Ia Mati Lalu Hidup Kembali

Hidup dengan ketidaknyamanan selama 10 tahun bukanlah hal yang mudah.

Saya adalah satu dari sekian banyak korban pelecehan seksual. Umur saya saat itu menginjak 10 tahun, dan lucunya, terjadi di lantai rumah saya sendiri, oleh kerabat keluarga saya sendiri. Selama 10 tahun, semuanya berputar di kepala saya seperti kaset rusak. Yang saya ingat dari masa kecil hanya ditinggalkan sahabat saya pindah. Ditinggalkan teman-teman saya karena saya miskin, lalu dilecehkan. Saya ingat terbangun dan menangis di kasur karena mendengar suara langkah orang yang sedang mengendap-ngendap naik tangga pada malam hari. Ingat mengendap-ngendap turun ke dapur—sebisa mungkin tidak terdengar. Ingat betapa takutnya saya pergi mandi, pergi tidur, bangun tidur. Saya seperti diikuti penjahat yang bisa kapan saja menikam punggung saya.

Semua kenangan masa kecil saya seperti terbungkus rapi dalam duri-duri yang semakin hari semakin membuat saya berdarah. Selulus SD, selama 6 tahun, sedari SMP hingga SMA, saya menghabiskan waktu sebisa mungkin untuk berbahagia. Meskipun hanya sesekali saya teringat, tapi semua berjalan dengan baik, hingga saya menginjak Jakarta pada tahun 2014. Di sanalah perasaan terisolasi yang sesungguhnya saya rasakan. Jakarta yang ramai. Saya yang sendirian.

Saya bekerja di Jakarta selepas lulus SMA selama kurang lebih 4 bulan. Pekerjaannya tidak sulit. Hanya lingkungannya agak edan (ada salah satu pegawai yang menggesek-gesek kemaluannya ke dengkul saya ketika saya bekerja; menurut cerita juga, dia pernah memperlihatkan kemaluannya di depan orang-orang). Saya ketakutan setengah mati, tapi jawaban teman kantor hanya, “Sudah biasa. Dia memang gitu.”

Rasanya saya ingin lompat dari lantai atas gedung kantor.

Saya mulai merokok. Saya makan banyak sekali. Saya tidur larut sekali. Tidak banyak bicara atau cerita. Saya menjadi pribadi yang sangat berbeda, yang dirasakan juga oleh pacar saya di Bandung. Saat itu, satu-satunya orang yang saya percaya hanya pacar (sekarang mantan) saya, dan sahabat baik saya, Tina Septiani. Namun, sekembalinya saya bekerja setelah kontrak selesai, pacar saya meninggalkan saya untuk perempuan lain. Sahabat saya sedang agak sibuk dengan kampus, meskipun masih menyempatkan bertemu sekali dalam seminggu.

Inilah titik kehancuran saya. Saya mulai bertanya-tanya; mengapa Tuhan sebegini jengkelnya terhadap saya? Menjatuhkan saya melalui kesulitan terus menerus, bertubi-tubi, dan selama bertahun-tahun. Kondisi ekonomi yang tak pernah membaik; kondisi psikis saya yang semakin sini semakin tidak karu-karuan; orang terdekat yang mengkhianati; perasaan ditinggalkan; gagal; kecewa; jijik—berat badan saya bertambah 10 kilogram. Sampai-sampai, saya harus menutup semua cermin karena perasaan jijik melihat diri saya sendiri. Saat itu, saya tidak punya tempat untuk pulang.

Berkehidupan selama 21 tahun ini terasa seperti medan perang. Namun, saya bukanlah pejuang perang. Saya layaknya kucing dengan sembilan nyawa. Mati, lalu hidup kembali.

Entah berapa sering keinginan bunuh diri yang saya pikirkan; keinginan untuk kabur dan mengisolasi diri; keinginan untuk menyudahi semuanya. Bagaimana saya selamat? Saya tidak mengerti. Semua pengalaman itu terasa baru saja kemarin terjadi. Saya tidak pernah benar-benar berdamai dengan masa lalu, hingga detik saya menulis cerita ini. Menggali kembali cerita ini bukanlah hal yang menyenangkan.

Namun, saya tahu: saya harus berani. Saya harus mengingatkan dunia bahwa hal ini terjadi dan nyata, ada, benar. Bukan karang-karangan; bukan bualan orang tua agar anaknya tidak pulang malam. Pelecehan seksual senyatanya tidak hanya terjadi di tempat tergelap kota; bahkan di tempat terdekat sekali pun, pelecehan seksual terjadi.

Sekarang, saya masih dalam proses berbaur dengan berbagai lingkungan. Sejak tahun 2015, saya memutuskan untuk melepas belenggu yang menjerat kedua kaki saya: masa lalu. Memaafkan orang-orang yang menyakiti, meninggalkan, dan mengkhianati. Memulai hidup baru dengan orang-orang baru, lingkungan baru, organisasi yang baru, dengan—ekhm—pacar baru, dan pemikiran-pemikiran baru. Sulit, sangat sulit, kondisi psikis saya pun hingga saat ini belum stabil. Pernah mencoba ke psikolog, tapi terkendala biaya. Jadi, saya putuskan untuk berhenti. Akhirnya, siapa lagi yang mau mengobati diri saya kalau bukan diri saya sendiri?

Maka lewat tulisan ini, saya berdamai dengan diri saya.

Lewat tulisan ini, saya meraih jemari teman-teman saya untuk tetap tegar dan yakin bahwa pada akhirnya, Tuhan tahu saat yang tepat untuk memberikan kebahagiaan.

Lewat tulisan ini, saya mengingatkan untuk saling menjaga, saling menyayangi, saling mendengar, saling bercerita.

Kita tidak pernah hidup sendirian. Akan selalu ada sepasang telinga yang mendengarkan.

Untuk ceritaperempuan.id, terima kasih.
Untuk Tina Septiani, maaf untuk cerita yang terlambat. Aku gak mau kamu kasihan.

Penulis: NS
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *