Kegiatan Lalu: Finding Self Worth in Hyperconnected, Social Media World

Layar kaca dalam genggaman ini begitu familiar. Ia membawa kita pada sebuah dunia di mana segalanya dapat diakses dengan satu sentuhan. Kehidupan orang lain terasa begitu dekat. Jarak antara apa yang nyata dan tidak nyata menjadi semakin membingungkan, dan semakin susah untuk kita menahan penilaian terhadap orang lain. Namun, apakah kita benar-benar telah berlaku adil sejak dalam pikiran kita, mengenai kehidupan orang lain dan juga mengenai kehidupan kita sendiri?

Mungkin ini sebagian pertanyaan yang muncul mengenai diri dan sosial media, yang menjadi topik dari acara “Self Worth in a Hyperconnected Social Media World” yang diadakan pada 3 Februari 2018 yang lalu.

Pada pertemuan kali ini, untuk memulainya, @ceritaperempuan.id mengundang teman-teman yang hadir untuk mengikuti sebuah eksperimentasi kecil. Teman-teman diminta untuk menuliskan akan kesan yang mereka dapatkan dari media sosial teman di sebelah mereka. Kami meminta teman-teman untuk menuliskan penilaian yang selama ini pasti akan terbesit saat kita men-scroll layar. Namun, tidak seperti biasanya, di mana penilaian ini kita lakukan dalam kenyamanan ruang privat kita, kali ini @ceritaperempuan.id meminta teman-teman untuk menyampaikan penilaian itu langsung kepada yang bersangkutan.

Apa sebenarnya penilaian kita terhadap orang tersebut, dan apakah itu juga yang dirasakan orang itu terhadap dirinya? Bagaimana juga sebenarnya diri kita dilihat orang lain, apakah ketakutan kita akan bagaimana mereka melihat kita benar adanya?

With Thoughts of You and Your Self-Worth,” begitu tertulis di kertas kecil itu, dan di dalamnya orang asing di sebelah kita menuliskan apa yang ia bayangkan mengenai diri kita setelah diberi kesempatan men-scroll media sosial kita selama beberapa menit.

“Ia memiliki banyak teman”
“Sepertinya kehidupannya penuh hal-hal yang menarik dan menyenangkan”
“Ia sering berjalan-jalan”
“Ia terlihat banyak pencapaian dalam hidupnya”

Dan begitu banyak kata-kata lain yang tertulis dalam kertas kecil itu. Namun, bagiku ini rasanya ganjal. Bukan berarti apa yang orang asing itu nilai tentang diri ini salah, tapi kenapa rasanya seperti ada yang kurang. Karena pada layar genggam yang telah ia scroll itu, sebenarnya tidak seluruh hidupku terlihat. Dan saat ia menilaiku hanya berdasar apa yang aku tunjukkan, sebenarnya itu tidak seutuhnya diriku dikenalnya. Begitu, bukan?

***

Dalam kesempatan kali ini, @ceritaperempuan.id mencoba menciptakan sebuah ruang untuk diskusi mengenai bagaimana kita menghubungkan antara citra diri kita di media sosial dengan diri kita yang sebenarnya. Dan dalam pembicaraan ini kita dipandu dengan Mbak Jane, psikolog dari @yayasanpulih.

Sesungguhnya walau media sosial banyak memberikan manfaat dalam ekspresi diri dan juga dalam berbagi dengan teman-teman kita, media sosial juga terkadang membuat kita mempertanyakan kembali diri. Dalam diskusi ini juga kami mengundang nama-nama yang tidak asing di dunia media sosial, yaitu @alodita@mamaofsnow, dan @kelincitertidur. Bagaimana sih mereka mempertahankan kepercayaan mereka terhadap diri di tengah penilaian orang yang mungkin menilai mereka hanya dari sebatas media sosial mereka?

Ada kata-kata unik yang kami dapatkan dari Ayi (@kelincitertidur) hari itu. Saat ditanya bagaimana ia menanggapi “haters” ia mengatakan bahwa ia mendapatkan inspirasi dari Kasir Alfamart.

“Saya mencoba menjadi seperti kasir Alfamart, semua diterima dengan senyuman.”

Ia menambahkan bahwa dengan mindset seperti ini, maka ia tidak lagi merasa senang berlebihan saat dipuji, dan tidak merasa terlalu sedih saat dikomentari pedas. Semua diambil seperlunya saja.

Pada kesempatan kali ini, @ceritaperempuan.id juga kedatangan seorang Ibu berhati lembut yaitu Tara (@mamaofsnow). Perjalanannya menjadi content creator sebenarnya diawali dari kesukaannya menulis blog, dan posisinya yang sekarang tergolong sebagai influencer di media sosial bukan sesuatu yang tadinya ia sangka-sangka. Bagi Tara, media sosial itu ia usahakan ambil positifnya saja. Dan di saat-saat sedang susah sekalipun, ia akan berusah mengingatkan dirinya akan alasan pertamanya melakukan ini yaitu karena ia ingin membantu dan berbagi dengan orang melalui sesuatu yang disukainya.

Always remember why you started

Bagi Andra (@alodita), disiplin sangat penting untuk menjaga hidup saat berhubungan dengan sosial media. Andra berbagi mengenai kebiasaan yang ia coba tumbuhkan di dalam keluarganya untuk menuliskan semua pikiran dalam jurnal. Ini penting untuknya karena di tengah suasanya yang seolah-olah membagi semua hal di media sosial, ia merasa manusia tetap butuh sebuah ruang miliknya sendiri. Dan baginya jurnaling adalah salah satu ruang untuk miliknya sendiri.

Apakah kamu juga punya tips and trick seperti Andra?

***

Hari ditutup dengan memberikan kesempatan bagi semua yang hadir untuk menjawab pertanyaan dari @ceritaperempuan.id secara bergiliran. Dan dalam kesempatan ini, saat satu orang berbicara, maka mereka yang berada dalam kelompoknya tidak boleh bertanya ataupun mengomentari. Kami hanya meminta untuk mendengarkan.

Kapan terakhir kita ditanyakan sesuatu mengenai perasaan kita yang sebenarnya, dan kapan terakhir kita berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sungguh-sungguh? Kapan juga kita terakhir benar-benar mendengarkan tanpa interupsi jawaban dari orang di sekitar kita?

Pada kesempatan ini @ceritaperempuan.id ingin memberikan kesempatan bagi semua yang hadir untuk menengok ke dalam diri sendiri, dan melihat seberapa luas hati milik kita itu, dan seberapa banyak dari diri ini yang sudah kita arungi?

***

That’s a wrap! Kami segenap tim @ceritaperempuan.id ingin mengucapkan terima kasih pada semua yang telah hadir dan mendukung keberlangsungan acara ini, @yayasanpulih@alodita, @mamaofsnow, @kelincitertidur@kroma.id, @belimbingisland.id@botanina_id, dan @lakomple.

Akhir kata, kami juga ingin mengingatkan.

Carilah dirimu yang sebenarnya, dan jujurlah. Carilah satu hal yang membuatmu merasakan kepenuhan dalam dirimu hingga titik maksimal yang kamu bisa, bukan kekosongannya. Terkadang kamu harus berhenti, mengambil langkah mundur, menarik napas sedikit, untuk menemukannya. Tapi itu tidak apa-apa. Hidup bukan kompetisi dan kamu tidak harus bersaing dengan siapa-siapa. Apa yang kamu lihat di media sosial hanyalah puncak dari gunung es, dan kamu hanya bisa melihat puncaknya, bukan semua yang berada di bawahnya.

Baca juga: Recap acara yang ditulis oleh salah satu peserta acara

 

Tentang Pembicara & Moderator

Jane L Pietra, M. Psi, seorang psikolog dari Yayasan Pulih (@yayasanpulih). Mbak Jane menyelesaikan sarjana psikologinya di Univeritas Indonesia pada tahun 2010, dan lalu ia melanjutkan pada universitas yang sama mengambil Adult Clinical Psychology pada tahun 2011. Mbak Jane telah aktif di Yayasan Pulih sejak tahun 2013 dan telah mengikuti berbagai training sebagai fasilitator atau narasumber pada event Yayasan Pulih. Mbak Jane juga anggota aktif Grup Kerja Strengthening and Recovery di KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran).

Kushandari Arfanidewi atau yang biasa dikenal dengan Ayi, terjun ke dunia makanan sehat sejak 2014 dan ia dikenal melalui akunnya di social media @kelincitertidur sebagai salah satu passionate cook yang aktif di instagram. Walaupun cinta pertamanya adalah di bidang arsitektur dan musik, namun passion di bidang memasak dan juga kesadaran akan makanan sehat membawanya terjun menekuni dunia kuliner dan memasak khususnya di bidang katering sehat. Visi Ayi adalah membuat makanan sehat yang kreatif dan fun! sehingga hidup sehat tidak menjadi momok yang menakutkan dan membosankan melainkan menyenangkan bagi setiap orang. Dan melalui platform instagramnya, ia aktif membagikan semangat makanan sehatnya itu.

Cinta Ruhama Amelz atau akrab dipanggil Tara (@mamaofsnow) adalah seorang content creator dan founderwoop.id‬. Dalam kesehariannya, Tara berbagi mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan dunia wanita, mulai dari beauty, fashion, sampai motherhood. Sejak November 2016, Tara mendirikan ‪Woop.id‬ (Women Empowerment Project – @woopdotid) untuk menyediakan artikel-artikel yang diharapkan dapat memberikan inspirasi positif bagi wanita Indonesia.

Andra Alodita (@alodita) memulai blognya di tahun 2008 sebagai online portofolio untuk memulai karirnya sebagai fotografer. Sejak 2009-2011 karya-karyanya telah dimuat di majalah-majalah lokal dan ditampilkan di beberapa mall di Jakarta. Setelah memutuskan untuk rehat dari dunia fotografi di tahun 2014, Andra kembali fokus menulis blog dan berbagi ceritanya seputar dunia kecantikan, travel, kuliner dan kisah-kisah inspiratif yang ia miliki. Akun instragramnya banyak menginspirasi wanita Indonesia tidak hanya dalam hal kecantikan, tapi juga hobi, travelling, dan parenting.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *