Yang Mereka Tidak Tahu

Saya tidak tahu banyak tentang pelecehan seksual.

Di dalam bayangan saya itu sesuatu yang jauh, dan tidak pernah ada dalam kehidupan orang di sekitar saya. Namun satu hal yang tidak pernah saya pahami adalah betapa orang dengan mudahnya menepis pengakuan mereka yang sudah mengaku dilecehkan, dan juga bagaimana mereka yang sudah mengaku itu masih saja dipertanyakan kenapa baru sekarang mereka mengemukakan pengalaman mereka, yang terkadang bisa berjarak bertahun-tahun atau berdekade-dekade dari sejak kejadian. Mereka yang mempertanyakan korban pelecehan seksual, mungkin tidak tahu rasanya dunia dan realita benar-salah mereka dibolak-balikkan, bagaimana pelecehan seksual sering kali terkait sebuah relasi antara mereka yang lebih kuat, dengan mereka yang lebih lemah, yang dimanfaatkan.

Saya tidak tahu banyak tentang pelecehan seksual, tapi kali ini, biarlah saya yang membuka pembicaraan ini, dengan pengalaman saya.

***

Bertahun-tahun yang lalu, saat umur saya masih 9 tahun, saya terlanjur mempunyai tubuh yang lebih dewasa daripada umur saya. Dada saya telah tumbuh, dan sedikit demi sedikit bulu-bulu halus pada tubuh pun telah tumbuh. Sekarang jika saya menelisik ulang kehidupan masa lalu saya, saya merasa mungkin itu karena saya memang termasuk anak yang dibesarkan dengan fast food, sehingga mungkin hormon-hormon tambahan yang dimasukkan pada sapi dan ayam yang saya konsumsi benar-benar telah menjadikan saya dewasa sebelum waktunya.

Saya bilang dewasa sebelum waktunya karena saat itu saya benar-benar masih anak yang suka main karet di lapangan sekolah, dan bahkan tidak tahu apa itu bra. Tapi toh dada saya telah tumbuh, dan pada suatu ketika kakak sepupu saya berkomentar bahwa mungkin sudah saatnya saya memakai mini-bra. Dan karena ia lantas membelikan saya mini-bra, maka dengan patuh saya memakai mini-bra itu, demi menopang dada kecil saya yang baru tumbuh.

Selain dari tambahan mini-bra dalam deretan barang sehari-hari yang harus saya pergunakan, kehidupan sehari-hari saya tidak banyak berubah. Saya tetap main bersama teman-teman saya di lapangan sekolah saya, dan tetap bercanda dengan teman-teman di lorong sekolah.

Tapi bersama dengan tumbuhnya dada saya, datang juga suatu kejadian janggal. Salah seorang guru laki-laki saya, yang seumuran dengan orang tua saya pada saat itu, sering mencari saya. Dan saat menemukan saya, ia akan memeluk saya dari belakang. Meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada kecil saya.

Saya dibuat sangat tidak nyaman dengan itu, walau saya tidak tahu kenapa saya tidak nyaman.  Saya hanya tahu bahwa saya tidak suka ia memeluk saya dan menyentuh saya di badan saya bagian itu. Saya juga tidak suka bahwa ia mencari saya untuk melakukannya hampir tiap hari, dengan muka ceria.

***

Ini kali pertama saya menceritakan kisah ini dihadapan umum. Dan sejujurnya baru saat saya berada di masa kuliah, saya berani menceritakan kisah ini pada teman-teman terdekat, dan juga kepada kedua orang tua saya.

Kenapa saya baru menceritakannya? Karena saat saya masih kecil saya tidak paham bahwa apa yang dilakukan oleh guru saya ini adalah pelecehan seksual. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Jika saya memikirkan lagi hal ini, saya menjadi menyesal kenapa saya tidak bilang semenjak dahulu karena mungkin ada anak-anak lain yang terkena dampak dari guru ini, dan mungkin yang terjadi pada mereka lebih buruk. Tapi sungguh untuk saya bisa memahami bahwa saya adalah korban, dan pun untuk saya berani mengakui pada orang lain bahwa itu terjadi, membutuhkan waktu yang cukup lama.

Jika saya saja, yang hanya disentuh dada kecilnya membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk berdamai dengan kejadian itu, maka saya tak bisa membayangkan bagaimana rasa dan terror yang terjadi pada mereka yang mengalami hal yang lebih buruk, dan lebih dalam.

Permintaan saya hanya satu, coba posisikan dirimu sebagai korban, apakah bisa kamu bertindak lebih cepat dan kuat dibanding mereka?

Penulis: Anonim
Editor: Asih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *