That Weird Girl

“Dixie kan aneh.”

Begitu celetukan yang sering saya dengar sewaktu saya kecil.

Dibandingkan dengan anak-anak lain, memang kondisi dan karakter saya cukup berbeda. Punya orang tua yang beda agama, kesukaan menyendiri untuk baca buku, dan ketidaktahuan saya tentang lagu-lagu yang sedang populer di MTV maupun tangga lagu lainnya membuat saya menyandang ‘gelar’ aneh.

Dan selama bertahun-tahun, tanpa saya sadari, ‘gelar’ ini membuat saya selalu merasa jauh dari pantas. Saya selalu meringis dan merasa tidak nyaman ketika ada yang bertanya perihal agama orang tua, dan juga agama saya dan adik-adik (padahal kalau dipikir-pikir, apa urusan mereka?). Julukan kutu buku membuat saya merasa rendah diri, dan saya merasa, “Kok parah banget ini lagu populer aja ga tau?”

Ketika kuliah pun, ketakutan saya dengan julukan ‘aneh’ membuat saya terpaksa mengikuti beberapa komunitas dan kegiatan yang sejujurnya tidak saya nikmati, semuanya demi menghindari reputasi aneh, kuper, atau sederetan sebutan lainnya. Julukan masa kecil rupanya masih terngiang di benak saya. Lama-lama, saya menyerah juga dan malas mengikuti kegiatan-kegiatan yang menurut saya tidak menarik. Dan kembali, julukan-julukan senada terdengar, walau kali ini lebih merupakan bisikan di belakang punggung daripada lontaran di depan muka.

Gambaran tentang saya yang aneh ini mungkin juga diperkuat dengan saya yang saat itu ke mana-mana sendiri, mulai dari makan, ke salon, atau bahkan ke mall.

“Lo ngga takut diliatin kalo sendirian ke [nama tempat]?” tanya seorang teman dekat.

Dengan jujur saya jawab tidak, karena memang saya menikmati sekali jalan-jalan sendiri. Entah kenapa rasanya saya lebih produktif kalau me-time seperti ini, dan sebagai orang yang tidak sabaran, saya sering gerah kalau pergi rame-rame karena menurut saya banyak yang lelet.

Memasuki dunia kerja pun, yang saya pikir penuh dengan inpidu-inpidu yang dewasa dan matang, tidak membuat ‘tradisi’ ini hilang. Di saat saya pikir saya sudah aman berada di lingkungan orang-orang berpendidikan dan berpikiran luas, ternyata masih ada saja celetukan-celetukan bernada negatif di kantor.

“Dixie kan ansos,” atau, “Dixie kan autis.”

Semua semata karena saya memilih untuk makan siang di meja sambil browsing atau membaca ketimbang makan di luar, dari satu cafe ke cafe lainnya. Sebagai seorang introvert, makan siang adalah waktu me-time saya untuk re-charge energi yang cukup terkuras setelah sepagian perlu diskusi/presentasi/interaksi dengan orang. Lagipula, saya kadang-kadang masih ikut makan siang bareng teman-teman kantor kok. Walaupun saya mengerti tidak semua orang paham sisi introvert ini, yang saya tidak mengerti adalah kenapa label-label seperti ‘ansos’ atau ‘autis’ masih saja digunakan oleh orang-orang (yang saya pikir) cukup berpendidikan.

Untungnya, saat sudah kerja ini rasa percaya diri saya sudah meningkat tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya, jadi disebut ‘ansos’ ataupun ‘autis’ saya santai saja. Justru saya agak kasihan dengan orang-orang ini, yang pikirannya tidak cukup luas untuk mengerti kalau yang berbeda dari mereka bukan berarti aneh.

Puncaknya adalah ketika saya memilih untuk ganti haluan dalam karir. Setelah bertahun-tahun memaksa diri saya untuk belajar dan kerja di bidang yang bukan passion saya, pada akhirnya saya memilih resign dari posisi saya sebagai reservoir engineer untuk fokus di bisnis fotografi saya, sambil menulis di sela-sela kesibukan. Saat itu, cuma segelintir orang-orang terdekat yang mengerti dan mendukung sepenuhnya dengan tulus, sementara sisanya mengernyit, mempertanyakan, mengekspresikan kesangsian mereka, dan lagi-lagi, mencap saya aneh.

Dixie dengan kameranya, sesuatu yang memberinya kebahagiaan

Saya bersyukur sekali saat itu (dan sampai sekarang), saya dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang pikirannya terbuka, yang mendukung saya 100% untuk semua mimpi, pilihan, dan sifat saya yang tidak seperti kebanyakan orang. Orang-orang inilah yang membuat saya sadar bahwa aneh dan unik cuma berbeda dari cara pandang saja.

Melihat ke belakang, rasanya saya ingin menguliahi Dixie yang dulu, yang tidak percaya diri dengan segala keunikannya. Keunikan yang dulu saya pikir membuat saya terlihat buruk, ternyata malah jadi bekal untuk kualitas diri saya di masa depan. Lahir dari orang tua yang berbeda agama membuat saya jadi orang yang berpikiran lebih terbuka dan punya toleransi yang cukup tinggi terhadap perbedaan. Kebiasaan saya baca buku membantu saya belajar mandiri dan mengasah kemampuan menulis saya, yang pada akhirnya mengantarkan saya pada pekerjaan saya yang sekarang, Content Marketing Executive. Sebuah pekerjaan di bidang yang benar-benar baru untuk saya, yang menuntut saya untuk banyak belajar sendiri untuk bisa keep up. Sebuah pekerjaan yang begitu saya nikmati, yang mempertemukan saya dengan sesama orang unik dari berbagai latar belakang.

Masalah lagu, walaupun sekarang saya lebih ‘ngeh’ dengan lagu-lagu yang sedang populer (thanks, internet), saya masih tetap ketinggalan untuk ini. Di saat tiket konser artis X sudah sold out, saya baru tau kalau dia mau konser. Tapi saya sadar, ini karena memang interest saya bukan di sini. Saya lebih ‘ngeh’ tanggal pentas teater atau peluncuran buku yang saya tunggu-tunggu, karena memang di situ interest saya. Dan tidak ada yang salah atau aneh dengan itu.

Butuh waktu yang lama sampai saya menyadari bahwa keunikan itu bukan untuk disembunyikan, atau bahkan dihilangkan. Butuh waktu yang lebih lama lagi sampai saya bisa bangga dengan identitas saya sebagai anak dari orang tua beda agama, kutu buku, dan orang dengan interest yang tidak biasa. Pada akhirnya, ketika saya menerima diri saya yang tidak sama dengan orang lain, saya merasa jauh lebih lega dan bahagia.

Dixie bersama dengan buku-buku, ketenangan yang disukainya 

Tidak semua orang bisa mengerti hal-hal yang tidak biasa. Dulu, saya sempat berpikir, “I need to conform to fit in,” demi menghindari julukan ‘aneh’. Untungnya, julukan ini sekarang sama sekali tidak mengganggu saya. Boleh saja saya dianggap nyeleneh, yang penting saya bahagia dengan pilihan saya. If that’s the price I have to pay to pursue my happiness, I don’t mind at all.

Lagipula, seperti yang dituturkan oleh Nietzsche, “Those who were seen dancing were thought to be insane by those who could not hear the music.

Penulis: Dixiezetha Azarine Florinda Thamrin

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *