Merajut Mimpi Kembali

Aku adalah seorang ibu bagi gadis kecilku, anak bagi kedua orang tuaku, creative director bagi rumah modeku.

Namaku Dharmesta, usiaku 31 tahun.

Aku adalah wirausahawan akibat perceraian. Buatku, perceraian kurang indah untuk didengar. Jadi, aku menyebutnya perpisahan; perpisahanku dengan ayah anakku yang menjadi awal sebuah karir baru dalam hidupku. Saat awal perpisahan aku merasa bersalah dan sangat terpuruk. Di saat-saat terberat itu, aku mengambil sebuah keputusan yang mengubah kehidupanku: merajut kembali mimpiku.

Dalam sebuah perjalanan rekreasi hati, aku bertemu dengan pengrajin tas kulit ular yang hampir bangkrut. Pengrajin itu adalah seorang ibu dan pekerjanya juga perempuan. Pada saat bersamaan, sangat sulit bagiku mempertahankan karir sebagai orang tua tunggal. Maka, aku pun memutuskan untuk menjadi wirausahan dengan menjual tas-tas kulit dari pengrajin tersebut. Dari tabunganku, aku memodali kembali pengrajin itu, dengan kata lain aku mengakuisisi usahanya.

Produk pertama kami, aku berikan secara gratis kepada beberapa kolegaku. Dan, pada akhirnya, produk kami dipesan oleh pengusaha fashion asal Itali yang secara tidak sengaja bertemu ketika aku mengantarkan produkku kepada salah satu temanku.

Dua tahun berjalan, aku pun dapat berkontribusi di lingkungan rumahku. Sebagai seorang perempuan dan ibu, aku ingin berkomitmen dan berkontribusi kepada pemberdayaan perempuan yang berada di sekelilingku. Maka, aku pun mengadakan pengajian dan kelas belajar gratis bagi ibu-ibu yang kurang mampu. Mereka yang awalnya tidak mengenal huruf, kini bisa membaca dan mengaji. Dan di workshopku, aku mengedukasi para ibu juga belajar mengenai pola hidup sehat. Kuajari juga para pekerjaku cara menggunakan smartphone, sehingga mereka bisa berjualan pulsa dengan memanfaatkan gawai tersebut.

Namun, pada tahun ketiga, pengusaha Itali yang selalu membeli tas dari kami bangkrut akibat dampak krisis ekonomi yang terjadi di Eropa. Akhirnya, aku memutuskan untuk berusaha menjual tasku di ranah lokal. Tasku yang dulu tak barlabel (karena dijual ke pebisnis di Italia), kini memiliki label sesuai dengan namaku “Dharmesta”. Tahun depannya, aku mengikuti Indonesia Fashion Week dan bertemu dengan maestro fashion designer lokal, Musa Widyatmodjo yang kebetulan adalah ketua panitia acara tersebut. Aku memberanikan diri untuk meminta bergabung di department store yang beliau kelola di salah satu mall di Kelapa Gading Jakarta Utara. Beliau memintaku untuk datang ke kantornya di daerah Kemanggisan Jakarta Barat. Setelah melewati kurasi, beliau setuju untuk aku bergabung.

Itu adalah outlet pertamaku di Indonesia. Saat itu, hasil berjualan di Indonesia jauh berbeda dengan saat aku ekspor. Namun, aku tidak menyerah, terutama karena aku juga harus berusaha untuk anak semata wayangku, ibu-ibu pekerja, dan bahkan komunitasku. Aku ingin terus bisa berkarya untuk diriku sendiri dan mereka yang selalu mendukungku.

Kemudian, aku mendapatkan kesempatan besar. Pak Musa menghubungi dan mengajakku berkolaborasi di Jakarta Fashion Week 2017. Tanpa pikir panjang, aku menyanggupinya walaupun hanya memiliki waktu tiga bulan. Setelah show dan kolaborasi yang sukes, tidak lama berselang, Pak Musa kembali menawarkanku untuk bergabung di department store barunya di Kemang, Jakarta Selatan.

Aku bersyukur dengan banyaknya tawaran yang berdatangan. Saat ini, aku sudah memiliki 3 outlet. Aku berkesempatan untuk ekspor kembali ke Korea Selatan dan New Zaeland; juga membuka butik di Ubud dengan bekerja sama dengan pengusaha lokal di sana. Akhirnya, aku berhasil mengadakan show sendiri dengan merekku pada April 2017.

Aku pun mulai bergerak menggunakan konsep sustainable fashion yang mungkin tak terlalu dikenal di kalangan masyarakat Indonesia sendiri. Aku mengembangkan rumah produksiku untuk tidak hanya membuat tas, tapi juga aksesoris dan pakaian yang ramah lingkungan. Aku memproduksi tas kulit ular yang pewarnaannya aman; juga legal karena aku bekerja sama dengan peternakan ular di Indonesia. Dengan usaha panjang, aku berhasil mendapatkan sertifikat yang menyatakan produkku aman bagi tubuh manusia dari Uni Eropa. Tahun 2018 ini rumah modeku berkomitmen untuk terlibat dalam sustainable business. Selain profit, bisnisku juga mengedepankan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan sosial yang layak bagi orang-orang di sekelilingku maupun para pengguna produkku.

Memasuki tahun keempat, aku mulai mengembangkan bisnisku ke ranah lain dan tetap mengedepankan perempuan sebagai tim kerjaku. Sebagai perempuan yang harus menanggung biaya rumah tangga, dan mendidik anak sendirian, aku ingin berbagi dengan banyak perempuan yang tidak seberuntung diriku di luar sana. Aku ingin agar para pekerjaku dan keluarganya hidup sejahtera. Aku tidak ingin rumah modeku sekadar menjadi tempat kerja, tapi juga menjadi tempat untuk mereka memperbaiki taraf hidup. Maka, sebenarnya masih sangat panjang jalanku untuk mengembangkan usahaku.

Dalam perkembangannya, bisnisku pun tidak seindah film-film drama. Baru-baru ini aku mengalami kerugian dalam usaha clothing line yang baru kugeluti. Ditipu, dibohongi, dikecewakan, tidak dibayar; semua pernah kualami. Bahkan, aku pernah mendapata hinaan dari salah satu pengrajin sepatu dan produkku dijadikan bahan bulan-bulanan. Akan tetapi, semua batu sandungan itu justru membuatku lebih kuat berjalan. Itu adalah proses introspeksi diri dan belajar berkarya lebih baik lagi, serta proses pendewasaan bagi bisnis dan diriku sendiri. Saat sedang mengalami kesulitan, aku kembali mengingat tujuan Tuhan menciptakanku serta risiko keputusanku yang lalu, yaitu pilihan untuk berpisah dan berjuang untuk anak serta kehidupanku.

Ternyata perpisahanku membawaku ke dalam sebuah pekerjaan yang aku impikan sejak kecil: mempunyai rumah mode dan menjadi fashion designer. Aku sungguh menikmati hal itu sebagai sebuah berkah yang luar biasa. Aku percaya, jika kita membiarkan Tuhan berkarya dalam diri kita, Dia akan membawa kita kepada hal-hal yang tidak pernah kita sangka sebelumnya dalam keyakinan dan prasangka baik terhadap-Nya.

Kini, “Dharmesta” merupakan hasil buah karya segelintir perempuan Indonesia yang menjadi penopang ekonomi keluarga. “Dharmesta” telah memberiku banyak kesempatan untuk belajar dari siapa pun, di mana pun dan kapan pun. Aku menyadari bahwa memberi ruang bagi orang lain dalam hal apa pun memang dapat mendatangkan kekecewaan, tapi kerelaan untuk melepas adalah obat bagi kekecewaan tersebut.

Terima kasih telah memberikan aku kesempatan untuk bercerita.

Penulis : Dharmesta
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *