Breakaway

“Kamu ‘kan dari dulu cita-citanya masuk sekolah yang sama seperti ayah. Masih belum berubah ‘kan cita-citanya sampai sekarang?”

“Bersyukur dong kamu masuk ke institusi ternama itu. Coba bayangin kalau kamu keterimanya di universitas yang namanya biasa-biasa aja, sementara temen-temen kamu pada kuliah di kampus yang bagus, terus ada yang di Singapura, Amerika, akademi kemiliteran… berarti kan kamu engga malu-maluin dan engga ketinggalan dari mereka.”

Untaian kata-kata Ibu selama sembilan tahun itu terus terngiang di telingaku hingga kini, dan itu pulalah yang mengantarkanku untuk berkuliah di sebuah program studi unik yang hanya satu-satunya di Asia Tenggara: Astronomi.

Eh, bukan Astrologi ya…yang isinya meramalkan peruntungan karir, asmara, hingga kesehatan berdasarkan zodiak tanggal lahir itu….

Ya, Astronomi. Sebuah program studi yang terkesan begitu wah, elit, rumit, dan sulit bagi siapa pun yang mendengar. Banyak orang berasumsi bahwa mereka yang mempelajari bidang Astronomi pasti punya IQ setinggi langit atau tiada pekerjaan yang lebih berprestise dibandingkan berjam-jam mengoperasikan teleskop di bawah langit malam cerah bertaburan bintang. Namun, di balik hingar-bingar semua asumsi tersebut, aku sama sekali tidak pernah merasakan kebahagiaan maupun kemewahan profesi itu selama enam tahun kuliah.

Nilai mata pelajaran Kimia yang jeblok dari semenjak SMA menjadi momok ketika memulai perkuliahan tahun pertama di Facultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, red); menyeret semangat belajarku ke titik nadir sehingga tidak banyak A dapat kucetak pada transkrip nilai. Bergaul dan aktif berpartisipasi di himpunan kemahasiswaan pun sama saja; aku sudah terlanjur minder dengan lingkungan yang serba pintar, cerdas, dan bersemangat dalam belajar.

Rasa enggan yang kian lama semakin menumpuk itu pun tidak pernah kuutarakan pada kedua orang tuaku. Alasannya adalah karena aku merupakan anak tunggal. Hanya aku yang bisa menjadi kebanggaan bagi mereka. Meski begitu, kenyataan yang terjadi adalah keduanya tidak pula bisa menyokongku melewati hari-hari berat itu dikarenakan tuntutan pekerjaan di luar kota. Kalau begitu, apa hal yang membuatku bertahan berkuliah di bidang yang sama sekali tidak lagi kusenangi?

Salah satu yang membuatku bertahan saat itu adalah unit kegiatan mahasiswa yang kuikuti. Unit itu membuatku bergelut dengan bahasa Jepang, dan juga memaksaku untuk melatih kemampuan berbahasa Jepang ketika aku diminta untuk mengajar les maupun menemani mahasiswa pertukaran dari Negeri Sakura tersebut. Ditambah kecintaanku di dunia menulis yang sudah kumulai semenjak SMP, saat itulah aku mulai mengerti bahwa passion hidupku bukan di bidang sains, melainkan bidang bahasa.

Jadi, kenapa aku masih juga tidak berhijrah setelah tahu apa yang kuinginkan?

Sempat kuutarakan niatan untuk mengundurkan diri dari bidang sains kepada orang tuaku. Dan, meski dengan sedikit sirat kekecewaan di mata, mereka mengatakan bahwa akulah yang menjalani hidupku, dan mempersilakanku apabila benar-benar ingin berpindah jalur pendidikan. Namun, tetap saja akhirnya aku tidak beranjak. Kenyataannya aku tetap tidak pergi, karena adanya hal lain yang tetap merantaiku.

Jawabannya ada pada orang-orang yang semula kuanggap teman. Dari mulai meminta tutorial tambahan di berbagai materi yang tidak kumengerti, berdiskusi perihal tugas-tugas kuliah, hingga curhat mengenai skripsi—yang tidak pernah berhasil dapat kumengerti—di sela kegiatan hang-out di akhir minggu. Hubungan kehidupan skripsiku dan mereka itu seperti kisah perjodohan di mana aku dijodohkan paksa dengan seseorang yang tidak kucintai. Lalu, mereka hadir sebagai sahabat yang bersedia mendengar segala keluh-kesahku dan terus mendorongku untuk melalui ijab kabul dan resepsi pernikahan.

Hari-hariku perjodohanku dengan skripsi terus berlanjut. Berkali-kali revisi. Berulang kali aku menangis dalam emosi. Di tengah segala tekanan itu aku mencari pelarian, dan satu-satunya yang terpikirkan adalah passion-ku di bidang bahasa. Aku mulai mencari informasi kursus untuk kembali mengasah kemampuan bahasa Jepangku, yang lantas mempertemukanku dengan sebuah program belajar bahasa Jepang langsung di Negeri Sakura. Api semangatku mulai memercik. Pergi ke Jepang lantas kujadikan motivasi baru untuk sesegera mungkin menyelesaikan skripsiku. Hingga hari yang ditunggu pun tiba: aku berhasil mendapat gelar sarjana. Luapan kegembiraan yang luar biasa, yang ingin kubagi bersama dengan mereka, bersama dengan berita bahwa aku akan segera pergi meninggalkan Tanah Air.

Namun, sayang…yang menungguku bukanlah ucapan selamat maupun kata-kata sebagai penyemangat untuk memulai hidup di bidang baruku.

Yang kudapatkan saat itu adalah penolakan. Bahkan, oleh satu di antara mereka yang sempat menjalin hubungan intim bersamaku, yang awalnya kukira akan menjadi teman hidup. Hubungan kami sontak diakhiri begitu saja olehnya dengan berbagai macam alasan yang tidak masuk akal. Setelah itu, keberadaanku seakan ada dan tiada bagi orang-orang itu. Tidak pernah lagi aku diajak bercengkerama bersama mereka, walau anehnya namaku tetap pula satu-dua kali disematkan dalam kolom komentar unggahan foto di media sosial, tanpa absen dibubuhi kata-kata bernada nyinyir atau mengejek.

Sakit? Perih? Dendam? Tentu saja. Kupikir perasaan-perasaan itu manusiawi adanya. Untungnya, tidak pula aku membuang waktu dengan melampiaskan segala kebencian itu. Hari keberangkatanku ke Negeri Sakura yang kian mendekat membuatku fokus mempersiapkan hijrah versiku. Lembar demi lembar hari-hariku yang baru lantas membuatku lupa akan emosi negatif. Terik panas di musim panas, tiupan hujan angin, gemuruh malam bersalju di musim dingin, celoteh polos teman-teman sekelasku dari berbagai macam negara, hingga candaan maupun teguran yang kudapatkan dari rekan-rekan kerja paruh waktu membuatku mampu tersenyum dan tertawa bahagia lagi dari dalam hati. Hidup seorang diri, mengurus kebutuhan sendiri, jauh dari pengawasan orang tua, tidak lantas membuatku kebablasan seperti kuda lepas dari kandang. Adanya orang-orang yang kutemui di duniaku yang baru jugalah yang mengajarkanku akan nikmatnya kerja keras dalam mengusahakan hal yang kugemari. Akan indahnya bayaran dari peluh yang kuperas atas jerih payahku dan untuk diriku sendiri. Aku menyadari bahwa betapa mengagumkannya kelapangan dada ketika hidup dijalani tanpa pengharapan berlebihan terhadap orang lain

Bagaimana dengan kini? Aku yang telah kembali ke Tanah Air kembali dipertemukan dengan orang-orang dari masa laluku. Kembali juga berbagi keseharian dengan ibu dan ayah di mana dulu aku harus mencukupkan kebanggaan mereka dengan diriku yang memilih bidang studi berbeda dari harapan mereka. Tak kusangka, pancaran kebahagiaan setiap kali aku bergelut dengan pekerjaanku kini, yaitu sebagai seorang guru les yang wajib bercengkerama dengan anak-anak didiknya, mampu mengetuk hati orang tuaku sehingga aku tetap bisa menjadi kebanggaan di jalan yang kupilih berdasarkan kemauanku sendiri.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang meninggalkanku?

Kembali ke Indonesia memang membuatku kembali mengingat semuanya. Aku mengecap getir setiap kali berpapasan jalan dengan salah seorang dari mereka. Aku kadang masih menelan pahit setiap kali kudengar mereka membanggakan kehidupan sukses mereka. Ya…karena sebagaimanapun aku kini terlihat bahagia di mata keluarga, saudara, dan teman-teman terdekatku, nyatanya aku tetap masih ada perasaan tak mengenakkan tersisa dalam dada. Namun, sering kali juga aku teringat akan ucapan orang-orang di sekitarku. Kata-kata yang dilontarkan teman baikku, rekan kerjaku, hingga sahabat orang tuaku yang tahu tentang kisah hidupku. Mereka berkata:

“Aku suka merasa kamu itu hebat. Banyak banget yang dilalui tapi tetap jadi orang baik.”

“Selama bidang keilmuan yang baru ini bisa membuatmu lebih berkembang, kenapa masih harus bertahan di tempat yang lalu?”

“Saya salut sama kamu. Kamu ikhlas belajar hal baru dari nol. Tidak semua orang yang ingin hijrah diberikan kekuatan niat seperti itu.”

Berkat penggalan-penggalan kalimat itulah aku mampu terjaga dari segala tindakan bodoh yang bisa menjerumuskan masa depanku. Menguatkan hatiku untuk tersenyum, dan dengan dada tegap dan luapan rasa hangat penuh kebanggaan, aku kini dapat mengatakan kepada mereka:

“Jadi guru itu menyenangkan, loh. Awet muda karena dikelilingi anak-anak muda. Apalagi jadi guru les, muridnya bermacam-macam dari anak SD sampai bapak-bapak pensiunan PNS. Selain itu, aku menemukan indahnya dunia literatur setelah mempelajari dua bahasa. Tidak hanya sains, bidang bahasa juga berevolusi, sesuai dengan laju evolusi manusia itu sendiri. Dan, untuk berkomunikasi itu diperlukan alat bernama ‘bahasa’, bukan?”

Maka, meski aku tahu, perjalanan hidupku belum selesai. Ilmu ikhlas dan lapang dada masih harus tetap kupraktikkan hingga akhir hayatku. Atau setidaknya … ini adalah sepenggal dari proses pendewasaan bagi seorang Fitriani Pratiwi untuk memaknai arti kata ‘memaafkan’ dan ‘melepaskan’.

Penulis: Fitriani Pratiwi
Editor: Ala Hindersah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *