Berbeda, Bersahabat, dan Bersaudara

Kenapa di negara yang indah karena keanekaragaman ini masih ada orang-orang yang begitu kurang terbuka dengan perbedaan? Apa ini hanya di benak saya yang sudah terbiasa dengan perbedaan, atau memang selalu ada orang yang mempunyai pendapat berbeda?

 

Fajar dengan om, tante, dan sepupunya

Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Rumah kami di kompleks perumahan umum di sebuah kota kecil bernama Kediri. Kebetulan penghuni kompleks perumahan ini datang dari berbagai kalangan dan etnis, mulai dari keluarga lokal sampai perantau karena tugas kantor. Karena letaknya yang cukup dekat dengan pusat kota, perumahan tersebut dekat dengan masjid, gereja, kompleks sekolah, dan Brimob. Ada 3 bunyi rutin yang menjadi alarm saya setiap pagi, yaitu :

  1. Adzan Subuh sekitar pukul 4.00 atau 4.30 WIB
  2. Lonceng Gereja pukul 06.00 WIB
  3. Lagu wajib penuh semangat, kadang juga lagu kebangsaan dari Brimob pada pukul 06.30 WIB.

Lingkungan di sekitar rumah ini juga yang membuat Ibu saya selalu mengingatkan saya untuk menghormati dan menghargai perbedaan. Sejak kecil, berteman dan bermain dengan teman dari berbagai etnis dan agama sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Kami pun bergaul dengan teman yang beretnis Cina, yang terkenal dengan kecepatan larinya yang sulit dikalahkan.

Sebenarnya hidup di lingkungan berbeda juga saya alami di dalam keluarga besar Ibu. Karena keluarga Ibu sangat besar (tujuh bersaudara), belum lagi keluarga dari Bapak, berikut eyang kakung dan eyang putri (tujuh bersaudara), bisa dipastikan hari lebaran di keluarga saya tidak cukup hanya dua hari. Tetapi, sebenarnya bukan hanya di hari lebaran saja kami berkumpul dan saling mengunjungi. Dalam satu tahun, keluarga besar kami berkumpul minimal dua kali, yaitu pada hari lebaran dan natal.

***

Ketika kuliah di Bandung, pertemanan saya semakin luas. Senang sekali dapat belajar di tengah-tengah kultur Sunda yang cukup berbeda dengan tempat saya dibesarkan, yaitu Jawa. Menarik bertemu dengan berbagai jenis orang dari berbagai daerah di Indonesia dan menjadi perantau. Saya ingat, ketika pertama kali ke Bandung, perkumpulan mahasiswa Kediri menawarkan untuk kos di dekat kontrakan mereka. Dengan halus saya pun menolak, dengan alasan saya ingin tinggal di tempat dimana saya bisa berbaur dengan mahasiswa dari daerah lain, bukan hanya dari Kediri. Mungkin latar belakang keluarga dan tempat tinggal saya di Kediri yang beragam menjadi alasan pilihan ini.

Sejak diterima kuliah di Bandung, saya memang berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi mahasiswa yang aktif di organisasi. Setelah keluar masuk berbagai jenis organisasi, akhirnya saya memilih untuk menekuni organisasi dalam bidang musik orkestra. Alasannya, organisasi ini masih baru dan anggotanya banyak yang bisa bermain musik. Suatu bidang yang awalnya saya tidak kenal, bahkan sampai sekarang pun saya tidak bisa bermain musik. Tetapi, saya mencintai apa yang saya kerjakan disini, menjadi seorang manager performance. Alasan kedua saya menekuni organisasi ini adalah anggota organisasi yang berbeda-beda bukan saja dari segi etnis dan agama, namun juga dari sifat dan umur. Disitulah pembelajaran leadership pertama saya menghadapi keanekaragaman. Leadership yang berasal dari teman, kemudian bersahabat dan menjadi akrab.

Sebagai sebuah organisasi baru, saat itu kami sedang aktif-aktifnya mencari sponsor ke kampus dan alumni. Jumlah anggota yang terbatas dan program kegiatan yang belum tetap menjadikan pengalaman organisasi ini menantang dan menarik. Dalam proses kami mengumpulkan anggota dan dana untuk “menghidupi unit”, kami mendapatkan sebuah proyek yang cukup menarik. Sebuah universitas di Bandung akan mengadakan drama musikal Romeo & Juliet, dan kami diminta memainkan 5 lagu klasik dengan instrumen orkestra. Tentunya kami dengan senang hati menerima proyek perdana ini. Sudah dapat dibayangkan, kalau kami berhasil, proyek ini akan mempercantik portofolio kami.

Memainkan musik klasik membutuhkan skill khusus. Ini menjadi tantangan lanjutan kami, ketika beberapa pemain yang kami andalkan tidak bisa memainkan aransemen musik yang telah ditentukan. Ada dua pilihan jalan keluar, yaitu mengganti aransemen atau mencari pemain pengganti dari luar kampus. Karena waktu yang terbatas, kami memilih pilihan kedua. Resiko dari pilihan tersebut adalah semakin jago pemainnya, maka bayarannya semakin mahal. Walaupun demikian, kami tetap maju demi portofolio yang bagus.

Satu minggu sebelum pentas, kami diundang untuk gladiresik sekaligus mencoba akustik gedung. Setelah selesai gladiresik, tiba-tiba beberapa orang menghampiri saya dan mengatakan bahwa mereka tidak bisa ikut bermain karena mereka memainkan aransemen yang “sesat”. Tentunya hal ini mengejutkan saya. Selama ini, saya pikir saya yang paling awam mengenai musik pun tahu aransemen ini, kenapa mereka tidak? Setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata alasan mereka adalah karena dilarang oleh keluarganya bergaul dengan orang dari etnis dan agama yang berbeda. Jadi, mau tidak mau kami pun harus merelakan beberapa orang untuk keluar dari proyek tersebut. Sudah pasti peristiwa itu membebani rekan-rekan yang lain secara fisik dan mental.

Peristiwa tadi menjadi peristiwa yang membekas dalam benak saya sampai sekarang. Kenapa di negara yang indah karena keanekaragaman ini masih ada orang-orang yang begitu kurang terbuka dengan perbedaan? Apa ini hanya di benak saya yang sudah terbiasa dengan perbedaan, atau memang selalu ada orang yang mempunyai pendapat berbeda? Pertanyaan ini pun saya simpan sampai saya lulus kuliah dan bekerja di Jakarta.

***

Fajar dengan eyangnya, yang biasa menemaninya shalat subuh sambil membaca doa pagi

Peristiwa kedua yang membuat saya cukup kaget adalah ketika saya berdiskusi dengan beberapa rekan di tempat kerja. Kami mempunyai satu grup chat sebagai wadah untuk menyampaikan berita yang sedang terjadi di kantor, atau hanya untuk sharing informasi yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Suatu hari, saya menerima suatu berita yang bernada provokasi terhadap suatu kelompok mayoritas dan menjatuhkan kelompok minoritas di grup tersebut. Lagi-lagi peristiwa ini terkait etnis dan agama. Sebagai anggota grup yang baik, salah satu rekan saya mencoba untuk memberitahu si penyebar berita dengan nada yang menurut saya bisa diterima. Sekali dua kali, si penyebar berita yang kebetulan salah satu admin grup tersebut tetap tidak mengubah sikap. Peristiwa ini berakhir dengan keluarnya beberapa orang anggota grup chat.

Persitiwa ketiga yang membuat saya kembali bingung adalah ketika saya mengikuti Kelas Inspirasi Jakarta. Waktu itu, saya mengajar anak-anak kelas 5 di salah satu SD di Jakarta. Saya memulai sesi mengajar dengan pertanyaan mengenai cita-cita. Sebagian besar ingin menjadi pegawai negeri, seperti polisi, guru dan ABRI. Pertanyaan saya pun sampai ke salah seorang anak laki-laki berwajah oriental di sudut kelas. Surprisingly, cita-citanya membuat saya tersenyum dan sekaligus membuat teman-temannya tertawa. Dia ingin menjadi animator. Saat itu saya merasa bersalah menanyakan cita-cita anak ini, karena membuat dia ditertawakan teman-temannya. Walaupun di sisi lain saya juga heran, kenapa cita-citanya harus ditertawakan? Apa yang salah kalau dia ingin menjadi animator? Dengan iseng saya pun menanyakan di depan kelas, kenapa mereka menertawakan sang calon animator ini. Jawabannya cukup mengejutkan, “Waah, Cina animator!” Wow, saya tidak pernah menemui bullying sekejam ini selama saya sekolah. Setelah mengajar, saya menutup kelas itu dengan pesan mengenai penghargaan terhadap perbedaan.

***

Hidup di Jakarta membuat saya merasa bagian dari perbedaan tersebut. Disini adalah tempat dimana saya mempraktekkan pelajaran hidup yang saya terima selama di rumah. Betapa berterima kasihnya saya mempunyai saudara dan teman yang menjadi kaum minoritas di negeri ini. Mendengar curhatan mereka yang bahagia ketika saya, bagian dari si kaum mayoritas yang mencoba untuk lebih mendengarkan mereka. Betapa mendengarkan menjadi penghargaan berarti bagi mereka, bahkan mungkin bagi sang calon animator yang diejek teman-temannya, si kaum mayoritas dengan cita-cita sederhananya.

Penulis: Fajar Dewi Arumsari
Editor: Lyla

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *