Seks: Aku, Tubuhku dan Lingkunganku

Suatu hari, aku mendapatkan Whatsapp text dari ceritaperempuan.id, “Novi, bersediakah membuat tulisan yang bertema seks untuk blog ceritaperempuan.id? Ceritanya bisa apa saja, mungkin yang terkait dengan pengalaman sendiri dan pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman tersebut. Tetapi, itu juga kalau Novi merasa nyaman untuk mengangkatnya….

Oops…temanya gemas. Di dalam kepalaku langsung berkeliaran ide-ide yang bila dibicarakan bisa saja membuat banyak orang menjadi cemas, lidah mendadak lemas, dan jari kebas. Seks, sepotong kata yang ternyata hingga sekarang masih membuat banyak dari kita tidak nyaman membicarakannya secara terbuka. Bahkan, di generasi yang lebih muda sekali pun. Mengapa?

Pertanyaan ini jugalah yang kutanyakan kepada diri sendiri. Nyamankah aku membicarakan seks dalam forum-forum terbuka yang audiensinya heterogen? Maupun melalui tulisan yang bukan anonimous? Bukankah bila menilik latar belakang sosial dan pendidikan, perempuan sepertiku seharusnya memiliki pikiran yang lebih terbuka? Mampu membebaskan diri dari belenggu ide ‘seks sebagai hal yang tabu’? Mengabaikan saja penghakiman dari lingkungan sosial sekitar—bila ada—ketika aku membicarakan seks dan cara pandangku mengenai seks secara terbuka?

Maka, tulisan ini pun menjadi sangat personal. Sebagai bagian dari menguji diri sendiri, juga membersihkan sisa-sisa pikiran yang mungkin masih mengendap entah di ujung synaps sebelah mana; yang berkarat hidup segan mati tak mau.

***

Aku adalah seorang perempuan lajang dengan dua anak dari perkawinanku sebelum akhirnya aku memilih bercerai. Aku terlahir berbeda; dengan darah campuran ras seberang yang membuat kulit lebih terang dan rambut pirang. Sepanjang masa kecil, dua hari sekali nenek mencekoki rambutku dengan urang-aring yang digiling sendiri. Agar rambutku bisa hitam, katanya. Upaya yang luar biasa itu cukup berhasil, semakin besar rambutku semakin gelap meski tidak bisa menjadi hitam. Namun, kulit tak bisa dicekoki urang-aring. Meski hobi main matahari, tetapi kulitku tak pernah berubah warna.

Intinya, sejak kecil aku diupayakan untuk mirip dengan anak-anak lain di sekitarku. Karena, tampaknya menjadi berbeda itu berbahaya—dan sepertinya itu benar. Urusan rambut dan kulit yang berbeda menjadi salah satu ujung pangkal pelecehan dan kekerasan ketika aku semakin besar dan memasuki usia sekolah. Pelecehan dan kekerasan tersebut juga mengambil bentuk-bentuk yang mengarah ke pelecehan seksual. Saat itu, para pelakunya kerap kali adalah anak-anak sebayaku—baik laki-laki maupun perempuan.

Pelecehan dan kekerasan adalah bagian yang akrab dalam kehidupanku. Mungkin dimulai sejak aku dilahirkan; sebagai anak dan sebagai anak perempuan. Ibuku adalah seorang perempuan yang selama 28 tahun mencoba bertahan dalam ikatan perkawinan yang abusive secara fisik, emosional, psikologis, finansial, juga seksual. Pada waktu bersamaan, ibu juga melakukan berbagai bentuk kekerasan fisik dan emosional kepadaku. Ketika dewasa, baru aku menyadari bahwa kekerasan yang ibu lakukan adalah salah satu bentuk pelampiasan atas ketidakmampuan untuk keluar dari ikatan perkawinan yang menindasnya.

Tumbuh beranjak remaja dan pindah dari kota kelahiran ternyata tidak sepenuhnya mampu menyelamatkanku. Saat SMP, aku mengalami beberapa kali tindak pelecehan dan kekerasan seksual. Pelakunya adalah orang asing; para pengendara truk dan sepeda motor. Mereka sengaja memelankan laju dan meminggirkan jalan kendaraan mereka demi mencoba menjamah bagian-bagian tubuhku. Beberapa kali upaya tersebut berhasil dan membuatku sangat marah. Beberapa kali berikutnya gagal, karena tindak pelecehan sebelumnya membuatku menjadi lebih awas ketika berada di pinggir jalan.

Di rentang usia yang sama, aku mengalami kekerasan seksual. Pelakunya adalah lawan jenis yang usianya sebaya denganku. Namun, bukan pacar, karena saat itu aku cenderung menghindari untuk dekat dengan lawan jenis. Persoalan dalam hidupku sudah cukup ramai untuk usia 14 tahun, jadi aku tidak ingin menambah kerumitanku dengan berpacaran.

Ketika aku mengalami kekerasan seksual, orang tua bukanlah pilihan tempat bercerita. Selain karena pernikahan mereka yang jauh dari harmonis dan penuh kekerasan, aku juga takut bahwa bila bercerita yang kudapatkan bukan perlindungan tetapi penghakiman. Pilihanku saat itu adalah pergi ke institusi kesehatan swasta dan mengadukan situasiku. Entah beruntung atau apa; aku bersyukur aku pergi ke tempat yang tepat di mana ceritaku didengar dan situasiku dipahami, lalu aku pun dibantu. Namun, bantuan tersebut bentuknya fisiologis. Persoalan psikologis mau tak mau harus kuhadapi sendiri.

Trauma dan penyangkalan pernah menjadi makanan sehari-hari, dan sempat hampir merusak kewarasan selama bertahun-tahun berikutnya. Aku kemudian seperti dilatih langsung oleh tangan-tangan kehidupan untuk berani membela diri dan mempertahankan diriku sendiri, karena tidak akan ada yang akan melakukannya untukku.

Proses penyembuhan diriku baru dimulai ketika di perguruan tinggi dan mulai bersentuhan dengan dunia gerakan, salah satunya gerakan perempuan. Aku bertemu para perempuan yang dunianya jauh berbeda denganku, tapi kami mengalami hal dan situasi yang tak jauh berbeda. Aku mulai membantu para korban kekerasan tersebut untuk bangkit dan menyembuhkan diri mereka. Proses tersebut ternyata membantu kesembuhan diriku dari trauma-trauma.

Proses ini juga mendorongku untuk memahami beberapa hal. Pertama; aku tidak sendiri. Ada banyak sekali perempuan yang ternyata mengalami hal sepertiku, bahkan dengan kejadian jauh lebih mengerikan. Terlepas dari latar belakang sosial ekonomi, pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan tidak pandang bulu terhadap calon korban. Kedua; yang aku mulai pahami, respon para korban terhadap situasi yang dialami sangat beragam.

Respon mereka sangat bergantung pada dua faktor utama Pertama; dukungan yang mereka dapatkan dari lingkungan terdekatnya. Kedua; seberapa dalam mereka menginternalisir nilai-nilai sosial yang timpang terhadap stereotip perempuan.

Demikian pula dengan yang kualami. Bertahun-tahun lalu, ada masa di mana aku mengalami fase yang berat untuk keluar dari stereotip dan stigmatisasi tersebut. Padahal, kasus kekerasan seksual yang kualami bukanlah disebabkan olehku. Padahal, ini disebabkan oleh ketimpangan dalam cara pandang pelaku terhadap korban dan perempuan secara umum yang hanya menganggap perempuan sebagai objek seksual

Hal yang paling berat yang harus dihadapi dan diatasi oleh para korban pelecehan dan kekerasan seksual, dari sudut pandangku yang pernah dalam posisi korban, adalah penghakiman terhadap dirinya sendiri. Bahwa dirinya adalah perempuan yang “kotor”, “hina”, dan lain sebagainya. Sedihnya, semua itu merupakan dampak dari penanaman nilai-nilai yang timpang terhadap konsep perempuan dalam masyarakat kita. Maka, tugas berikutnya adalah bagaimana mengubah cara pandang dan mendekonstruksi wacana usang di dalam kepala sendiri. Bahwa nilai seorang perempuan bukan diukur dari utuh atau tidaknya beberapa milimeter hymen—lagi-lagi terlepas dari bagaimana pun proses robeknya hymen.

Keseluruhan proses penyembuhan diri butuh waktu lebih dari setahun atau dua tahun, apalagi bagi mereka yang mengalami kasus pelecehan dan kekerasan seksual lebih dari sekali. Proses penyembuhan bisa jadi harus berjalan beriringan dan saling timpang tindih dengan mengalami lagi bentuk pelecehan lain terhadap dirinya. Keberadaan lingkungan yang suportif pun menjadi kebutuhan yang mutlak bagi korban. Untukku sendiri, meskipun kedua orang tua tidak pernah mengetahui kasus yang aku alami, aku mendapatkan lingkungan yang suportif dari pertemanan dan tempat beraktivitasku saat itu.

Lingkungan yang mendukung ini pula yang kemudian memberiku bekal dan ruang untuk berproses dengan diri sendiri. Membongkar dan menata ulang isi kepala terhadap cara pandang mengenai dan menjadi perempuan. Selain itu, masa kecil dan remaja yang notabene tumbuh tanpa dampingan orang tua ternyata sedikit memudahkanku untuk membentuk pemahaman-pemahaman yang baru. Membuang dan melepaskan diri dari ide-ide yang terlampau kuno dan tak relevan lagi, dogma, serta stigma sosial mengenai perempuan. Membangun nilai-nilai dan cara pandangku sendiri.

***

Saat ini aku memiliki 2 anak, laki-laki dan perempuan. Terlahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan riwayat kekerasan, aku sempat panik dan takut luar biasa ketika mengetahui kehamilanku. Jujur saja, aku sama sekali tidak memiliki referensi menjadi orang tua dan ibu yang baik. Namun, menghadapi ketakutan-ketakutan tersebut ternyata merupakan fase berikutnya untuk menyembuhkan diri. Kedua anakku adalah para pembimbingnya dengan uluran cinta yang utuh penuh dan murni tanpa syarat.

Tidak mudah menjadi seorang ibu tunggal, tetapi selalu ada hal baik dalam situasi sesulit apa pun. Salah satu yang bisa aku petik dengan menjadi ibu tunggal adalah kesempatan untuk membentuk pola pikir anak-anakku tanpa campur tangan siapa pun. Pembentukan pola pikir tersebut termasuk juga mengenai seks dan seksualitas; mengenai tubuh dan identitas; mengenai menjadi berbeda dan menghargai perbedaan.

Seks dan seksualitas adalah salah satu bahan obrolan biasa antara aku dan anak-anak; bukan sesuatu yang tabu. Pembicaraan ini sudah aku mulai dengan mereka pada usia yang sangat dini; 2-3 tahun. Dimulai dengan mengenali bagian-bagian tubuhnya sendiri, dan apa yang harus mereka lakukan untuk menjaganya. Seperti apa itu alat kelamin, mengapa kita harus menutupnya, dan tidak boleh ada seorang pun yang menyentuhnya kecuali ketika saat dibersihkan atau oleh dokter bila harus memeriksa ketika ada sakit.

Aku tak pernah menutup mata mereka ketika melihat adegan ciuman di televisi, meski aku juga masih menyortir tontonan mereka dengan cukup ketat. Tidak ada tontonan yang rating 13+ ke atas untuk si adek, tapi untuk kakak tontonannya mulai naik kelas. Sungguh menarik ketika mereka merasa sedikit risih saat melihat adegan ciuman dan bertanya, “Bolehkah saya melihat itu?” Aku pun selalu bertanya balik kepada mereka; apakah arti ciuman tersebut? Apakah perasaan mereka bila seseorang yang sama mencium beberapa orang lain pada rentang waktu berdekatan? Apakah menurut mereka hal itu tepat dan pantas? Bila kalian tidak nyaman dengan hal tersebut, maka jangan lakukan. Aku selalu mendengarkan dan mendiskusikan pandangan mereka, lalu barulah memasukan pandanganku. Sementara ini, kami cukup nyaman dengan metode tersebut.

Aku juga menerapkan sebuah pola kepada anak-anak ketika mereka mulai mampu melihat perbedaan dalam lingkungan sosial. Aku membantu mereka menarik kesimpulan hingga akhirnya mereka pun memilih titik berdiri sendiri terhadap hal-hal yang ada di luar mereka. Serta, meyakinkan bahwa menjadi berbeda dari teman-teman bukanlah persoalan. Meski dalam praktek dalam dunia pertemanan, mereka masih terus mencari bentuk yang cukup nyaman untuk diri sendiri dan diterima orang lain. Bukan hal yang mudah, tapi sejauh ini keduanya masih mampu mengelola situasi-situasi tersebut dengan cukup nyaman.

Aku berharap untuk terus melakukan dan menemukan pola-pola yang tepat terhadap anak-anakku, khususnya ketika membicarakan isu-isu yang kerap dianggap sensitif dalam pandangan awam. Kami pasti akan tiba dalam pembicaraan yang lebih kompleks mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan, bahkan isu mengenai seks ketiga. Aku sudah berjanji kepada diri sendiri untuk suatu saat akan menceritakan kisahku apa adanya kepada kedua anakku. Semoga mereka bisa mengambil pelajarannya dari cerita ibunya; untuk memahami dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada tanpa harus menghakimi, apalagi merendahkan.

Penulis: Novi Anita
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *