Love Yourself First Before Loving Others

Saat masih remaja dulu, saya memang merasa agak berbeda dengan teman-teman perempuan saya pada umumnya. Saya canggung, dingin, muka minim ekspresi, tomboi, jalan kaku seperti robot, socially awkward, dan tidak mempunyai cerita mengenai jatuh cinta seperti remaja pada umumnya. Pernah saya menyukai seseorang, tapi saya malah menganggap itu sebagai hal yang luar biasa dan merasa aneh sendiri. Semua selalu saya pendam sendiri, bahkan kepada orang terdekat saya. Susah rasanya untuk berekspresi secara bebas seperti teman-teman perempuan saya.

Pada akhirnya, kadang saya membanding-bandingkan diri dengan mereka. Kenapa saya tidak bisa seperti mereka? Bukankah perempuan seharusnya bisa bersikap lebih atraktif? Alhasil, saya selalu melawan diri sendiri yang berujung pada rasa tidak percaya diri.

Namun, di balik sikap awkward yang kaku itu, saya senang membuat orang tertawa bahkan sampai sakit perut dan terpingkal-pingkal. Melihat orang tertawa lepas dan bahagia, saya pun ikut merasakan bahagia. Melalui tawa, emosi antara satu sama lain dapat melebur menjadi perekat suatu hubungan. Karena saya cenderung introvert, saya pun hanya bercanda dan mengeluarkan candaan dengan orang-orang terdekat.

Namun, semua berubah ketika saya memasuki masa SMA, di mana saya dan teman-teman baru belum saling mengenal satu sama lain. Saat itu, ada sekelompok anak laki-laki di kelas, jika saya jalan lewat mereka selalu berbisik-bisik sambil melihat ke arah saya. Kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak. Bukan sekali atau dua kali, tapi setiap kali. Namun, yang saya lakukan hanya diam; tidak melawan.

Selain menertawakan di belakang, salah satu dari mereka ada yang berceloteh “Ris, ada salam nih dari si X”. Lalu saat si X mendengar, kontan dia teriak “Idih, amit-amit!” Lalu, mereka kembali tertawa bersama. Tak kuat lagi, saya pergi ke kamar mandi dan menangis d sana. Cuma itu yang bisa saya lakukan saat itu; hampir setiap harinya. Selain itu, pernah saat ada pembagian kelompok, salah satu dari mereka berkata, “Haha, untung gak sama si Iris.”

Satu hal yang paling membuat saya kesal dan geram adalah mereka tidak mengenal saya secara pribadi, tapi bersikap seperti itu. Entah apa alasan mereka melakukannya. Apakah hanya untuk kesenangan belaka? Apakah harus menyenangkan diri dengan membuat sedih orang lain terlebih dahulu? Entahlah; karena saya tidak pernah sekali pun merasa telah merugikan mereka sebelumnya. Dalam keadaan seperti itu, saya hanya bisa mengambil sikap membiarkan.

Ya, membiarkan suatu perundungan.

Pada saat yang sama, saya merasa sangat rendah diri dan akhirnya saya jadi tidak menghargai diri sendiri. Saya malah melabeli diri sendiri dengan hal-hal buruk. Ya, saat itu saya malah membenci diri sendiri.

Melihat saya yang tidak pernah bersemangat mengenai sekolah, berbeda saat masih duduk di bangku SMP, ibu saya akhirnya bertanya apakah saya ada masalah. Selama ini saya memang menutupi semua masalah ini kepada beliau. Akhirnya, saya ceritakan semuanya; semua yang saya alami sampai pada hal saya menangis hampir setiap hari di kamar mandi. Setelah mendengar semuanya, beliau tidak banyak bicara. Ibu hanya berkata, “Pertama, hargai dan sayangi diri kamu sendiri. Kalau diri sendiri saja tidak mau menghargai, bagaimana dengan orang lain?”

Kalimat yang mengandung tamparan keras untuk saya pribadi. Karena pada akhirnya, saya sadar, menyalahkan orang lain atau diri sendiri adalah suatu sikap yang sama-sama salah. Seharusnya, selama ini saya perbaiki diri sendiri untuk kehidupan yang lebih menyenangkan.

Akhirnya saya coba bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh mindset yang nyatanya selama ini terkekang di dalam satu ruang. Padahal, masih ada biliun ruang lainnya. Lalu, saya berpikir, bahwa selama ini ternyata saya hanya ‘salah masuk kamar’ lalu terkunci.

Singkat cerita, setelah menyadari semua itu hal yang pertama saya lakukan adalah bergerak dan bertanya secara langsung pada mereka secara tegas kenapa selama ini mereka berbuat seperti itu. Di luar dugaan, beberapa dari mereka terkesan seperti takut dan tidak mau menatap mata saya. Lalu terlontarlah kalimat dari salah satu anak, “Maaf, ya untuk lucu-lucuan aja sih.” Kalimat itu justru membuat saya geram, karena selama ini saya merasa menderita hanya untuk sekadar ‘Lucu-lucuan’ bagi segelintir orang. Namun, di sisi lain saya lega, karena alasannya bukan karena saya mempunyai salah atau telah merugikan mereka. Ya… siapa tahu jika sebelumnya saya telah menyakiti hati mereka secara tidak sadar makanya mereka berbuat seperti itu. Namun, syukurlah nyatanya tidak.

Hal yang selanjutnya saya lakukan adalah lebih memfokuskan diri pada kegiatan positif yang saya sukai. Saya aktif tergabung dalam organisasi, dan dengan seiring berjalannya waktu teman-teman saya semakin banyak. Kami semua merasa nyaman untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Sikap teman-teman yang dulu melakukan perundungan terhadap saya pun berubah menjadi baik, bahkan sampai saat ini. Mereka menjadi seperti itu bukan tanpa alasan.

Alasan utama yang sangat saya rasakan adalah karena saya lebih menghargai diri dan membuang rasa benci pada diri sendiri. Saya menjadi lebih terbuka dan bersemangat, tapi tetap menjadi diri sendiri. Memang benar, pada akhirnya orang akan merasa nyaman pada individu yang nyaman terhadap dirinya sendiri.

Saya sangat bersyukur pada Tuhan, bahwa sampai saat ini saya mempunyai beberapa sahabat baik, serta banyak teman dari berbagai latar belakang. Bagi saya, mereka adalah hadiah dari Tuhan setelah melewati proses perundungan dan ‘tak menghargai diri sendiri’. Selama menghargai diri sendiri, otomatis orang lain akan menghargai kita. Setiap orang pasti mempunyai kekurangan, jadi jangan pernah merasa rendah diri. Yang sebaiknya kita lakukan adalah terus berefleksi agar menjadi individu yang lebih baik lagi—dengan tetap menjadi diri sendiri apa adanya.

Untuk para pelaku perundungan, sebenarnya kondisi mental mereka pun mengkhawatirkan tanpa disadari. Karena rata-rata pelaku perundungan adalah orang yang tak puas dengan hidupnya sendiri, maka hidupnya terfokus untuk kehidupan orang lain dalam hal yang negatif.

Do love yourself first before loving others.

Penulis: Iris Herga
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *