Bertatap dalam Hangat

Pretty pictures and quotable captions. A click away and hundred likes. You and me. And the electrical wavelengths between us.

Minggu kemarin, saya kembali berkesempatan untuk datang ke acara Cerita Perempuan yang bertema Self Worth in a Hyperconnected Social Media World. Membahas penggunaan media sosial maupun dampaknya bagi masyarakat modern mungkin tidak ada habisnya. Media sosial secara langsung dan tidak langsung mengubah bagaimana sosialisasi bekerja maupun cara kita memandang banyak hal di dunia. Mulai dari merebaknya social influencer dan bagaimana iklan bekerja, sampai komunikasi antar individu.

Ada beberapa sesi di acara kali ini, dimana dua di antaranya merupakan sesi social experiment. Di sesi awal, kami dipasang-pasangkan dan diperbolehkan ‘mengintip’ isi media sosial pasangan masing-masing. Setelahnya kami harus menuliskan kesan pertama dan apa yang kami rasakan setelah melihat akun media sosial pasangan kami. Lewat sesi ini, saya merasa bahwa tanpa sadar, hal-hal yang kita tampilkan di dunia maya merupakan apa yang ingin kita perlihatkan pada dunia. Kita membuat persona tentang diri, berusaha menggambarkan tentang seperti apa kita dalam keseharian. Tapi, ternyata orang lain belum tentu bisa merasakan hal yang sama atau menangkap sebanyak yang kita kira.

Sesi kedua merupakan sesiĀ sharing pengalaman. Tidak seperti acara-acara sebelumnya yang diadakan di Jakarta, ini kali pertama Cerita Perempuan mengundang narasumber yang sudah cukup dikenal di masyakarat. Acara ini menghadirkan Tara Amelz (@mamaofsnow), Andra Alodita (@alodita), dan Ayi (@kelincitertidur). Figur-figur yang menurut saya, sangat menyuarakan positivity dalam kesehariannya. Sesi ini dimoderatori oleh Mba Jane dari Yayasan Pulih.

Menurut saya, keberadaan influencer di tengah era digital sangat mempengaruhi standar kehidupan kita. Ada kalanya, kita cenderung membandingkan diri kita dengan beberapa influencer yang ada di lini masa. Tidak saja membandingkan-bandingkan diri, ada yang menumbuhkan rasa tidak suka bahkan kebencian kepada orang-orang tersebut. Besarnya jarak kita dengan mereka kadang membuat kita berani menghakimi mereka lewat komentar singkat ataupun cemoohan dalam pembicaraan sehari-hari. Mendengarkan cerita para narasumber hari itu, seperti meruntuhkan jarak yang sebelumnya saya rasakan. Di balik tembok-tembok bertabur foto dan video bercahaya terang, ada orang-orang yang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang sama dengan kita. Ada manusia-manusia yang tengah berjuang menyeimbangkan kehidupan dalam cepatnya arus kehidupan. It sounds a lot like you and me.

Di sesi sharing ini, beberapa teman juga berbagi pengalamannya dalam menggunakan media sosial dan seberapa besar dampaknya dalam kehidupan nyata. Kepingan-kepingan cerita ini membuat saya menyadari bahwa kadang kegiatan kita di media sosial ini bisa sangat toxic dan menganggu isi kepala kita dalam berkeseharian. Mba Jane merangkum keseluruhan sesi ini dengan membandingkan kecanduan tersebut dengan salah satu episode Black Mirror yang berjudul Nosedive. Di episode ini, diceritakan bagaimana ‘nilai’ seseorang di masyarakat ditentukan lewat rating virtual kita. Semakin tinggi rating kita, semakin tinggi pula benefit yang bisa kita rasakan dalam kehidupan. Hal ini membuat kita tidak lagi jujur dengan banyak hal dan melakukan apapun untuk mendapat rating yang ‘pantas’.

Sesi terakhir merupakan sesi yang sangat saya sukai di pertemuan Cerita Perempuan sebelumnya. Kami dikelompokkan bertiga dan diharuskan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan moderator secara bergiliran. Ketika orang lain menjawab pertanyaan, kita tidak diperbolehkan bertanya atau mengomentari. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan di depan orang-orang asing anehnya membuat saya jujur akan kegelisahan yang saya alami. Walaupun saya bukan termasuk orang yang kecanduan media sosial ataupun sering membagi kehidupan saya, ada kalanya saya merasa tertinggal dengan tidak melakukan itu semua. Ada kalanya saya tidak berani untuk membagi sesuatu hanya karena takut dicap buruk atau maksud yang saya sampaikan ditangkap berbeda oleh orang lain.

Saya pribadi senang sekali datang ke acara sharing dan support group seperti ini. Walaupun awalnya saya takut menyuarakan pendapat, suasana acaranya sangat welcoming dan tidak terasa intimidating. Seperti dipeluk, terasa hangat dan menenangkan. Lewat acara kali ini (dan acara-acara Cerita Perempuan sebelumnya), saya banyak belajar tentang kejujuran terhadap diri sendiri. Bahwa adalah wajar bahwa kita memiliki banyak ketakutan dan kegelisahan. Membaginya dengan orang lain sebenarnya adalah salah satu cara untuk berusaha tetap sehat dan waras. Dan kalau boleh menambahkan, membicarakan masalah nyata dan ketakutan-ketakutan kita kadang justru bisa membantu kita menemukan diri sendiri.

Tulisan ini telah di publikasikan sebelumnya pada blog penulis, Prisanti Putri, diĀ http://blog.uncletivo.com/, dan dipublikasikan ulang di blog ceritaperempuan.id dengan izin penulis.

Seluruh foto merupakan hasil dokumentasi milik Cerita Perempuan dan ditangkap oleh Ravina.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *