya membuka diri tentang kecenderungan depresi dan anxiety yang saya miliki karena sifat perfeksionis ini. Kata mereka, dari luar saya selalu terlihat ceria, mandiri dan tangguh. Tentu itu semua merupakan fasad yang saya ciptakan untuk menutupi kelemahan yang tersembunyi. Sejujurnya, bahkan sulit bagi saya awalnya untuk membagi cerita ini lewat tulisan. Namun ini adalah salah satu metode untuk mengalahkan sisi gelap tersebut, dan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari diri saya.

Ada hal menarik yang saya pelajari ketika saya menjelajahi berbagai museum seni di Eropa, mengamati karya-karya Rembrandt, van Gogh, dan kawan-kawan. Di masa sebelum swafoto (selfie) menjadi rutinitas manusia modern, para seniman ini melukis self-portrait sebagai bentuk refleksi, untuk mencoba memahami diri mereka secara obyektif (di samping untuk memperbaiki teknik melukis). Terutama dalam kasus Vincent van Gogh yang memiliki kecenderungan depresif dan gangguan mental, ia melakukan hal tersebut untuk mencoba memahami keadaan dirinya dari sudut pandang orang ketiga. Sebelum mengetahui tentang hal ini, saya pun sering mengambil foto selfie untuk mencoba memahami posisi saya dalam spektrum anxiety pada momen-momen tertentu. Saya biasanya mengamati hasil swafoto tersebut untuk menjawab pertanyaan: apa yang saya rasakan hari ini?

Vivien mencoba bertanya mengenai apa yang ia rasakan hari ini melalui pengambilan Selfie, suatu proyek pribadi yang ia lakukan untuk mengatasi depresi dan anxiety yang terkadang datang

Saya mencoba memperbanyak refleksi diri dengan memulai menulis jurnal dan blog pribadi. Dengan kembali menulis, baik untuk konsumsi pribadi maupun khalayak, saya memiliki medium untuk bisa mengekspresikan diri secara lebih sehat dan mengupas lapisan-lapisan diri yang mungkin tidak pernah saya sadari. Saya juga mulai membatasi konsumsi media sosial, dan jika pun saya masih mengkonsumsinya, saya berusaha melakukannya secara kritis, saya mencoba mengingatkan diri saya bahwa apa yang ditampilkan kebanyakan orang adalah versi hidup mereka yang telah dikurasi secara hati-hati. Saya mulai kembali berlari dan mencoba olah raga panjat tebing, karena dari kedua olah raga tersebut saya belajar bahwa satu-satunya orang yang perlu saya kalahkan adalah diri saya sendiri, bukan orang lain.

Vivien saat panjat tebing, sebuah olahraga yang mengingatkannya bahwa orang yang perlu ia kalahkan adalah diri sendiri, bukan orang lain

Walau begitu, bukan berarti serta merta semua permasalahan diri saya telah tuntas. Hingga kini saya belum merasa lepas dari momok-momok tersebut. Namun itu wajar, karena setiap orang memiliki ketakutannya (insecurity) masing-masing. Namun yang ingin saya coba jalani adalah untuk terus berusaha mensyukuri hal-hal sederhana setiap harinya. Saya juga ingin mencoba menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari diri saya.

Berikut adalah hal-hal yang tidak sempurna dari diri saya (a list of Vivien’s insecurities):

  1. Tinggi badan yang pendek
  2. Wajah yang biasa-biasa saja
  3. Follower Twitter dan Instagram yang tidak fantastis jumlahnya, dan linimasa Instagram yang tidak punya palet warna yang tematis
  4. Selera fashion yang sebatas rata-rata
  5. Hubungan percintaan yang tidak seperti film-film komedi romantis (namun setidaknya saya menikahi seseorang yang menyayangi saya dengan segala keanehan dan keperfeksionisan ini)
  6. Perjalanan karir yang nyeleneh dan sulit dimengerti maunya apa
  7. Belum/mungkin tidak akan pernah bekerja di lembaga internasional seperti PBB seperti mimpi saya di usia 21
  8. Mungkin saya tidak akan mengubah dunia, tapi tidak apa-apa
  9. Belum akan menginjakkan kaki di Iceland dalam waktu dekat, walaupun melihat Aurora borealis  nomor satu di bucket list
  10. Sisi introvert akut, yang menyebabkan nomor 11
  11. Sulit percaya orang lain

Tentu daftar ketidaksempurnaan dan insecurity saya masih lebih panjang dari ini. Namun yang terpenting adalah, saya memutuskan untuk mengalahkan ego diri. Bahwa ada hal-hal di dunia ini yang memang di luar jangkauan saya. That it’s okay to be ordinary. Bahwa dari segala prestasi yang –dengan penuh rasa syukur– pernah saya alami, yang terpenting adalah pemahaman-pemahaman kecil tentang kehidupan yang saya pelajari lewat orang-orang yang saya temui di perjalanan dan momen-momen yang tercipta dari perjalanan tersebut.

Penulis: Vivien Ayun
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *