Happy-Go-Lucky

Banyak yang menilai saya sebagai seorang pribadi yang “happy-go-lucky”,

seseorang yang selalu ramah, positif, menikmati hidup, dan seperti tidak punya masalah untuk dikeluhkan.

Bagi saya, penilaian tersebut tidak salah, namun belum lengkap.

Di sebagian besar waktu saya, saya merupakan pribadi yang easy-going. Saya tidak mudah terusik oleh masalah dan ketidaksempurnaan. Saya suka membuat rencana, namun tetap merasa nyaman jika harus berimprovisasi. Saya juga merupakan orang yang ‘nrimo’, dan percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik buat saya. Kalau saya terlahir sebagai superhero, sepertinya saya akan menjadi Grateful Girl, yang kekuatan supernya adalah selalu merasa berterima kasih dengan apapun yang diberikan kepada saya.

Namun seperti manusia-manusia lainnya, saya juga punya perasaan insecure yang kadang-kadang muncul ke permukaan dan tidak bisa dibendung. Dulu saya selalu berusaha memendam perasaan-perasaan negatif yang saya miliki, untuk senantiasa menjadi positif dan happy-go-lucky, sesuatu yang saya lakukan tanpa sadar. Tapi sekitar dua tahun lalu, belajar dari film Inside Out (2015) dan buku Daring Greatly karya Brene Brown (yang merupakan rekomendasi dari Asih, penggagas Cerita Perempuan), saya sekarang paham bahwa perasaan insecure itu tidak bisa dikubur dalam-dalam, tapi harus dirangkul, dituntun ke permukaan, dikomunikasikan, dan dicarikan solusinya.

Belajar rapuh, atau menjadi vulnerable, bagi saya yang happy-go-lucky ini sebenarnya sangat susah. Awalnya saya perlu melakukan validasi ketika perasaan-perasaan negatif seperti sedih, marah, muak, frustasi, kecewa, dan lain sebagainya muncul. Perasaan-perasaan seperti itu masih asing buat saya, karena seumur hidup saya, saya mengabaikan perasaan-perasaan tersebut, dan merangkumnya sebagai rasa, “Yasudahlah, terima saja!”. Namun yang lebih berat lagi adalah memunculkan dan mengkomunikasikan perasaan cemas, khawatir, ragu pada diri sendiri, dan rasa takut pada ketidakpastian. Rasanya ngilu-ngilu dan perlu menghela nafas berkali-kali.

Namun ketika saya berani memunculkan perasaan-perasaan tersebut, tanpa saya duga, perasaan-perasaan positif lainnya juga tumbuh semakin subur. Ternyata perasaan-perasaan ini bukannya mencemari karakter happy-go-lucky saya, tapi malah membuatnya semakin kuat, dan membuat saya merasa semakin utuh.

Dalam tulisan kali ini, saya akan membagi beberapa perasaan insecure dan ketakutan-ketakutan saya, dan bagaimana cara saya belajar menanganinya. Perlu dicatat, semuanya masih work in progress, karena saya belum berhasil menanganinya secara tuntas. Ini adalah upaya saya untuk menjadi berani, menaruh diri saya di luar sana, dengan harapan dapat berbagi pengalaman dan mendapat masukan dari teman-teman di Cerita Perempuan.

Ina bersama anak-anak yang ia bimbing melalui Rumah Cerita, organisasi yang ia bentuk bersama teman-temannya untuk mengajak anak-anak lebih berani untuk bercerita dan menulis

1. Fear of failure

Butuh waktu bagi saya untuk dapat mengatakan secara lantang apa cita-cita saya. Saya ingin jadi penulis. Saya baru berani mengatakan hal tersebut ketika saya duduk di bangku SMA. Sebelumnya saya hanya memendam cita-cita saya tersebut dan tidak berani mengatakannya, karena saya takut orang-orang akan mempertanyakan pilihan saya dan saya tidak punya keberanian untuk mempertahankan keinginan saya.

Pun sudah berani mengkomunikasikannya, untuk berusaha meraihnya juga merupakan rangkaian ketakutan tersendiri. Seorang penulis pasti adalah seorang pembaca. Nah, ini jadi tantangan tersendiri. Sebagai penulis, kemampuan saya masih sangat pemula, namun sebagai pembaca, saya sudah cukup . Jadi ketika saya sebagai pembaca membaca tulisan saya sebagai penulis, saya selalu merasa tulisan saya tidak cukup baik. Saya tidak percaya diri dan takut gagal. Hal inilah yang membuat saya (hampir) tidak pernah menulis.

Bagaimana cara saya menangani ketakutan saya akan kegagalan dalam mencapai cita-cita saya? Saya mengambil rute memutar. Saya memilih bekerja di korporat, sebagai Corporate Engagement Specialist, dengan salah satu saya sebagai penanggung jawab internal communications, di mana saya bisa tetap belajar menulis, namun tidak perlu dicap sebagai “penulis”.

Selain itu, saya juga mendirikan sebuah komunitas yang mengajari anak-anak untuk berani menyampaikan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan dan karya kreatif. Saya ingin anak-anak punya kepercayaan diri dalam menyampaikan ide dan gagasan mereka, dan tidak memiliki ketakutan-ketakutan yang sama seperti saya. Harapan saya adalah tetap dekat dengan dunia menulis dan bisa belajar berani dari anak-anak tersebut, karena saya percaya keberanian itu menular.

Ina memegang salah satu quote yang mengingatkannya untuk lebih percaya diri

2. Relationship is too hard. No one is capable in maintaining functional relationship. Including me.

Seumur hidup saya, belum pernah saya menemukan contoh hubungan pasangan (pernikahan) yang ideal dan bahagia. Hampir semua cerita yang saya dengar selalu lebih banyak aspek negatifnya ketimbang positifnya. Tapi herannya, meskipun saya jadi takut dengan yang namanya hubungan romantis, saya tetap ingin memilikinya. Berkali-kali saya bertanya pada diri saya, apakah saya benar-benar menginginkan hal ini? Dan jawabannya iya.

Awalnya saya selalu terjebak dengan commitment issue. Tanpa saya sadari, saya selalu lebih tertarik pada pria-pria yang tidak bisa saya miliki. Ketertarikan ini membuat saya merasa nyaman karena saya memiliki. Ketika hubungan tersebut tidak berhasil, saya tidak bisa disalahkan. Karena bukan saya yang tidak mampu mempertahankan hubungan tersebut, melainkan keadaan yang (dari awal) memang tidak memungkinkan.

Sampai di suatu titik saya menyadari kepengecutan saya. Saya dilanda patah hati hebat yang membuat saya menyesal telah menjadi orang yang skeptis dalam memandang sebuah hubungan.

Akhirnya saya belajar. Benar-benar belajar. Saya yang tadinya enggan dan gengsi untuk membaca buku self-help, akhirnya melahap banyak buku-buku mengenai relationship dan mindfulness. Saya menyembuhkan patah hati saya dengan membaca teori dan panduan mengenai hubungan romantis. Saya mempersiapkan diri saya dengan mempelajari best practices dalam membina hubungan, sambil menunggu diri saya benar-benar sembuh dan siap untuk membina hubungan baru.

Setelah dua tahun, akhirnya saya merasa benar-benar siap, dan Alhamdulillah juga dipermudah untuk memulai hubungan baru.

Berani memulai dan merasa siap dengan amunisi teori dan panduan itu baru satu langkah, menjalaninya juga butuh keberanian yang berlipat-lipat. Banyak ketakutan yang senantiasa menari-nari di kepala saya. Dua ketakutan terbesar saya adalah mengenai kemampuan saya, “Am I capable to be in a relationship?”, serta ketakutan akan ketidakpastian, “Am I doing the right thing or am I just wasting my time?”

Saya belum benar-benar bisa mengontrol ketakutan-ketakutan saya, tetapi setidaknya saya belajar. Dan saya sangat beruntung karena memiliki pasangan yang (sejauh ini) sangat mendukung dan bisa menerima keadaan saya yang masih belajar ini.

Ina di sebuah kegiatan kantor

3. I am not a good enough leader. I have trust issues.

Baru-baru ini saya merasakan ketakutan baru dalam hidup saya. Tahun ini, komunitas yang saya prakarsai dipercaya menjadi koordinator dari sebuah rangkaian acara di sebuah festival literasi tahunan di Jakarta. Acara ini cukup besar di mana ada sekitar 600 peserta yang datang setiap harinya. Dengan informasi dan fasilitas yang cukup terbatas, serta persiapan yang cukup mendadak dari pihak penyelenggara, saya dan sahabat saya, harus memimpin sekitar 60 relawan untuk memfasilitasi peserta, sekolah, dan pengisi acara di acara ini. Banyak tantangan yang sempat membuat saya merasa cukup ‘kapok’ dalam menjadi koordinator acara sejenis.

Merenungkan ‘kegagalan’ saya sebagai seorang pemimpin, saya menyadari salah satu kelemahan utama saya adalah saya hampir selalu merasa tidak enak jika harus minta tolong atau mendelegasikan tugas ke orang lain. Saya selalu merasa lebih nyaman untuk melakukan semuanya sendiri. Namun sering kali kapasitas saya tidak memadai untuk melakukan semuanya sendiri, dan akhirnya terdapat beberapa pekerjaan yang terbengkalai.

Sejujurnya saya sangat terpukul dan merasa gagal menjadi pemimpin karena hal tersebut. Kalau kegagalan itu hanya menyangkut diri saya, biasanya saya santai dan menerima saja sebagai pembelajaran. Namun ketika ini menyangkut orang lain, orang-orang yang sudah meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu saya, saya merasa memiliki beban yang berlipat-lipat ganda. Saya tidak bisa melihat kekecewaan yang terbersit di wajah-wajah yang lelah. Saya merasa tidak mampu, dan saya merasa memiliki trust issue ketika tidak bisa mendelegasikan kepada orang lain. Hati kecil saya ingin menyerah saja, takut jika toh tidak semua orang perlu jadi pemimpin.

Bagaimana cara saya mengatasi ketakutan-ketakutan saya ini? Saya mengkomunikasikan perasaan tidak mampu saya ini dan mencari kesempatan untuk belajar di lingkungan yang berbeda.

Ketakutan saya ini muncul ketika saya berada di komunitas saya, ketika saya sudah memiliki label sebagai “pemimpin”, sehingga ketakutan untuk gagalnya sudah terlanjur besar. Saya mengakalinya dengan belajar menjadi pemimpin di kantor, di mana ekspektasi orang-orang terhadap saya (yang bukan pemimpin) masih rendah, sehingga ketika saya gagal, saya tidak merasa orang-orang menghakimi saya.

Saya berterus terang kepada bos saya, saya ingin belajar menjadi pemimpin dan berharap diberikan kesempatan untuk hal ini. Dan alhamdulillah bos saya sangat mendukung dan bisa melihat potensi saya dengan baik. Saya diberikan beberapa role sebagai team lead untuk inisiatif-inisiatif yang sesuai dengan minat saya. Alhamdulillah inisiatif-inisiatif yang saya pimpin berjalan lancar dan mendapat feedback yang sangat baik dari berbagai pihak. Meskipun saya masih sulit untuk mendelegasikan tugas, dan masih lebih nyaman untuk mengerjakan banyak hal sendiri, tapi perlahan-lahan kepercayaan diri saya muncul kembali. Dan ketika kepercayaan diri itu muncul, saya jadi memiliki keberanian untuk menghadapi ketakutan saya untuk menjadi pemimpin di komunitas saya.

Itulah beberapa insecurities dan ketakutan-ketakutan yang pernah dan sedang saya alami. Masih banyak hal-hal lain yang membuat saya takut dan tidak nyaman dalam menjalani hidup. Tapi saya percaya, cara terbaik untuk menghadapi ketakutan adalah dengan menghadapinya.

***

Sebagai penutup, saya ingin mengutip Atticus Finch, tokoh favorit di buku favorit saya, To Kill a Mockinbird, “I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It’s when you know you’re licked before you begin, but you begin anyway and see it through no matter what.

Meskipun sering tampak riang dan happy-go-lucky, saya seperti semua orang di dunia ini pasti punya ketakutan dan kekhawatirannya masing-masing. Merangkul dan mengkomunikasikan kecemasan dan ketakutan kita sangatlah penting untuk akhirnya bisa sampai pada solusi dan penyelesaian. Dan seringkali, kita tidak bisa menghadapinya sendirian.

Fear is like a wildfire, but courage is also contagious. Terima kasih Cerita Perempuan karena sudah menyediakan wadah untuk menjadi berani. Kita tidak sendirian!

 Penulis: Ina Andira

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *