Berkiprah dengan Jalanku, Caraku

Kalau orang-orang membicarakan mahasiswa, pasti kata kunci paling populer adalah organisasi, panitia, aspirasi, dan kritis.

Apalagi, sejak masa ospek tingkat universitas hingga jurusan, pasti banyak senior yang menggembor-gemborkan pentingnya berpartisipasi dalam organisasi dan kepanitiaan. Demi soft skill yang penting untuk bekal di dunia kerja, kata mereka. Maka, berbondong-bondonglah mahasiswa mendaftar ke BEM, himpunan, maupun kegiatan kepanitiaan. Aku dan kawan-kawanku di jurusan Sastra Jepang juga termasuk di antaranya.

Selama mengikuti kegiatan himpunan dan kepanitiaan, entah kenapa aku merasa berbeda dengan para mahasiswa pengejar soft skill itu. Pada kenyataannya, aku tak pernah merasakan suatu kepuasan dalam berorganisasi saja. Telah terhitung beberapa kali aku diamanahi menjadi koordinator. Hal yang kupelajari selama menjadi koordinator tentu saja sangat berguna, tetapi aku selalu merasa bukan itu yang sedang kucari.

Aku mencoba bertanya kepada diri sendiri akan apa yang ingin kucari. Setelah beberapa kilas balik, aku tersadar bahwa motivasiku mengikuti kepanitiaan adalah untuk mengisi kolom pengalaman organisasi di CV. Hal itu ‘terpaksa’ kulakukan karena baik di SMP maupun SMA aku sama sekali tak pernah terlibat dalam organisasi. Lagipula, aku bisa menjejalkan sertifikat himpunan maupun kepanitiaan di antara arsip ijazahku. Maka, tak aneh jika kepengurusanku di himpunan cukup singkat karena passion-ku bukan di sana.

Lantas, apa yang akan kulakukan sebagai seorang mahasiswa non-pengurus organisasi? Apalagi, aku tidak ingin dicap sebagai mahasiswa “kupu-kupu”. Melalui pembicaraan dengan beberapa sensei (panggilan dosen di Sastra Jepang) dan senpai (panggilan untuk senior), di jurusanku ternyata banyak kesempatan untuk berkiprah di bidang akademis, yaitu melalui ajang perlombaan Bunkasai. Teringat akan minatku yang cukup besar di bidang bahasa Jepang, kupikir bukan sesuatu yang buruk untuk berpartisipasi di sana. Ditambah lagi, sensei sering “memanasiku” dengan cerita para senpai yang berhasil mengharumkan nama kampus melalui prestasi di perlombaan Bunkasai.

Dari informasi yang kudapatkan, Bunkasai adalah acara yang diselenggarakan di Sastra Jepang universitasku khusus untuk mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang di Bandung. Acara ini juga berisi cabang perlombaan seperti speech, shuuji (kaligrafi Jepang), choukai (listening), kanji, kana (hiragana dan katakana), sakubun (menulis esai), dan kuis.

Awalnya, pada tahun 2015, aku mendapatkan hasil yang kurang kuharapkan di lomba kana. Rupanya, aku tidak mempersiapkan diri secara maksimal karena saat itu aku bergabung dengan Teater Merah, sebuah pementasan teater yang merupakan bagian dari Bunkasai. Ternyata, tenagaku justru terkuras dan banyak waktu yang tersita karena latihan. Alhasil, persiapanku untuk mengikuti lomba tidak maksimal.

Pada tahun berikutnya, aku memutuskan untuk tidak mengikuti proyek Teater Merah dan memfokuskan diri pada persiapan untuk lomba saja. Saat itu aku berpartisipasi dalam lomba kanji dan sakubun. Karena aku memiliki banyak waktu, aku dapat mengoptimalkannya untuk persiapan Bunkasai. Puji syukur kepada Allah SWT, aku berhasil memenangkan juara pertama dalam perlombaan tersebut.

Berkat adanya motivasi lebih besar untuk mengasah kemampuan bahasa Jepang, aku kembali mengikuti lomba Bunkasai pada tahun 2017. Aku pun memberanikan diri untuk mengikuti lomba speech. Motivasi utamanya adalah untuk melihat sejauh mana aku bisa berbicara di depan umum.

Singkat cerita, setelah melalui proses seleksi aku terpilih menjadi perwakilan untuk 3 cabang lomba bersama beberapa teman. Berbagai rangkaian latihan telah kulakukan hingga hari H. Namun, ada kejadian tak mengenakkan pada hari pertama Bunkasai. Salah satu teman seangkatan yang mengetahui keikutsertaanku di 3 cabang lomba sekaligus malah menertawaiku sambil berkata: “Lu rajin amat sih ikut 3 lomba gitu.”.

Tak ada sedikit pun dukungan berupa kalimat “Ganbatte ne!” (Semangat, ya!) dari orang itu.

Pernyataan lisan yang datang dari seseorang yang seharusnya mendukungku itu amat menyakitkan dan menusuk hati. Aku sempat berpikir apakah dia merasa iri kepadaku, tapi menurutku dia memiliki pengalaman berorganisasi yang jauh lebih baik dariku. Keaktifannya dalam menyumbangkan pendapat dan kritik pun sama sekali tak bisa dianggap remeh.

Akibat sindiran darinya, aku hampir berniat kabur dari kampus dan mengundurkan diri dari semua perlombaan. Rasanya aku ingin menjadi mahasiswa apatis untuk dua hari saja. Untuk apa ikut lomba jika semangat saja sudah telanjur jatuh hingga dasar jurang?

Tetapi aku mencoba mengingat-ingat perjuanganku hingga terpilih menjadi perwakilan kampus. Terutama untuk lomba speech, aku harus merelakan banyak waktu istirahatku demi menyusun naskah dan berlatih hampir setiap hari bersama sensei dan teman-teman. Tidak hanya itu, waktu luangku diisi dengan mendengarkan audio berisi pembacaan naskah speech versi native speaker Jepang untuk menyempurnakan pelafalan. Sisi lain dari diriku berkata aku tidak boleh mengecewakan mereka yang telah membantu banyak hal dan menaruh harapan kepadaku. Maka, aku tetap maju mengikuti perlombaan.

Lomba speech membuat adrenalinku terpacu berkali-kali lipat dibanding lomba lainnya. Apalagi, ketika seluruh peserta mengisi bangku di samping panggung. Satu per satu peserta maju dan aku melihat penampilan mereka dengan saksama, sambil membayangkan seperti apa penampilanku nanti. Berbagai tema dibawakan mulai dari yang berdasarkan pengalaman pribadi, fenomena sosial, sampai yang berkaitan dengan budaya Jepang.

Lalu tibalah giliranku untuk tampil. Di depan ketiga juri orang Jepang dan para peserta Bunkasai, aku menyampaikan pidato yang berjudul penerapan kaizen (budaya perbaikan berkelanjutan yang biasa diaplikasikan oleh perusahaan Jepang) pada pembelajaran kanji. Sebisa mungkin kuingat seluruh isi teks tanpa kesalahan sedikit pun. Untunglah aku bisa melakukannya sebaik mungkin.

Pada sore hari, setelah menikmati rangkaian penampilan seni, sensei mengumumkan hasil lomba mulai dari yang diselenggarakan pada hari pertama hingga hari kedua. Satu per satu para pemenang maju ke atas panggung untuk menerima piala dan hadiah lainnya. Tak disangka, namaku disebut sebagai peraih juara pertama untuk lomba kanji maupun speech. Aku dan teman-teman mewarnai aula dengan euforia kemenangan yang bercampur haru kebahagiaan.

Aku bangga dapat berkiprah dengan jalanku sendiri meski tak pernah mengikuti diskusi bersama para penggiat organisasi lainnya.

Lalu bagaimana dengan soft skill yang kumiliki bila tak pernah aktif berorganisasi lagi?

Perlombaan yang bersifat akademis juga mengasah softskill. Melalui Bunkasai, aku belajar cara mengatur waktu untuk persiapan lomba serta bersikap profesional saat latihan maupun lomba meski banyak hambatan. Aku pun belajar bagaimana menjadi lebih percaya diri. Semoga, di dunia kerja, aku juga mampu meningkatkan kualitas diri serta menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.

Untuk kalian yang ingin mengembangkan diri di bidang akademis melalui perlombaan, jangan takut untuk maju. Jangan takut jika ada mulut-mulut usil yang meremehkan kemampuan kalian. Dan, jangan biarkan semangat kalian jatuh hanya karena ada yang berkata: “Rajin banget sih ikut-ikutan lomba gitu” sambil diikuti tawa sindiran.

Ganbatte kudasai!

Penulis: Kairi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *