Learning to Make Peace with Myself

 Dinda (berbaju biru), di tengah teman-temannya

Ayah saya selalu bilang, anak itu harus lebih baik dari orang tuanya, dari segi apapun. “Kalau Ayah gak bisa bikin kakak lebih baik dari Ayah, berarti Ayah salah mendidik, nak.” Hal itulah yang terus terngiang di telinga saya, hingga saat ini. Kedua orang tua saya yang memiliki gelar master, dan keduanya selalu memotivasi saya untuk melanjutkan studi hingga doktoral, supaya saya jadi lebih baik dari mereka. Dulu, ketika ditanyakan cita-cita oleh tetangga saat saya masih belum genap 10 tahun, saya akan selalu menjawab dengan semangat, “Mau jadi Profesor! Kalau S ada sampai 7, Dinda akan jalankan sampai S7!” Begitulah mimpi saya semasa kanak-kanak.

Bertahun-tahun kemudian, Selepas kuliah sarjana dulu, saya langsung mencari tahu mengenai lowongan beasiswa pascasarjana. Saya sampai sengaja stay di Bandung setelah wisuda untuk mempersiapkan pendaftaran kuliah master, sambil bekerja sebagai asisten mata kuliah dan laboratorium di kampus. Setelah semester berakhir, saya pindah ke Jakarta untuk mengerjakan proyek mengenai social entrepreneurship di Kepulauan Seribu. Di tengah kesibukan proyek yang sedang saya kerjakan, saya mendapatkan berita bahwa saya diterima di salah satu universitas di Norwegia dan juga lolos seleksi beasiswa –full scholarship. Saya setengah berteriak menanggapi e-mail pengumuman saat itu, histeris, tidak menyangka kalau salah satu mimpi saya dapat segera terealisasikan.

Singkat cerita di bulan Agustus 2013, tepat di hari ulang tahun saya yang ke-23, saya bertolak ke Norwegia dengan rasa optimis, excited to see what the future will bring. And it will be bright –for that I am sure.

Ternyata, sistem perkuliahan Pasca-Sarjana di Norwegia berbeda dengan di Indonesia. Di semester pertama, saya hanya memiliki 4 mata kuliah. Tiga mata kuliah memiliki praktik di laboratorium, sementara yang satu lagi memiliki program ekskursi atau field trip. Namun, secara keseluruhan jadwal saya setiap minggunya terhitung lowong dibandingkan dengan kuliah sarjana dulu yang satu semester bisa 7-8 mata kuliah, saat itu rasanya hampir setiap hari  saya habiskan di kampus. Alhasil di kuilah master ini, saya agak terlena dengan jadwal lowong tersebut. Waktu kosong yang seharusnya saya pakai untuk belajar mandiri malah saya salah gunakan untuk jalan-jalan ke luar kota ataupun luar negeri sebulan sekali, masak-masak, dan rutin berolahraga di gym.

Sampai akhirnya saat  masa Ujian Tengah Semester tiba, saya kewalahan mengerjakan soal yang diberikan, dan akhirnya  nilai saya jelek. Saya menyadari nilai yang buruk ini kemungkinan dikarenakan pola belajar saya yang berubah. Di tingkat serjana, saya memiliki beberapa teman dekat yang, saking dekatnya,  selalu menghampiri saya di kosan setiap pagi -bahkan membangunkan saya untuk pergi kuliah. Mereka juga selalu mengingatkan saya untuk belajar bersama. Iya, kami memiliki kelompok belajar yang setiap harinya belajar bersama di minggu-minggu menjelang ujian. Sementara di Stavanger -kota tempat saya belajar-, satu kelas mata kuliah memiliki mahasiswa maksimal 20 orang, bahkan ada kelas yang hanya berisi 8 orang. Saya kesulitan mencari teman belajar, apalagi dengan keterbatasan bahasa, walaupun bahasa pengantar dan sehari-hari yang digunakan adalah bahasa inggris.

As an extroverted person, not having a peer group stressed me out, because I gain energy from interacting with people.

Menuju Ujian Akhir Semester, kondisi menjadi semakin buruk. Kabar buruk dari tanah air seolah menghantam saya secara bertubi-tubi. Kedua orang tua saya bercerai. Uak (Tante dalam bahasa Sunda.red) saya meninggal, beliau adalah kakak pertama dari ibu saya, dan rumahnya terletak di seberang rumah kami. Ibu saya yang bekerja full-time menitipkan kami berempat ke Uak yang merupakan seorang Ibu rumah tangga. Uak sudah seperti sosok ibu kedua bagi kami, dia yang terkadang menyiapkan makanan, mengantar kami imunisasi ke posyandu, atau sekedar sebagai orang tempat kami menitipkan kunci mobil dan rumah. Semua kejadian ini menghinggapi saya dengan perasaan bersalah, saya merasa seharusnya saya bersama adik-adik saya, dan seharusnya saya ada sebagai pendengar bagi sepupu saya.

Ibu saya yang selalu memberikan kabar mengenai sidang perceraian orang tua saya, selalu menitipkan pesan, “Kakak baik-baik ya di sana, jangan sampai kabar ini mengganggu belajar kakak.”

Saya hanya bisa bilang, “Iya, Ma.” atau “Yes, I am okay.”

Truth be told, I was far from okay.

Semakin lama, saya semakin frustasi karena tidak bisa menyalurkan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Pada dasarnya, saya adalah orang yang tertutup mengenai kehidupan pribadi dan keluarga saya. Saya memiliki seorang sahabat dekat di tanah air yang seringkali saya keluh kesahkan mengenai masalah saya saat itu, bertukar kata-kata yang kebanyakan tentang orangtua saya, since she was one of the two people who knew it from the start. Namun suatu ketika, papanya harus dirawat inap di rumah sakit. Saya tahu, saat itu saya merasa bahwa saya sangat membutuhkan kehadiran sahabat saya untuk mencurahkan masalah yang saya hadapi, tetapi saya juga tahu kalau saat itu dia jauh lebih membutuhkan dukungan saya karena Papanya yang jatuh sakit. Walaupun kondisi saya saat itu sedang sedih, saya tetap ingin membuat dia tetap senang.

Kemudian saya mendapat nilai C sebagai nilai akhir saya pada satu mata kuliah -for the first time in my life. Saya langsung merasa gagal, semua cobaan yang datang bertubi-tubi pada saya menggempur diri saya hingga saya merasa kalah. Suasana musim dingin di kala itu hanya membuat keadaan lebih buruk. Saya rasa yang mereka bilang benar, there really is a thing called winter blues or winter depression.  Perasaan sendiri, jauh dari keluarga, pertama kalinya terpisah dari pacar yang selama 6 tahun selalu berada di kota yang sama, daylight yang hanya 6-7 jam setiap harinya, dan keengganan matahari muncul di Eropa Utara sukses membuat musim dingin itu terasa lebih dingin bagi saya. And I guess, that was the lowest point in my life.

Dinda bersama teman-temannya bermain dengan salju saat musim dingin

Rasanya saya malu untuk membicarakan nilai saya ke orang-orang, ke dosen, teman, atau keluarga. Walaupun pada akhirnya saya mengaku juga,

“I got C in Natural Water System.”

Melihat kekecewaan di raut wajah saya, teman saya yang orang Norwegia bertanya, “But why do you seem so upset? C is good.”

“No, it is not.” jawab saya dengan sedikit rasa kesal.

Nilai di Norwegia memang relatif lebih sulit didapat dibandingkan nilai di Universitas saya di Indonesia dulu. Di universitas saya di Norwegia ini, untuk mendapatkan nilai akhir A butuh skor di atas 90; dan B butuh skor di atas 80. Sementara dulu? Saya hanya butuh 70-75 untuk mendapat nilai A. Hal yang sama terulang di saat saya berbincang dengan Profesor saya di sana.

“How’s your score?”

“There is one C.”

“But C is good.”

“No, it is not.”

Beliau tertawa kecil, “I like it the way my Indonesian students are always striving to get an A. Even for you, B is not good enough; but the truth is, C is good here in Norway.”

***

Selang beberapa hari kemudian saya mendapat berita dari sahabat kecil saya yang saya ceritakan sebelumnya. Papanya meninggal dunia. Saya menangis sejadi-jadinya, berharap bisa ada di samping dia, memberikan sandaran dan telinga. Saya juga merasa bersalah, apalah arti cobaan saya dibandingkan dengan dia? Saya jadi sadar bahwa apa yang saya rasakan mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan orang lain, that everyone has their own struggle.

***

Keceriaan Dinda di tengah teman-temannya

Menilik balik di masa itu, now I realize that there is more than just a score. Saya mulai memutar otak bagaimana agar dapat membuat hidup saya di Norwegia lebih menyenangkan, saya sering mengadakan kumpul bersama mahasiswa Indonesia, saya membentuk kelompok belajar bersama teman-teman sekelas, dan saya mencoba untuk ikhlas. Setelah mendapatkan transkrip di semester pertama, saya membaca penjelasan tentang nilai C: “A good performance in most areas. The candidate demonstrates a reasonable degree of judgement and independent thinking in the most important areas.”

Saya tersenyum dan mulai belajar menerima, to make peace with myself, to take it easy, to compromise. Saya ingat dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 286, Allah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Saya juga belajar bahwa happiness is a state of mind, it doesn’t depend on your condition nor situation.

Mengutip kata-kata yang baru saya baca semalam, “I have never met a strong person with an easy past.”

And here I am, stronger than who I’ve ever been.

Penulis: Dinda Fauzani
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *