Kepada Mereka yang Memperkosa

Ilustrasi dari pinterest

Setelah dua tahun, aku baru sadar bahwa aku telah diperkosa.

Pada pagi hari setelah kejadian, dengan stocking tipis yang sudah compang-camping, dan gaun brokat hitam manis yang juga sobek di bagian paha, aku masuk ke kamar di asrama kampus, mencopot semua pakaianku, dan langsung merebahkan diri di kasur. Lelah sekali rasanya pagi itu.

Saat itu aku sedang sekolah di luar negeri, dan seperti mahasiswa pada umumnya, setiap akhir pekan aku luangkan waktu untuk istirahat dan berekreasi. Aku tinggal di asrama untuk mahasiswa internasional. Teman sekamarku, yang saat itu juga merupakan seorang sahabat, berasal dari Rusia. Karenanya, aku sering bergaul dengan komunitas mahasiswa internasional dari Rusia.

Teman-teman Rusiaku ini suka menghabiskan waktu berpesta dan minum alkohol; mabuk dan bercanda bersama teman-teman—suatu kebiasaan yang baru untukku. Aku pun ikut terbawa suka minum seperti orang Rusia, tanpa menyadari bahwa toleransiku terhadap alkohol sedikit berbeda dengan mereka yang terbiasa.

Pada malam kejadian, mereka mengajakku ke salah satu pesta perpisahan pasangan muda dari Rusia yang telah menyelesaikan studi dan akan kembali ke negaranya. Pestanya diadakan di rumahnya, yang terletak jauh dari asrama, perlu 45 menit hingga Uber kami sampai ke sana. Terletak di daerah suburban Amerika, tiap rumah berjarak jauh satu sama lain, dan sepi sekali. Cocok untuk mengadakan pesta yang ribut.

Malam itu aku berkenalan dengan banyak mahasiswa-mahasiswi internasional lainnya, diantaranya dari Indonesia, dan juga warga Amerika. Setelah minum bir dan alkohol dengan jumlah yang sangat banyak dan serba dicampur, kondisiku sudah tidak sadar walaupun masih berjalan, berdansa, mengobrol, dan terlihat aktif. Aku salah perhitungan, mengira bisa mengkonsumsi sebanyak itu. Setelah momen ini, aku lupa apa saja yang terjadi, dan hanya ingat kilasan-kilasan buram.

Aku ingat berada di toilet sendirian, mual, terduduk di lantai dengan kepala tersender ke dudukan toilet, memuntahkan semua yang diminum. Entah berapa lama aku di sana, beberapa orang sempat mengetuk pintu bertanya apakah aku baik-baik saja. Mungkin aku lama sekali di sana. Banyak yang menggebrak-gebrak pintu menyuruhku keluar, karena banyak yang menunggu di luar. Tapi aku malah duduk tertidur.

Aku teringat lagi ketika akhirnya keluar toilet, tapi rumah sudah kosong, handphone-ku di saku jaket, tapi jaketnya entah di mana. Sofa di ruang tamu, sudah dibuka menjadi kasur futon kecil, dan ada dua orang tertidur di sana. Pusing dan lemas, aku hanya ingin berbaring dan memikirkan bagaimana caranya pulang pagi hari nanti. Aku bisa pinjam telepon yang punya rumah untuk pesan Uber, pikirku. Badanku kusisipkan di pinggir sofa futon itu dan aku pun tertidur lagi.

Lalu, pada suatu waktu pada malam yang panjang itu, masuklah seseorang yang hanya kuingat siluetnya saja. Tersinari remang-remang cahaya lampu dari kamar sebelah, berjalan masuk ke dalam ruangan sambil berbicara kepada seseorang lain yang mengikuti di belakangnya. Bahasanya terdengar seperti bahasa dari negara Timur Tengah; seperti bahasa Arab.

Aku tidur menyamping, menghadap orang yang tidur juga di sebelahku. Kasur futon itu sempit, tapi orang yang tadi masuk ruangan tiba-tiba memaksakan badannya untuk tidur di sebelahku—di belakang menghadap punggungku. Dia angkat rok gaunku dan, karena tidak bisa memerosoti stocking-ku, dia sobek juga di bagian paha belakang. Dia gesek-gesekkan alat kelaminnya di sana. Aku merasa takut dan masih sedikit mabuk dan lemas hingga tidak bisa berteriak. Aku kumpulkan seluruh tenaga untuk menendang dia ke belakang dengan kaki.

Kudengar dia terjatuh ke lantai, tapi lalu dia bangun dan kembali lagi. Kali ini, dengan dorongan badan yang lebih memaksa. Dia masukkan alat kelaminnya ke dalamku melalui celah di paha. Kutendang lagi agar dia jatuh dan menjauh, tapi dia tetap kembali dan melakukan hal yang sama, hingga betis dan pahaku pegal dan aku berpikir untuk menyerah saja. Situasi yang terulang-ulang ini terasa begitu lama bagiku—yang ingin pagi untuk cepat datang.

Peristiwa selanjutnya yang aku bisa ingat adalah dua laki-laki yang membangunkanku dan berkata dalam bahasa Indonesia, “Bunga, ayo diantar pulang saja sekarang.” Mereka menggotongku ke dalam taksi dan aku berbaring sepanjang perjalanan. Aku sudah tidak peduli lagi jika dua laki-laki ini akan berbuat macam-macam—yang terjadi sudah terlanjur terjadi.

Cahaya matahari mulai masuk melalui kaca mobil menyinari badanku yang terbaring. Terasa hangat dan nyaman pada musim dingin ini. Aku bertanya pelan, “Jam berapa ini?

Laki-laki itu memperlihatkan layar handphone-nya yang menunjukan jam 7 pagi.

Aku dibawa mereka ke apartemennya dan mereka meninggalkan aku tidur di kamar sendirian. Sekitar jam 10 pagi aku bangun, berterimakasih sudah membolehkanku tidur, dan pamit. Satu dari mereka, sepertinya tahu apa yang sudah terjadi, memaksa untuk mengantarku jalan pulang ke asrama.

Selama perjalanan, kami diam.

Peristiwa itu sesuatu yang jarang aku ingat-ingat. Hari itu berlanjut seperti hari biasanya. Handphone dan jaketku ternyata dibawa oleh teman Rusiaku karena mereka pikir aku akan lalai atau kecurian. Lalu dia menjahit kembali bolong di gaunku. Aku tidak pernah menceritakan kepada orang lain karena dengan begitu kupikir aku akan lupa sendirinya. Aku sering menyalahkan diri sendiri; karena tidak bisa menjaga diri, karena aku terlalu mabuk, karena gaunku terlalu pendek, atau karena tidak punya keberanian untuk teriak “tidak”. Aku tidak tahu siapa orang itu, seperti apa wajahnya, siapa namanya. Tidak ada yang bisa jadi objek kemarahanku.

Setelah dua tahun mengasah ilmu di jurusan antropologi dan belajar banyak tentang isu gender, isu perempuan, dan isu kekerasan, barulah aku mengerti konsep rape atau pemerkosaan: yaitu hubungan seks yang tidak konsensual, tanpa consent atau persetujuan satu pihak.

Selalu tanya apakah pasangan ingin melakukan hubungan seks.

Dan, hanya jawaban “YA” yang antusias yang bisa dianggap sebagai persetujuan atau consent. Selain itu, bukanlah bentuk persetujuan. Baik itu sebuah senyuman, atau raut muka malu-malu. Baik itu sebuah “mungkin” atau ekspresi wajah ragu. Baik itu sebuah vagina basah atau erangan sensual.

Ketika kami bilang “TIDAK”, artinya “TIDAK” – tak pernah selain dari itu.

p.s.

Ini kali pertama aku sharing secara publik tentang cerita ini. Aku masih berusaha untuk bercerita kepada orang-orang terdekatku karena aku percaya sharing is healing. Walaupun secara teori aku sudah tahu sekali bahwa pemerkosaan ini bukan salahku, tidak pernah dalam sejarah dan tidak akan pernah sampai kapan pun suatu kejadian pemerkosaan adalah salah korban. Namun, masih ada saat-saat internalisasi di mana aku masih suka menyalahkan diriku sendiri atas kejadian ini. Bagi penyintas-penyintas di luar sana yang masih sulit untuk menerima dirinya, one day you will and you will know there is nothing wrong with you.

#EndRapeCulture #NOmeansNO

Penulis : Bunga Astiti
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *