Living My Own Path

Perkenalkan, saya Karina Ramadhani; lahir dengan kondisi baik dan hidup secara normal layaknya perempuan di luar sana.

Namun, semua itu tiba-tiba berubah secara total pada tahun 2010. Saat itu, saya memutuskan untuk pergi ke laboratorium di Bandung karena merasakan ada yang sedikit ganjil di tubuh saya. Kemudian, dokter melontarkan bahwa benjolan yang ada di payudara kanan saya masuk ke dalam kategori kanker. Ya, saya divonis kanker payudara.

Padahal, keputusan saya untuk mengecek benjolan di payudara adalah hal yang berat. Ditambah, dengan hasil yang keluar, saya tak mampu lagi mengontrol emosi. Hanya tatapan dan genggaman tangan bunda saya, yang menemani selama proses pengecekan, yang menguatkan saya. Air mata saya mengalir; menyampaikan bahwa saya amat terluka dan sedih.

Pada hari yang sama, ayah dan bunda memutuskan mencari dokter terbaik di Bandung agar mendapatkan second opinion dan pengecekan ulang. Namun, sayang alam berkata lain, saya tidak ditakdirkan bertemu dokter tersebut. Ayah saya pun mencari pengobatan dan pengecekan alternatif. Maka, terapi listrik menjadi pilihan kami.

Hari demi hari saya lalui dan jalani. Benjolan yang saya miliki pun menjadi alarm penting untuk kehidupan saya. Dan, sejak itu saya aktif untuk berbagi cerita atau mendengarkan cerita dari keluarga saya (anak-anak yang telah divonis kanker, yang sampai detik ini masih berjuang untuk sembuh) di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) cabang Bandung.

Saya juga berusaha memperbaiki pola makan saya. Sebagai pasien kanker payudara, saya disarankan untuk mengurangi konsumsi daging dalam bentuk apa pun. Karenanya, saya memilih menjadi flexitarian, di mana saya lebih memfokuskan pada konsumsi ikan dan hewan laut lainnya, juga susu dan produk makanan olahan dari susu seperti yoghurt. Sementara, konsumsi daging merah dan ayam hanya sesekali, bahkan bisa dihitung jari.

Sedikit flashback, semasa kecil saya tergolong anak yang sulit untuk makan dan minum. Saya makan kalau saya…ya ingin makan. Begitu juga dengan minum. Sejak kecil juga, saya lebih menyukai sayur, buah, dan ikan. Ayam dan daging merah sering kali saya hindari. Jadi sebelum tervonis kanker, saya memang sudah menjadi flexitarian atau yang sering juga disebut sebagai semi-vegetarian.

Pilihan menjadi flexitarian pun tidak semata-mata mulus. Masih ada yang menganggap keputusan saya ‘sok keren’, ‘sok sehat’, bahkan ‘ribet’. Sempat ada beberapa orang yang bilang, “Ngapain lo hidup kalo ga pernah makan daging, hidup lo kurang asik.” Tapi saya tetap menjalankan pilihan tersebut. Pasalnya, tidak sedikit dari mereka yang mencibir tidak tahu alasan di balik pilihan itu.

Pola hidup sehat pun saya jalani. Rutin meminum air putih dan olah raga sudah menjadi list wajib saya menjalani kehidupan sehari-hari. Tak heran banyak yang memuji bahkan selalu bilang saya diet, padahal saya hanya mencoba memperlakukan tubuh saya secara baik dan berjuang menyembuhkan penyakit saya.

Semua doa, semua cara dan perubahan pola hidup akhirnya berhasil. Hari demi hari benjolan pun mengecil. Saya menyadari bahwa vonis kanker ini membawa saya ke pilihan-pilihan terbaik bagi hidup saya. Segala proses saya lalui dan nikmati dengan rasa syukur yang luar biasa. Terutama, saat di mana saya menikah dan sekarang dikaruniai anak perempuan yang begitu cantik.

Lucunya, selama proses kehamilan saya sangat suka dengan daging merah. Sayur dan buah malah jadi list terakhir untuk dimakan. Dokter saya berkata selama tidak ada penolakan pada tubuh, sah-sah saja jika saya ingin mengkonsumsi protein apa pun. Alhamdulillah, saya bisa melalui proses kehamilan dengan lancar. Setelah bayi saya lahir, saya pun mampu memberikan ASI serta ASIP untuk buah hati saya. Tidak ada kendala dalam proses ini dan semua ketakutan yang selama ini selalu membayangi saya pun sirna.

Saya yang berjuang untuk memilih hidup sehat akhirnya mendapatkan hadiah yang luar biasa, menjadi seorang perempuan berkeluarga dan bisa memberikan ASI eksklusif kepada sang buah hati.

Semua badai yang telah ataupun akan datang percayalah semua itu akan berlalu pada waktu yang tepat.

And, if you ever meet someone who has chosen a different way of life, please, respect and appreciate them. Because, behind this decision there might be a thousands reasons and struggles that they must go through that you might not know about.

Penulis : Karina Ramadhani
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *