How to Deal with Grief

Kehilangan orang yang paling disayangi adalah sesuatu yang pasti akan dilalui oleh semua manusia.

Peristiwa itu tidak pandang bulu, baik bagi yang masih kecil, remaja, dewasa, bahkan bagi yang sudah menginjak lima puluh tahun sekalipun

tetap saja rasanya sama, sakit. Baik ibu rumah tangga, arsitek, engineer, atau penulis puisi. Ya tetap saja, sakit.

Kehilangan yang saya alami cukup membuat saya shock karena saya selalu menyangka bahwa fase ini baru akan menghampiri saya setelah orang tua saya sudah menyaksikan saya menikah. Di dalam pikiran saya,  mereka yang seharusnya akan sibuk menceramahi saya mengenai siapa sebaiknya laki-laki yang saya pilih, baju pernikahan mana yang sebaiknya saya pakai dan apa yang sebaiknya saya lakukan jika kelak berantem sama suami. Sayangnya, bahkan Ibu saya tidak sempat melihat saya kuliah, padahal saat saya masih pakai seragam sekolah yang tidak saya sukai, ibulah yang selalu menyemangati saya “Yang rajin belajarnya, biar bisa lulus SMA, terus bisa pakai baju bebas ke kampus.”

Banyak hal yang saya rasakan ketika saya baru-baru menjadi yatim. (1) Saya merasa bahwa saya tidak boleh sedih di depan orang agar mereka tidak menjadi canggung (karena mayoritas teman di umur saya masih pada punya orang tua). (2) Saya merasa bahwa saya tidak boleh jadi beban buat kakak-kakak saya. (3) Saya menjadi kurang hasrat untuk mempertahankan sesuatu karena saya tahu pada akhirnya semua akan hilang (termasuk dalam hal ini percintaan). (4) Saya jadi bingung mau berlindung di bawah nasihat siapa. (5) Saya juga bingung kalau ada pencapaian dalam hidup saya sekarang, saya mau dapat apresiasi dari siapa. Namun yang paling aneh adalah saya menjadi sensitif kalau ada teman di telepon Ibunya lalu tidak diangkat. Walau saya tidak tahu sebenarnya ada masalah apa diantara mereka, saya sebal.

Saat kehilangan Ibu, saya tidak sempat berduka secara proper karena saya disibukan dengan ujian masuk perguruan tinggi. Pun dengan Bapak, saya disibukan dengan pekerjaan. Apesnya,  gak ada guru sekolah dari SD sampai SMA yang mengajarkan saya step-by-step nya untuk mengahadapi masalah ini. Memang tidak ada kurikulumnya, dan mungkin juga guru-guru tidak tahu jawaban yang tepat, namun alhasil yang saya rasaran adalah saya terlalu muda, saya tidak ahli, saya tidak tahu. Atau tidak mau tau lebih tepatnya. Ketidakmautauan saya berujung tragis ketika saya menyadari bahwa kesedihan dan kerinduan itu datangnya perlahan. Berbulan-bulan setelah kematian Ibu saya, perlahan, di malam hari ketika saya tidak bisa tidur kesedihan dan kerinduan datang. Di saat-saat perasaan itu datang, saya dapat menghabiskan tisu berlembar-lembar, sampai mungkin bisa di demo sama kelompok penganut green life-style. Kadang saya berpikir jika Tuhan menciptakan rasa ini untuk dirasakan setiap waktu,  saya bisa mati perlahan karena rindu.

Dulu, saat kangen Ibu, saya akan tidur sama Bapak, sambil minta diceritakan tentang Ibu. Pada malam-malam itu, Bapak saya akan terbangun dan beberapa kali saya melihat Bapak menangis saat berdoa karena merasakan kerinduan yang serupa. Bapak saya tau kapan waktu dia boleh bersedih atas kepergian istrinya dan dia mempersilakan dirinya untuk sedih di waktu yang tepat baginya, yaitu saat saya telah tertidur. Dari sini saya belajar untuk menghindari menyakiti diri sendiri dengan menganggap saya tidak pantas sedih. Rumus sedih tidak ada yang tepat, selalu berubah. Rumus saya sekarang adalah “Kalau sedih, harus disegerakan.”  Saya belajar bahwa, membiarkan air mata mengalir sebentar membuat saya lebih cepat ceria kembali. Tapi bisa jadi di kemudian hari saat sudah berumah tangga, rumus sedih saya berubah menjadi “Kalau sedih, harus nanti, pas anak sudah tidur,” seperti Bapak.

Dea, Bapak, dan Ibu

Saya diajarkan oleh Ibu saya untuk menerima sakit, baik itu sakit hati ataupun sakit fisik. Sehingga saat rasa rindu datang, saya berusaha menyambutnya. Tapi si rindu ini terkadang tidak tahu waktu, ketika saya harusnya bekerja, ia datang tanpa permisi, begitu kuat sampai saya memutuskan untuk merasakannya, membuat pekerjaan saya tertunda. Terkadang ada teman yang empati, bisa mengerti apa yang sedang saya rasa, namun terkadang tidak. Adapun saat teman sudah berusaha empati, tapi karena perasaan ini datang di waktu yang salah, saya malas menyalahkan mereka yang sudah berempati ini. Saya bilang mereka gak ngerti karena mereka belum merasakan, di saat-saat seperti itu saya seperti butuh orang yang bisa disalahkan atas perasaan ini.

Bahkan untuk mengakui bahwa kita sedang berduka, membutuhkan waktu sendiri. Menurut saya bersabar adalah cara yang tepat ketika kehilangan orang tua. Mau dekat atau tidak kita dengan orang tua kita, sepertinya Tuhan menciptakan suatu rumus rasa yang khusus antara anak dan orang tua. Gak ada kata yang bisa benar-benar menggambarkan rasa sakit, rindu, bolong, yang kita rasakan saat kita kangen sama orang tua. Mengambil cuti satu hari untuk menenangkan diri sendiri tidak apa-apa jika memang dibutuhkan. Menurut saya, sakit pikiran ini terkadang harus diberi perhatian lebih karena yang gini-gini nih yang ujung-ujungnya bisa bikin badan demam. Penyakit orang kerja kan gitu, tiba-tiba lemes terus kata dokter “Ini sih stress, banyak pikiran”.

Ada cara lain juga sebenarnya, yaitu dengan meminta orang memberikan waktunya untuk mendengarkan kita bercerita tentang kerinduan kita. Saya tahu semua orang memiliki masalah hidupnya masing-masing. Tapi, jika rindu yang datang sudah tak bisa ditanggung sendiri, boleh juga kok minta bantuan ke orang sekitar untuk sekedar mendengarkan. Kalau saya sih lebih nyaman menghubungi teman yang sama-sama sudah kehilangan orang tua, lebih relate dan lebih lepas aja ceritanya. Perkataan “Duh, iya ya emang harusnya kalau masih ada harus sering-sering ngobrol” pun tidak akan terasa seperti menasihati atau menyindir.

Mengalami sekali kehilangan tidak lantas membuat saya menjadi ahli dalam menghadapi kehilangan kedua. Namun setidaknya saat peristiwa kehilangan yang kedua terjadi, saya lebih tau menghadapi teknisnya. Saya jadi manager pemakaman, dari mulai bayar ambulans, bagi-bagi tugas dengan kakak-kakak untuk menyiapkan pemakaman dan memberi kabar kepada saudara, sampai mengurus akta kematian orang tua saya. Setidaknya portfolio event manager saya bertambah satu, bisa menghandle event seperti ini (walau sambil nangis).

Kehilangan orang tua bukan berarti hidup kita akan sedih selamanya, walau iya, memang, rasanya sedih. Namun bagi saya pribadi (mungkin bagi kamu juga), kehilangan membuat saya lebih menghargai dan memaknai percakapan, pertemuan, dan pertukaran ide yang terjadi. Pertanyaan “Apa kabar?” saya jawab serius dan saya tanya balik juga dengan serius. Saya juga jadi rajin mencari kegiatan untuk menepis kesedihan. Awalnya saya hanya butuh kesedihan ini cepat hilang, namun saat kesibukan itu terjadi, saya jadi rajin bertanya, bertemu dengan orang, dan bahkan melakukan sesuatu yang mungkin bisa bermanfaat buat orang lain.

Sebenarnya banyak kesedihan yang akan dirasa dari peristiwa kehilangan. Apalagi kalau sambil liat video atau album foto terus muter lagu yang menjadi kenangan. Namun, ternyata banyak juga hal yang saya dapat. Dengan kehilangan saya jadi lebih tau apa yang sebenarnya berarti. Uang, pekerjaan, dan segala hal-hal yang duniawi tentu berarti, namun menikmati waktu bersama orang yang kita sayangi akan menjadi hal terbaik yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri, setidaknya itu bisa mengurangi rasa sesal atas kepergian orang tersebut.

“As long as we can love each other, and remember the feeling of love we had, we can die without ever really going away. All the love you created is still there. All the memories are still there You live on–in the hearts of everyone you have touched and nurtured while you were here….. Death ends a life, not a relationship”

– Thursday With Morrie

Penulis: Dea Chandra Marella
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *