It’s Okay to not be Okay

Ilustrasi diambil dari Pinterest

Untuk saya, memaafkan diri sendiri dan berdamai dengan masa lalu adalah hal yang cukup berat untuk dijalani sendiri. Selama ini, saya mencoba berjuang melawan rasa takut, trauma, dan kekhawatiran hanya ditemani oleh keyakinan bahwa saya berhak untuk bahagia. Sejak kecil saya merasa bahwa Tuhan pilih kasih karena menempatkan saya di posisi yang sulit; hidup sendiri tanpa saudara, bersama seorang ayah yang berperilaku buruk.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana ayah memperlakukan ibu secara kasar. Dengan ikat pinggang, ayah memukul ibu tengah malam. Pedih rasanya. Ketika saya menginjak umur 10 tahun, kedua orang tua saya memutuskan untuk berpisah. Ayah lebih memilih hidup bersama wanita lain ketimbang memperjuangkan keluarga ini. Namun, di sisi lain, semua adalah demi kebaikan kami dan ibu tidak perlu lagi merasakan kekerasan fisik yang sering dilakukan ayah selama ini.

Saat itu, saya memilih untuk diam dan menutupi perasaan yang sebenarnya. Saya merasa tidak apa-apa membohongi diri sendiri daripada harus menanggung beban dicap tidak “normal” oleh lingkungan. Semua pemikiran itu tidak terlepas dari bagaimana orang tua saya membesarkan saya selama ini. Melihat keadaan keluarga yang kacau, ibu dan ayah sering menutupi masalah keluarga dengan cara berbohong. Saya dibilang juara kelas, sering dijanjikan kado ketika ulang tahun, dan pada akhirnya saya memiliki anggapan ketika saya bisa membohongi orang atas keadaan saya sesungguhnya maka saya akan baik-baik saja.

Sekarang saya berumur 25 tahun. Saya sudah mapan secara finansial dan merasa tidak memiliki masalah keuangan juga sosial. Hanya saja, saya tidak menyangka, memendam segala perasaan-perasaan negatif itu ternyata sama halnya seperti merawat bom waktu. Salah satu hal yang saya sadari adalah saya berbohong bahwasaya saya baik-baik saja berada di sekitar laki-laki. Sesungguhnya, saya merasa terancam berada di sekeliling mereka. Namun, demi untuk mendapatkan pengakuan lingkungan, saya coba memaksakan diri menjalin hubungan dengan laki-laki.

Kembali lagi, semua ini saya lakukan hanya untuk membuat saya terlihat baik-baik saja.

Orang-orang tidak tahu bagaimana rasanya setiap saat merasa gelisah, takut, dan khawatir diperhatikan oleh pacar sendiri. Ya, ini memang terkesan aneh, tapi yang saya rasakan semuanya nyata. Kami bahkan tidak pernah bergandengan tangan karena saya memang tidak mau. Ketika berdekatan dengan dia rasanya saya melihat sosok ayah yang datang menghampiri membawa ikat pinggang dan siap memukulkannya ke arah saya. Akhirnya, kami pun berpisah.

Saya memutuskan bahwa hubungan ini sudah cukup memperlihatkan ke orang-orang bahwa saya juga “hidup normal” seperti mereka. Saya sadar bahwa yang sedang saya lakukan adalah hal buruk, egois, dan melelahkan. Saya masih belum sadar bahwa bom waktu itu bakal meledak kapan saja.

Puncaknya adalah ketika saya mulai merasa stres dengan pekerjaan. Rasanya ingin sekali ada yang datang untuk mendengarkan keluh kesah saya. Saya selalu berpikir bahwa saya tidak akan pernah bisa menikah karena belum ada yang bisa meyakinkan saya. Belum ada yang membuat saya tenang serta nyaman berada di sisinya. Perasaan campur aduk ini diperparah dengan sebuah video yang saya tonton pada suatu malam. Dalam video tersebut saya melihat adegan seorang anak perempuan yang bergandengan tangan dengan ayahnya menuju altar di sebuah acara pernikahan. Di situ, saya merasa semua hal tentang kekecewaan saya terhadap ayah saya terpanggil kembali, lebih dalam dari biasanya. Apalagi ketika melihat ayah dalam video itu memberikan sambutan, kalimatnya sederhana, sang ayah hanya meminta kepada mempelai pria untuk selalu menjaga anak perempuannya dan sang mempelai pria menyanggupinya.

At some point, I felt like nobody appreciates me the way that father in the video appreciates his daughter.

Saya menangis sejadi-jadinya. Saya seperti sedang diingatkan kembali bagaimana menyakitkannya hidup sebagai seorang anak broken home. Seorang anak yang sering dibohongi sejak kecil, seorang anak perempuan yang ditinggalkan ayahnya dan tumbuh besar hanya bersama ibu. Saya tidak menyalahkan ayah untuk semua yang sudah saya lalui sampai sekarang. Saya hanya merasa kecewa, ternyata selama ini saya hanya belum bisa menerima keadaan, menerima diri sendiri, dan masa lalu saya.

Untuk pertama kalinya setelah hampir 15 tahun hidup dalam kebohongan, momen itu membuat saya mengakui semuanya. Mengakui bahwa saya sudah tidak jujur dengan orang-orang, dengan diri sendiri dan saya menyesal. Mengakui bahwa saya sempat marah dengan keluarga yang juga bersikap baik-baik saja setelah orang tua saya bercerai; tidak ada satu pun dari mereka yang menanyakan keadaan saya, seolah-olah itulah yang saya dan ibu inginkan.

Setelah kejadian menonton video itu, saya langsung tidak berangkat kerja dan ambil cuti selama lima hari berturut-turut. Keadaan saya yang tidak stabil dan cenderung sangat berantakan. Saya kembali dihadapkan oleh perasaan-perasaan khawatir, takut, dan trauma yang membingungkan.

Saya sempat tidak tahu harus bagaimana dan mencapai titik di mana saya mencari tahu sendiri apa yang sedang saya alami. Setelah kejadian lima hari perenungan yang dipenuhi dengan rasa bimbang, saya jadi mulai sulit tidur tepat waktu. Semakin hari, kondisi saya semakin parah hingga saat ini tidur saya tidak pernah nyenyak. Keterbatasan saya untuk bisa nyaman bercerita dengan orang pun membuat saya menelusuri sendiri tentang apa sebenarnya yang sedang saya alami.

Hal ini nyata saya alami dan mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, tapi ternyata saya sedang mengalami depresi, kenyataan menyedihkan lainnya yang harus saya hadapi.

Most people feel sad or low at some point in their lives. But clinical depression is marked by a depressed mood most of the day, sometimes particularly in the morning, and loss of interest in normal activities and relationship.

Sampai saat ini saya belum bertemu ahli, dokter atau psikiater untuk bisa saya percaya membantu menyelesaikan persoalan saya karena trust issue yang masih belum bisa saya atasi dengan baik. Sampai detik ini, saya masih berjuang mendapatkan ketenangan hati dan jiwa. Setiap hari saya melakukan meditasi dan terus mencoba untuk memulai kembali segalanya dari awal.

Saya yakin di antara kalian yang membaca cerita ini juga ada yang merasakan hal yang sama, atau malah kalian menyadari jika ada seseorang yang juga sedang struggling sama seperti saya? Apa pun yang sedang kalian alami atau hadapi sekarang, jangan pernah mencoba untuk menghindar dengan berkata: everything is okay. Ketika kamu merasa bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja cobalah untuk bercerita kepada siapa pun yang kalian percaya.

Untuk siapa saja yang merasa ingin membantu, kalian tidak perlu mencari atau menunggu seseorang datang kepada kalian meminta bantuan. Perlu kita pahami bahwa tidak semua senyum, canda tawa serta sikap baik-baik saja dari mereka yang ada di sekitarmu adalah sebuah kebenaran. Tidak perlu memberi perhatian ke semua orang. Mulailah dari orang terdekatmu; siapa tahu merekalah yang sedang membutuhkan bantuanmu. Sedikit perhatianmu ke salah satu teman dekat atau kerabat serta keluarga lebih berarti bagi mereka. Rasanya pasti menyenangkan dan menenangkan bagi mereka ketika seseorang bisa dengan hati yang tulus menanyakan keadaan mereka. Sesederhana itu.

Just a little awareness and caring of people around you.

Itu akan lebih berarti bagi mereka yang ada di dekat kalian.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *