#iwearmystory

Is it the darkness that prevents me to look at myself in the mirror? Is it me who’s too blind to see? Or … Haven’t I even opened my eyes yet to see?

Sabtu dini hari, sebelum tidur, saya memerhatikan lemari pakaian saya untuk mencari pakaian apa yang sebaiknya dikenakan nanti. Sudah pukul 3:00 dan saya harus tidur dan bangun lagi hanya dalam waktu tiga jam. Hari itu, saya membutuhkan pakaian yang nyaman untuk beraktivitas seharian dan fleksibel, karena kondisi cuaca yang tidak terduga. Saya juga sangat memperhatikan kerapian, karena saya akan pergi ke ‘pesta’— sebuah ajang pertemuan dengan orang-orang dari berbagai koneksi. Tentunya harus nyaman juga, karena setelah itu saya akan latihan teater. Namun, tidak berlebihan karena saya akan menghadiri sebuah diskusi santai.

Pilihan saya pun saya jatuhkan kepada jump-suit hitam—tidak berbahan tebal atau pun tipis—dengan jaket kulit hitam yang siap saya gunakan jika suhu terasa dingin. Namun, saya ingat tulisan teman saya yang kebetulan akan saya temui di tempat yang akan saya datangi. Ia berkata, “Don’t we all need more accent clothes in our lives? Di tengah maraknya paham “minimalis”, yang sungguh nyatanya minimal di bentuk, tapi ga di harga itu, kita butuh sesuatu yang segar. Tidak perlu banyak atau besar. Sedikit namun cukup. Kecil tetapi berarti.”

Saya pun tertawa sendiri. Kemudian, saya tahu sesuatu yang bisa memberikan fresh look agar ia tidak merasa jenuh melihat dandanan aman saya yang serba hitam dan netral. Pilihan saya jatuh kepada sepatu ber-hak yang memiliki corak berwarna-warni.

You may see how bitter my face is, how boring I may wearing plain black or dark colors on my body. But hey, you may look down on me and that’s okay because you can see how I still have beautiful and colorful rainbow on my feet.

Mengapa saya tiba-tiba membicarakan ‘pakaian’ di tulisan ini? Saya sedang membuat wadah untuk berbagi cerita, tapi lewat pakaian yang dikenakan. Saya menyadari bahwa pakaian bukan sekadar sesuatu yang kita kenakan. Pakaian adalah sebuah cerita. Menurut saya, pakaian merupakan salah satu ‘perlindungan’ yang manusia kenakan setiap hari ketika menghadapi dunia. Pakaian bisa jadi tameng, identitas, pesan, topeng, media ekspresi. Atau, memang sekadar penutup tubuh agar secara harfiah tidak telanjang dan fungsional untuk melindungi dari cuaca. Pakaian bisa jadi apa pun tergantung kebutuhan dan keinginan.  Lewat pakaian itulah saya dapat bercerita dan bertemu orang banyak, memiliki kesempatan untuk mendengarkan dan menceritakan kembali kisah mereka yang begitu berharga dan menarik.

Saya sendiri merupakan shoes person, selain karena alasan perlindungan, dan kesehatan, sepatu dikenakan di kaki yang merupakan fondasi dari tubuh. Seperti merancang bangunan; jika fondasi tidak kokoh, percuma merancang ruang dengan penuh perhitungan ataupun dengan dekorasi cantik. Pada akhirnya, ruang tersebut dapat runtuh juga dalam kurun waktu tertentu bahkan membahayakan keselamatan.

I tend to look down every time I get sad, and shoes are the ones I see. Wearing beautiful shoes I love can always put a smile on me even on my darkest, cloudy day.

Saya selalu merasa lebih percaya diri ketika saya mengenakan hak tinggi. Selain pertimbangan estetika, saya merasa lebih tinggi dan gaya jalan saya akan berbeda ketika mengenakan sepatu tinggi dibanding menggunakan sepatu flat. Ini pun salah satu cara saya mensyukuri diri sebagai perempuan: mumpung jadi perempuan bisa pakai heels dan rok, kenapa tidak?

Ketika orang-orang melihat sepatu saya, muncul banyak komentar. Mulai dari yang bilang saya lebay seperti mau ke pesta hingga cewek menye-menye manja yang cuma bisa naik mobil ke mana-mana dan tidak bisa jalan jauh. Saya pun kesal. Sudah beberapa kali saya di-bully karena penampilan; bukan hanya gaya pakaian dan sepatu-sepatu mencolok saya, tapi karena perawakan yang terkesan angkuh dan judes.

Sampai saya di titik berpikir bahwa kenapa harus kesal. Toh, penampilan visual memang merupakan pesan pertama yang manusia sampaikan kepada dunia. Wajar saja berkomentar. Sebab, mungkin mereka tidak tahu; memang tidak peduli, tidak sempat untuk bertanya, ataupun punya kesempatan untuk lebih lanjut mengobrol dengan saya.

Saya merasa kita harus setidaknya tetap bertindak smart terlepas memang kita memang pintar atau tidak. Dalam berpakaian, saya belajar dan melatih banyak hal yang dapat dianalogikan dan diaplikasikan kepada kehidupan sehari-hari. Salah satu tindakan smart dipikiran saya (saat ini) adalah memiliki pertimbangan yang dapat dipertanggung jawabkan dalam segala tindakan yang dilakukan. Saya dapat belajar hal tersebut dari mempertimbangkan berpakaian. Contoh saja ketika akan membeli sepatu heels, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.

Ketinggian serta diameter heels, ketebalan sol, lekuk, dan lebar sepatu. Bukan hanya desain warna yang lucu maupun bagus saja, tapi juga dari segi material dan kenyamanan. Belum lagi dari pertimbangan harga. Dan, apakah hanya mengikuti trend sesaat, atau memang mau digunakan selama mungkin. Maka, jika orang memandang remeh maupun menertawakan saya karena mengenakan sepatu heels, saya pun tidak akan merasa tersinggung.

Saya akan tersenyum dalam hati sambil membatin, “Saya tahu apa yang saya butuhkan, saya tahu apa yang saya mau, saya tahu apa yang saya mampu, saya tahu apa yang saya lakukan, saya mengetahui siapa saya.”

Ketika saya telah mengetahui hal tersebut, cemooh/komentar pedas  dari orang atau lingkungan lain tidak akan sebegitu berpengaruhnya untuk saya. Dari situ juga saya menyadari bahwa untuk membantu orang lain, saya butuh membantu diri saya sendiri terlebih dahulu. Setidaknya jika saya lebih merasa nyaman dengan diri sendiri, dapat membantu saya lebih terhindar dari mem-bully, mengomentari, atau menyalahkan orang lain atas sakit atau ketidaknyamanan yang saya rasakan.

Ya, kebetulan saya memang suka pakaian, mengenakan yang saya suka membuat saya nyaman, lebih percaya diri, dan dapat membuat saya belajar banyak hal. Lucunya, pakaian dan penampilan saya merupakan salah satu alasan yang sering membuat saya ter-bully. Karena itu, untuk menghadapi rasa takut, saya pun mencoba mengenakan rasa takut tersebut. Perlahan-lahan, saya mengubah ketakutan tersebut menjadi sebuah kekuatan dan pegangan untuk bertahan. Pasti banyak cara lain, apa pun yang membuat nyaman, yang terbaik, yang dapat membantu dalam menjalani hari… Kamu yang tahu dirimu sendiri.

Then I start to open my eyes and look in the mirror. I see myself.

Fiola merupakan founder sebuah blog yang mengeksplorasi cerita di balik pakaian yang digunakan seseorang.

Baca blog-nya di link ini, dan ikuti halaman #iwearmystory di instagram dengan nama @iwearmymood.

Penulis: Fiola
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *