Fight for My Way

Dibesarkan di lingkungan keluarga yang berpendidikan tinggi membuatku malah memilih tidak mengikuti jejak orangtua dan keluarga besarku. Ayah lulusan S2, Ibu lulusan S3 dan sepupu-sepupu minimal lulusan D3. Tapi aku memilih bahagia menjadi lulusan SMK.

Saat SD orangtuaku memasukkanku ke sekolah swasta dengan pendidikkan agama Islam dan Internasional yang cukup kental di Jakarta. Saat ayah dan ibu berpisah, aku terpaksa ikut ibu ke Bandung dan tinggal di keluarga besarnya, lalu masuk ke sekolah negeri. Disitulah akhirnya aku tahu perbedaan pendidikkan berbasis uang, uang memang menentukan konten pendidikkan, pengajar, serta hasil didikannya. Positifnya menurutku, mereka yang lulus dari sekolah dasar negeri justru lebih mementingkan solidaritas antara satu sama lain dibandingkan mereka yang lulus dari sekolah dasar swasta, karena biasanya mereka justru sudah terfokus dengan keperluan masa depan yang ditentukan material.

Memasuki masa SMP, ibuku yang teryakinkan oleh kakaknya, memutuskan untuk memasukkanku ke Boarding Islamic School (sejenis pesantren namun lebih internasional) di daerah Kuningan, Jawa Barat. Hanya 6 bulan aku bertahan disana, sebagian karena homesick, sebagian juga karena aku sering mempunyai suicidal thoughts akibat merasa “dibuang” kesana. Positifnya banyak pengetahuan agama yang kudapatkan sebagai bekal hidup, dan juga setidaknya aku dapat sedikit menyenangkan perasaan ibuku.

Lalu aku melanjutkan pendidikkan SMP-ku 6 bulan berikutnya di Bandung, menginjak kelas 2 SMP aku mengalami kecelakaan saat balapan motor dengan sepupuku (ya aku memang ceroboh) dan hal tersebut membuat hak asuh kembali pada ayah. Aku pun kembali ke Jakarta untuk tinggal bersama ayah kandung dan ibu tiriku (di tahun yang sama ibuku menikah lagi dengan seorang duda anak 1).

Aku sempat hampir tak lulus dari SMP karena nilai jelek pada UN Matematikaku (math is my biggest enemy),  namun akhirnya aku lulus karena ujian ulang. Jauh sebelum persiapan kelulusan, sedari SD aku tak  pernah berkeinginan untuk duduk di bangku SMA dengan pilihan jurusan IPA atau IPS yang berlanjut aku duduk di bangku kuliah setelahnya.

Aku sangat mencintai seni, hanya saja saat itu banyak presepsi bahwa seni tak bisa menghidupi kita, bahwa seni tak bisa menghasilkan makanan untuk kita sehari-hari. Akhirnya aku memilih SMK jurusan Patiseri (pengolahan makanan sejenis kue, roti, dan kudapan lainnya) bukan Jasa Boga (karena aku selalu bersin saat mencium masakan bawang dan cabai). Aku juga saat itu teryakinkan oleh mereka yang bilang “Anak pastry (nama lain patiseri) sudah pasti bisa masak tapi anak Jasa Boga belum tentu bisa bikin kue”. Aku mengalihkan kecintaan seniku untuk membuat produk makanan di dapur, dengan sepenuh hati menghasilkan tampilan dan rasa terbaik yang bisa kuberikan. Hingga suatu hari, guru-guru memintaku ikut perlombaan dalam membuat kue dan cokelat, namun aku menolaknya. Buatku seni, hidup, bukanlah sesuatu yang ada untuk diperlombakan, tapi untuk dinikmati.

Anna saat belajar Patiseri di SMK 

2013 aku lulus dari bangku sekolah, ibuku mulai panik karena aku mengutarakan keinginan untuk tidak berkuliah. Lelah, itu yang pertama muncul di benakku mendengar kata kuliah. Maksudku, 12 tahun aku bersekolah dan aku merasa amat cukup dengan pendidikan akademik. Aku memilih bekerja pada suatu restoran Swiss yang memang sudah jalannya aku kesana. Aku bekerja pada pisi sesuai dengan keahlianku. Sebulan pertama disana aku dipercaya membuat menu baru, mendapatkan “reward” atas melayani “mystery guest” dengan baik selama 2 bulan berturut-turut.  Sembari bekerja aku banyak bertanya kepada mereka, teman-teman sejurusanku saat SMK yang memilih melanjutkan kuliah dibidang patiseri. Kutanya “Gimana ilmunya disana?” Kemudian jawaban yang kudapat diluar ekspektasiku.

“Sama aja Na kayak SMK, malah ngulang lagi dari awal belajar adonan dasar lagi, bedanya banyak mata kuliah di luar jurusan yang akademis yang ga banyak kita dapet di sekolah kayak akuntasi, management, dan lain-lain.”

Entah mengapa di titik inilah aku bersyukur atas pilihanku untuk tidak menjadi mahasiswa, karena  dengan bekerjapun aku yakin aku banyak dapat ilmu yang mereka bilang “akuntansi” serta “management”, bahkan plusnya aku dapat ilmu itu secara praktek, bukan teori.

Banyak salah? Bingung? Wajar. Itulah indahnya belajar dalam kehidupan.

Tibalah aku di puncak karier Pastry-ku saat seorang Owner cake shop mencari orang yang dapat bekerja membuat menu baru, menjalankan standar operasional serta membuat produk dengan baik. Bosku dan aku memiliki hubungan baik seperti orang tua dan anak. Aku bahkan sampai diberangkatkan kursus ke Singapura agar ilmu pastry-ku bertambah. Hingga di satu waktu, perusahaan tempatku bekerja harus menutup cabang utama mereka. Bosku menyarankan aku dan beberapa rekanku mencari pekerjaan di tempat lain karena ia takut tak bisa cukup membayar gaji kami. Dengan separuh hati, kutinggalkan tempatku banyak belajar dan berkembang karena aku percaya ada banyak kebaikan menungguku didepan.

Aku sempat memulai usaha berjualan kue kering saat bulan Ramadhan untuk Lebaran, memiliki brand sendiri dan banyak diminati pembeli, tapi ya namanya usaha musiman, membuatku harus segera memutar otak untuk tetap melanjutkan hidupku dan tidak menjadi pengangguran.

Melihatku “berdiri pada kaki sendiri” membuat ibu merasa memiliki kesempatan untuk kembali memaksaku berkuliah, namun lagi, aku mematahkan keinginannya. Untuk sedikit memenangkan hatinya, aku memberikan dia penawaran lain yang menjanjikan berupa “aku akan memilih untuk kursus bersertifikat agar aku tampak ‘berilmu’ dimatanya”. Memahami bahwa Ibu mencintai kopi dari segala jenisnya, akhirnya aku memintanya untuk membiayaiku kursus “barista experience” dan berjanji akan bekerja sebagai barista setelahnya. Tentu dia bahagia dan bangga, aku sih tetap percaya akan banyak ujian dan tantangan setelahnya.

Sesuai janijku, selesai kursus kupraktekkan ilmuku dihadapannya, sembari mencari pekerjaan sebagai barista, tidak mudah mendapatkan pekerjaan tersebut di saat aku hanya memiliki pengalaman sebagai “murid kursus” sampai akhirnya seorang teman mengajakku menjadi satu team dengannya di sebuah coffee shop baru. Aku banyak belajar mengenai operasional sebagai barista serta belajar mencintai kopi pahit sepenuh hati.

Anna sebagai Barista 

5 bulan aku bekerja sebagai barista, pekerjaanku itu pula yang akhirnya membuatku bertemu dengan suamiku saat ini. Aku memutuskan pensiun dari karier baristaku dan membuka sebuah warung roti bakar yang merupakan impianku sejak lama, roti bakar yang benar-benar dibakar langsung dengan api menggunakan “gas torch” bukan dibakar diatas arang atau di atas “pan”

Usaha kami berdua merupakan suatu pendekatan dan sarana pembelajaran karakter satu sama lain, itu bertahan 3 bulan sesuai kontrak bangunan tempat kami berjualan. Aku mengambil keputusan untuk menghentikan sementara Waroeng Markonah-ku karena kami harus mulai mempersiapkan diri untuk lamaran saat itu.

Anna dan calon suaminya saat itu, di Warunk Markonah bikinannya, dimana Roti Bakar dibuat langsung dengan Torch

Selama menunggu waktunya lamaran dan menikah aku mulai memikirkan hal lain yang bisa ku kerjakan dengan sepenuh hati namun menghasilkan untuk kehidupanku dan kami nantinya. Kemudian terbesit dibenakku membuat usaha aksesoris, aku mulai dengan anting-anting. Kuberi nama La Komple’. Diambil dari bahasa Perancis yakni La Comple’ment atau The Complement yang berarti “Yang Melengkapi”. Aku ingin karyaku dapat melengkapi penampilan orang lain dan mereka bahagia untuk membeli dan menggunakannya. Tidak mudah memang menantang diri pada usaha di bidang baru, bagiku, pedagang lain bukanlah saingan, justru mereka sumber semangatku secara tidak langsung.

Terkadang ada kesan bahwa wanita dan usaha adalah 2 hal yang tabu untuk disatukan. Bahwa wanita kerap kali dipandang sebagai pelengkap keluarga, bukan untuk bekerja atau memiliki usaha untuk  diri mereka sendiri. Namun bagiku, aku ada disini, hidup, dan mencurahkan segala tenaga untuk usahaku. Untuk mematahkan banyak hal yang “katanya” tidak boleh dilakukan seorang wanita. That’s what my life taught me.

Penulis: Anna
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *