Harga Sebuah Profesi

Untuk sebagian orang, memiliki pekerjaan atau profesi yang sekaligus mengakomodasi kegemaran adalah cita-cita.

Untuk sebagian lainnya, hal ini adalah simbol kenyamanan;

bentuk pelarian dari ketidakmampuan untuk survive di dunia korporat yang identik dengan berbagai tuntutan dan disiplin diri.

Untuk saya sendiri, hal ini adalah kemewahan tidak terkira yang saya dapatkan bukan tanpa usaha.

  

Kali pertama berkenalan dengan yoga, saya hanya seorang desainer yang baru lulus dari bangku kuliah. Saya merasa tersiksa dengan keseharian yang menuntut saya berjam-jam harus duduk diam di depan komputer. Maka, saya merasa sangat ‘merdeka’ ketika dapat bebas mengeksplorasi ruang gerak setiap persedian saya di atas matras. Tidak butuh waktu lama untuk saya akhirnya menjadwalkan waktu khusus beryoga setiap minggu.

Kemudian, saya berkenalan juga dengan olah raga lain yang lebih sesuai dengan jiwa muda saya yang berapi-api dan dinamis, yaitu lari. Saya juga tidak butuh waktu lama untuk jatuh hati dengan olah raga yang memacu denyut jantung dan menantang stamina ini.

Lari dan yoga lalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari rutinitas saya sejak saat itu. Begitu nikmatnya kedua aktivitas ini untuk saya, sampai saya akhirnya berkenalan juga dengan berbagai jenis olah raga lain. Entah hanya melalui berbagai artikel dan video di internet, atau saya datangi langsung kelasnya.

Saya yang menghabiskan lebih dari dua puluh tahun hanya menikmati hobi membaca, menulis, dan mencoret-coret kertas, tiba-tiba tidak bisa merasa nyaman jika seharian belum berkeringat. Ada perasaan tertantang dan penasaran ketika saya yang biasanya menghasilkan karya desain dalam beberapa bulan, kini membutuhkan waktu sampai tahunan untuk menaklukkan batasan fisik sendiri. Ketika berkenalan dengan rutinitas olah raga inilah saya baru bisa memahami betapa berharganya sebuah proses. Juga, betapa mahalnya harga setiap perubahan kecil untuk menjadi lebih baik.

 Synta saat lari marathon

Sayangnya, perubahan ini tidak terlihat sebagai sesuatu yang positif di mata beberapa orang yang—sayangnya lagi—cukup dekat dengan saya. Saat itu, bukannya mendapat dukungan atau teman untuk bersama-sama berolah raga, saya malah lebih banyak mendapatkan cibiran— halus maupun frontal. Kalimat-kalimat pendek semacam, ‘mau jadi apa sih lo emangnya?’ sampai ‘berlebihan banget deh lo olah raganya!’ hampir setiap hari menyambangi kedua mata dan telinga. Belum lagi komentar atas kualitas fisik saya, seperti, ‘Lo larinya gimana sih? Kok badan lo masih gitu-gitu aja?’.

Ketika itulah saya berhadapan dengan dua pilihan. Pilihan pertama, saya harus mengikuti ‘standar’ teman-teman tentang olah raga yang ‘cukup’. Pilihan kedua, saya mengikuti suara hati untuk terus menjadi manusia yang lebih baik melalui olah raga. Jika melihat pekerjaan saya saat ini sebagai pengajar dan praktisi yoga, mungkin semua orang akan mengira saya langsung menentukan untuk memilih pilihan yang kedua tanpa ragu. Namun, nyatanya tidak semudah itu.

Saya menghabiskan waktu cukup lama untuk berusaha ‘menjembatani’ kedua pilihan tersebut. Saya tetap berolah raga rutin tapi mengupayakan agar sebisa mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Saat itu, mulai banyak orang yang membagikan aktivitas olah raganya melalui media sosial. Akan tetapi, saya memilih untuk tidak, karena saya langsung membayangkan cibiran dari teman-teman sendiri. Saya selalu menghindari topik olah raga dalam percakapan, meskipun saat itu saya luar biasa tersiksa oleh DOMS (nyeri pada badan setelah intensitas olah raga yang tinggi). Jika ada yang menghubungi saat saya sedang lari, saya hanya akan bilang bahwa saya sedang berada di luar ruangan. Pada masa itu, saya nyaris menganggap konsistensi saya berolah raga sebagai sebuah aib.

Untungnya, di dalam tumpukan rasa malu karena berolah raga ‘di luar batas normal teman-teman saya’, hobi ini banyak membuat saya mempelajari hal baru tentang diri sendiri. Saya yang awalnya tergolong result-oriented perlahan mulai berubah menjadi orang yang menghargai setiap senyum, tangis, maupun tawa dalam sebuah proses. Selain itu, saya juga mendapatkan banyak analogi kehidupan dalam setiap bagian dari training plan lari maupun sequence di kelas yoga.

Saya mulai memiliki keyakinan bahwa olah raga memang salah satu cara paling efektif untuk menambah ‘tabungan’ energi positif di dunia ini. Di balik usaha untuk menutupi aktivitas saya, terselip harapan kecil untuk menularkan pengaruh baik yang saya rasakan dari olah raga kepada orang lain—meskipun hanya satu orang.

Synta saat mengajar yoga

Pada akhirnya, harapan kecil inilah yang menjadi ‘pegangan’ saat saya memberanikan diri untuk beralih profesi menjadi pengajar yoga. Saya tidak menyangka bahwa harapan kecil ternyata bisa bersuara begitu lantang di dalam kepala dan hati. Sampai-sampai, saya dapat mengabaikan seluruh cibiran yang pernah—dan pasti akan tetap—saya terima. Melalui kekuatan harapan kecil itulah, saya memahami bahwa keputusasaan hanya sebuah pilihan yang selalu bisa saya abaikan.

Karena pengalaman ini juga, saya belajar untuk tidak membesar-besarkan perbedaan antara saya dan siapa pun. Saya belajar menghargai cara setiap orang menjalani hidup. Saya belajar untuk menghormati setiap keputusan yang diambil oleh siapa pun dalam hal apa pun. Termasuk, ketika mereka menyatakan ketidaksukaan mereka pada yoga ataupun lari. Saya pun menjadi sangat menghargai niat dan ketekunan mereka yang hadir di dalam kelas yoga saya, karena bisa saja ada dari mereka yang rela ‘dikucilkan’ oleh teman-teman demi dapat beryoga. Dan, yang terpenting, saya belajar untuk tidak mencibir apa-apa yang dilakukan oleh mereka yang memiliki niat baik.

Saya memang beruntung karena kini saya bisa memiliki pekerjaan yang sesuai dengan hobi. Keberuntungan saya tidak berhenti sampai di sana. ‘Keberuntungan’ yang lain adalah adanya kesempatan untuk bertemu kerikil-kerikil hingga akhirnya saya bisa mewujudkan cita-cita ini.

Pada akhirnya, seluruh ‘pelajaran’ itu jauh lebih berharga bagi saya dibandingkan dengan ‘hadiah’ berupa pekerjaan yang sesuai dengan hobi. Lagi-lagi, saya diingatkan akan besarnya makna sebuah proses—bukan hasil. Pada akhirnya lagi, saya hanya bisa berkesimpulan bahwa bekerja sesuai dengan hobi dan bekerja kantoran yang lebih konvensional sebenarnya sama baiknya. Keduanya sama-sama dibutuhkan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Yang tidak pernah kita butuhkan adalah saling merendahkan proses yang sedang dijalani oleh seseorang melalui cibiran.

Namaste :)

Penulis : Dyahsynta Hadiansyah
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *