Titik Balik

Setiap orang akan melalui setidaknya satu titik balik di dalam hidupnya.
Kemudian, kita hanya akan tertegun.
Pada titik itu, dunia kita diputarbalikkan, dan kita akhirnya menyadari harus mengambil keputusan.
Pertanyaan-pertanyaan penuh kontemplasi akan membombardir benak kita.
Sebagai dampaknya, sering kali pola pikir dan sifat kita pun berubah demi arah yang lebih baik.

Beberapa tahun yang lalu, pernah ada celotehan dari segelintir orang saat saya kuliah S1 bahwa saya perempuan yang ambisius; dengan konotasi versi negatif. Saat itu, saya memang lebih cepat menemukan passion dan apa yang saya inginkan. Saya sedang berada pada masa di mana saya meraih mimpi saya dengan penuh semangat. Sampai pada suatu titik tanggapan orang-orang itu membuat saya termenung. Apakah ambisi saya memang terlihat senegatif itu di mata mereka? Seiring dengan proses perkembangan diri saya, saya pun tidak ingin merugikan orang lain. Padahal, selama ini saya yakin justru ambisi (positif) telah membawa banyak perubahan dan kemajuan di berbagai bidang di dunia ini. Ambisi membutuhkan kerja keras, ketulusan, kreativitas, dan persistensi. Lalu, saya bertanya kepada diri sendiri: is being ambitious automatically a bad thing?

Saat itu, saya teringat ke masa yang lebih jauh lagi. Masa di mana saya menemukan titik balik yang pada kemudian hari mengobarkan api semangat saya. Titik balik itu membuat saya menjadi seorang “Zeva” yang lebih baik ketika saya menginjak dunia kuliah.

Titik balik ini terjadi pada masa SMA. Saya duduk termenung memegang secarik kertas di lantai 2 gedung utama SMA saya di Bandung. Lingkungan sekolah saya saat itu sangat kondusif. Saya dikelilingi tidak hanya oleh guru-guru, tapi juga teman-teman pintar yang menginspirasi saya. I learnt a lot and got to know amazing friends. Namun, di lain sisi, pada saat itu sudah hampir 2,5 tahun saya sedikit tertekan. Sebenarnya, saya tidak menemukan kebahagiaan di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang saya pilih mulai di kelas 2. Ya, saya sangat menyukai ilmu Biologi, tapi itu saja. Sejak kelas 2 SMA saya sudah les di 2 tempat berbeda agar lancar saat menghadapi Ujian Nasional dan ujian masuk universitas negeri. Namun, setelah otak dijejali hafalan rumus dan ulikan abstrak, pada akhir hari yang ada saya pun merasa hampa.

Sambil memandang secarik kertas yang dipenuhi soal Fisika dan sudah dicoret-coreti pulpen merah itu, dengan mata yang agak sembab, saya bertanya pada diri sendiri…  “Sebenarnya apa yang kamu cari sih, Zev? Apa yang ingin kamu capai setelah SMA? Kamu cuma mampu segini saja? You can achieve better than this! What do you really want in life? Jangan malu-maluin ayah-ibu.”

Walaupun no regrets, tapi alasan mengapa saya memilih jurusan IPA bukan hanya karena cita-cita masa kecil yang ingin menjadi dokter anak. Secara tidak langsung, sebenarnya juga karena peer dan social pressure secara SMA tempat saya bersekolah terkenal akan tradisi para lulusan jurusan IPA-nya yang sukses menjadi mahasiswa di universitas-universitas tersohor. Maka, tidak aneh dari 10 kelas, hanya 1 kelas yang merupakan kelas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di angkatan saya. Sudah terpatri dengan kental jika masuk IPA akan lebih baik dan lebih cerah masa depan. Lingkungan SMA saya pun selalu mempersiapkan murid-muridnya ke jalur IPA. Padahal, saya tahu ini tentunya keliru, karena apa pun bidang yang kita geluti memiliki manfaat dan tantangan masing-masing. Semua ilmu memiliki manfaatnya masing-masing.

Apakah jurusan IPA ini yang benar-benar cocok dengan saya dan apa ini yang sesungguhnya saya mau? Ya, sejak kecil saya ingin menjadi dokter anak tapi apa saya cocok untuk menjadi dokter? Apakah itu memang betul keinginan saya sendiri?

Lalu, tiba-tiba saat itu saya teringat kembali dengan semangatnya saya saat mewakili sekolah dan mengikuti kompetisi-kompetisi pidato hingga debat Bahasa Inggris sejak SMP. Bagaimana saya sangat semangat melakukan riset berbagai kasus-kasus sosial, politik, ekonomi dan hukum, dan menganalisis berbagai motion dari dua belah sisi koin yang berbeda. I always felt alive doing it. Di titik itu, hati dan pikiran saya terasa bening. Saya ingin berbakti ke masyarakat melalui bidang sosial. Mata saya akhirnya lebih terbuka ke arah mana saya harus melangkah selepas lulus dari SMA. Saya akhirnya memutuskan kuliah di Jurusan Hubungan Internasional.

Saat mulai kuliah, saya sudah berjanji pada diri sendiri akan mengerahkan yang terbaik dan tidak akan membuang berbagai kesempatan akademi. Apalagi, orang tua saya sudah banting-tulang membiayai saya untuk kuliah. Saya berjanji akan belajar dengan giat, bersosialiasi dengan produktif, dan berusaha mencari kesempatan untuk mengembangkan diri melalui organisasi-organisasi dalam dan luar kampus. Dalam perjalanannya, saya pun berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa hebat. Tidak hanya di kampus saya, tapi juga di kampus lain. Lagi-lagi, saya merasa terinspirasi dan terpacu. Dengan kerja keras, saya sempat mewakili universitas secara nasional dan internasional, mendapatkan fellowship masing-masing sebulan di Jakarta dan Amerika, lulus dengan predikat cum laude dan juga menjadi salah satu lulusan terbaik se-FISIP di batch wisuda saya.

Semua itu tak bisa saya raih tanpa perjuangan keras, dan hal itu pun tidak akan terjadi jika saya ‘kehilangan arah’ saat SMA. After losing myself, I found myself because I managed to identify the things I’m passionate about and I gave myself room to grow. Saya belajar banyak dari masa lalu dan saya selalu berusaha memetik segala masukan dari orang-orang di sekeliling saya. Pandangan hidup dan kepribadian saya mengalami banyak pembelajaran seiring dengan waktu. Cobaan-cobaan ini menjemput momen-momen titik balik dan mendorong lahirnya berbagai keputusan yang membentuk jalan hidup saya.

Mungkin, apa yang sebagian orang lihat dari diri saya sebagai ‘ambisius’ sebenarnya adalah kurangnya pemahaman tentang tujuan. Saya memang orang yang cenderung nyaman dalam berusaha membuat dan meraih tujuan. Dan, tentunya untuk meraih tujuan itu adalah melalui usaha keras dan kesiapan mental juga hati dengan segala naik-turunnya proses. Sementara, usaha keras kita sering kali tidak terlihat di depan orang banyak, sehingga yang di lihat hanyalah ‘hasil’. Pada akhirnya, saya yakin hidup bukan untuk berusaha “mengalahkan” orang lain, apalagi menuju “puncak” seorang diri. Banyak juga manusia yang susah dipuaskan dan saling membanding-bandingkan, tapi ini dapat menjadi bumerang. Kehebatan tidak hanya ditemukan secara kasat mata seperti kemegahan prestasi, tapi juga hal-hal yang hanya dapat dirasakan seperti kesederhanaan, kejujuran dan kesabaran seseorang. The simplest things in life can put a smile on my face and a spark on my mind.

Kini, saya sudah beberapa tahun menjadi bagian dari angkatan kerja. Apa semua tanpa cobaan? Tentunya tidak. Saya tidak luput dari keputusan yang kurang tepat. Masih ada masa di mana saya merasa bingung, bahkan tertekan. But I embrace all of this because I know it’s a part of my self development and that I run my own race. Oleh karena itu, saya tetap butuh banyak berkembang dan belajar. Apa pun cobaannya, saya selalu bertekad untuk kembali bangkit. Saya selalu teringat tiap orang di luar sana sedang melalui berbagai rintangan mereka sendiri. Dan, saya pun percaya bahwa mereka juga mengalami titik balik- masing-masing.

Jadi, mari merangkul diri kita. Jika kita merasakan akan datangnya suatu titik balik, berdiamlah sejenak dan renungkanlah seutuhnya. Lalu buatlah keputusan itu. Jika keputusan tersebut membuat kita harus mengeluarkan lebih banyak tenaga dan waktu, tak apa. Jika pintu yang kamu buka mengantarmu kepada cobaan yang lain, arungi saja. Ingatlah, kita tidak sendiri.

Because, we all have our own battles to fight and things to discover.

Penulis: Zeva Aulia Sudana
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *