Hidup dengan HIV

Beberapa orang berdoa ingin diberi harta yang berlimpah,

yang lain berdoa ingin segera dipertemukan dengan jodohnya,

sementara saya selalu berdoa agar setiap hari senantiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan.

***

Delapan tahun yang lalu merupakan awal dari perjalanan hidup baru saya, saat itu dokter mendiagnosa kami terinfeksi HIV. Ya, saya dan suami. Umur pernikahan kami saat itu masih seumur jagung, tiga tahun. Belum lama bukan? Namun cobaan demi cobaan datang silih berganti mewarnai rumah tangga kami. Dahulu, jauh sebelum kami menikah saya sudah mengetahui bahwa suami saya adalah pengguna narkoba jenis putaw. But I didn’t hell know anything about the risk of being drug user, or being their spouse. Slenge’an, tato di beberapa bagian tubuh, sering pulang malam, biasanya kebanyakan orangtua akan anti melihat sang anak berpacaran dengan orang-orang semacam itu. Tapi saya malah gak peduli, saya selalu melihat sisi baik dari orang lain.

Sejak dinyatakan terinfeksi HIV, hidup saya tidak pernah baik – baik saja. Setiap membuka mata, saya langsung bertanya-tanya bagaimana kondisi suami saya. Apakah dia sudah siuman? Apakah dia akan membaik? Nyatanya tidak, setelah dinyatakan terinfeksi HIV, dia langsung mandapatkan perawatan intensif di High Care Unit, dan tak lama kemudian sayangnya sang kekasih hati meninggal dunia. Tubuhnya tak lagi sanggup menopang akumulasi penyakit yang ada karena kekebalan tubuhnya telah melemah akibat virus HIV. He died. Kepergiannya membawa semua semangat yang ada di dalam hidup saya, namun kepergiannya juga meninggalkan virus HIV.

***

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, sangat tabu di keluarga kami untuk membicarakan masalah seksualitas. Saya tidak mengenal kata Vagina, padahal ia adalah bagian dari tubuh ini. Mata saya juga harus terpejam, saat ada adegan berciuman di film yang saya tonton. Saya tidak mengenal diri saya, saya hanya patuh dan tunduk pada semua aturan yang telah dibangun oleh kedua orang tua. Bisa bisa kualat nanti kalau saya gak mengikuti nasihat keduanya. Ditambah lagi teknologi saat itu tidak berkembang pesat seperti saat ini, tertutuplah sudah ruang – ruang informasi bagi saya.

Jika saya mengetahui sejak awal mengenai resiko yang ada, mungkin saya akan melakukan pemeriksaan HIV bersama suami sejak awal. Saya bisa melindunginya, juga melindungi agar saya tidak tertular. Namun kata jika sangat terlambat bila saya gunakan hari ini. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah memperbaiki hal yang terlewat di masa lalu, saya harus mencari sebanyak – banyakanya informasi.

Delapan tahun sudah HIV berhasil mengubah cara saya memandang hidup. Terapi Antri Retroviral menjadi sahabat yang mendampingi saya setiap 12 jam. Obat ini yang dapat menekan jumlah pertumbuhan virus HIV dalam darah. Obat yang kemudian saya wajib konsumsi seumur hidup, agar si virus tidak menganggu jalannya metabolisma dalam tubuh.

HIV juga yang pada akhirnya mempertemukan saya dengan akses informasi. Bertemu dengan banyak dokter, aktifis perempuan, informasi mengenai kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi. A priceless thing that I should have gotten eight years ago. Dari sana saya mengetahui bahwa ada kesehatan seksual dan reproduksi yang wajib saya pelihara.

Jika membaca blog saya mungkin orang-orang berfikir saya adalah pribadi yang tegar dan mampu menghadapi segala aral rintang dalam hidup. Sayangnya, yang orang lihat dengan kenyataan bisa bertolak belakang. Hidup dengan virus HIV tidak pernah mudah, ada saja setiap hari persoalan yang muncul karenanya. Masalah stigma dan diskriminasi, masalah kepatuhan minum obat, masalah rasa sedih yang seperti mantan pacar yang masih cinta pun masih suka datang menganggu.

Tapi saya selalu diingatkan bahwa ada orang-orang disekitar saya yang delapan tahun kebelakang tidak menyerah pada saya. Orangtua saya, suami saya yang sekarang, anak semata wayang serta teman – teman saya. Mereka selalu mengingatkan saya, bahwa saya gak akan pernah sendirian, saya akan selalu memiliki mereka saat saya dalam kondisi terburuk. Hal itu yang kemudian membuat saya merasa harus melakukan hal yang sama kepada lebih banyak orang, khususnya teman – teman yang juga terinfeksi virus HIV. Menjadi tempat curhat dan pendengar yang baik kemudian memberi arti baru bagi hidup saya. Yakni meskipun saya terinfeksi HIV, hal itu tidak pernah menghalangi saya untuk melakukan hal baik, untuk berkarya dan membahagiakan diri.

Catatan tentang penulis:

Ayu Oktarini adalah salah satu pembicara di acara yang diadakan ceritaperempuan.id X drupadi_id kolaborasi dengan lo.ka.si berjudul,”Know Yourse(x)lf” pada tanggal 16 Desember 2017 mendatang. Mbak Ayu yang mendatangi tim ceritaperempuan.id untuk mengajak berkolaborasi tentang pentingnya edukasi tentang hak terkait sex untuk mengurangi kerentanan semua orang dari resiko ketidaktahuan mereka. Mendengarkan cerita dari Mbak Ayu meyakinkan ceritaperempuan.id bahwa topik sex ini harus ditangani. Liat poster berikut untuk informasi lanjut dan isi form di bit.ly/KnowYoursexlf

Penulis: Ayu Oktariani

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *